Privilese atau Kesialan?

“Sial,” umpat Nadine tanpa sadar. Beberapa orang yang berdiri di dekatnya refleks menoleh mendengar umpatan tersebut. Nadine menebar senyum hambar tanda permohonan maaf karena telah mengganggu konsentrasi beberapa rekan kerjanya yang juga mengikuti briefing pagi. Beruntung Aryo yang kali ini memimpin briefing masih terlalu sibuk membagi tugas sehingga tidak mendengar perkataan kasar Nadine yang memang ditujukan kepadanya.

Seperti biasa, setiap pagi Nadine dan beberapa rekan reporter lainnya memulai hari dengan briefing sebelum turun ke lapangan. Aryo selaku koordinator liputan akan memberikan arahan singkat kepada para reporter mengenai liputan apa saja yang harus dikerjakan sepanjang hari itu.

Setelah lulus masa BDP atau broadcast development program di BC Channel selama satu tahun, Nadine resmi diangkat menjadi news reporter untuk program berita. Sejak saat itu, briefing pagi selalu menjadi saat yang menggairahkan bagi Nadine. Dia selalu menantikan tugas apa yang diberikan kepadanya. Dengan harap-harap cemas Nadine menunggu kesempatan membuat liputan khusus investigasi atau meliput ke daerah bencana, atau liputan khusus mengenai pahlawan-pahlawan yang menginspirasi dan sering kali tidak mendapat sorotan publik. Namun, setelah hampir satu tahun berselang semua keinginan itu belum juga terwujud. Nadine selalu kebagian tugas yang serupa hari demi hari, meliput berita politik.

Nadine yakin semuanya ini bukan karena penilaian kinerjanya yang buruk. Semua orang tahu kualitas seorang Nadine Atmadja yang tergolong masih junior. Lulus cumlaude dari universitas negeri terbaik, kemudian mengikuti BDP BC Channel yang terkenal dengan seleksinya yang cukup ketat dan akhirnya lulus dengan predikat yang membanggakan. Tugas akhir BDP Nadine pun menuai pujian dari para jurnalis senior di BC Channel. Mereka menilai Nadine memiliki potensi menjadi jurnalis hebat di masa depan.

Namun, lagi-lagi Nadine harus menerima kenyataan, tidak semua impiannya bisa berjalan mulus. Rekan-rekan seangkatannya sudah beberapa kali merasakan rolling tugas liputan, Nadine tetap stag meliput berita yang sama. Bahkan, Ayu, rekan seangkatannya yang bisa dibilang jauh di bawah Nadine, sudah pernah membuat liputan berita lingkungan hidup, ekonomi, dan kini sedang mencoba liputan investigasi kriminal. Wajar rasanya jika Nadine mulai mempertanyakan apa yang salah dengan dirinya.

“Oke, teman-teman. Pembagian tugas hari ini selesai. Silakan membuat liputan yang tajam, terdepan, dan tepercaya,” Aryo menutup briefing pagi dengan slogan khas BC Channel disambut dengan tepuk tangan yang sudah menjadi rutinitas harian para pencari berita ini.

Tanpa menunggu lama, Nadine langsung menghampiri Aryo. “Mas Aryo, saya mau bicara sebentar, boleh?”

Aryo melirik Nadine sekilas kemudian kembali fokus dengan kertas kerja di tangannya. “Kenapa, Nad?”

“Soal liputan, Mas,” Nadine mencoba membuka pembicaraan dengan agak ragu. “Saya kenapa kebagian liputan berita politik terus, ya? Teman-teman seangkatan saya yang lain sudah beberapa kali rolling. Kalau boleh, saya juga ingin coba liputan berita lain, Mas.”

Pandangan Aryo masih terpaku pada lembar kerja di tangannya. Nadine mulai gemas dan menghela napas panjang. “Mas?”

“Kenapa memangnya mau pindah?” Aryo menyelesaikan aktivitasnya dan menurunkan kertas kerja kemudian menatap Nadine.

Semua orang di BC Channel tahu, Aryo Sumirat adalah leader yangtegas dan jarang mau dibantah. Itu semua sepadan dengan reputasinya yang sudah malang-melintang di dunia jurnalistik. Seharusnya Aryo sudah bisa menempati posisi yang lebih tinggi dan lebih banyak bekerja di belakang layar. Namun, passion-nya bekerja di lapangan lebih tinggi. Itulah sebabnya, sekalipun hanya menjabat sebagai koordinator liputan, petinggi-petinggi di BC Channel menaruh respek kepadanya.

Bagi BC Channel, Aryo adalah panutan. Bagi Nadine, Aryo tak lebih seperti batu sandungan. Dan ditatap intens oleh atasannya itu sempat membuatnya gentar.

“Hmm … saya ingin coba yang lain, Mas. Bagaimana kalau saya coba membuat liputan soal isu sengketa lahan yang akan dibuat ruang terbuka hijau itu, Mas. Selama ini pemberitaannya masih simpang siur, kita bisa buat liputan yang lebih mendalam, khas BC Channel.”

“Menarik, tapi itu isu lama,” jawab Aryo datar. “Paling kalau diberitakan juga cuma jadi tambahan di segmen berita pagi atau siang.”

“Atau saya bisa bantu Ayu bikin liputan investigasi kriminal, Mas.” Nadine masih belum menyerah dengan usahanya.

“Bosan kamu bikin liputan politik?” tanya Aryo. Nada suaranya mulai terdengar gusar.

“Bukan gitu, Mas, tapi saya ingin coba hal baru, supaya lebih berkembang, mungkin?”

Aryo mengerutkan kening. Dia membuka mulut sebentar seolah ingin membalas ucapan Nadine, tetapi tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Dia malah mengedikkan kepala, meminta Nadine mengikutinya berjalan.

Dengan terburu-buru Nadine mengikuti langkah atasannya itu berjalan meninggalkan ruang meeting menuju ruang kerja pribadinya.

“Nad, gue tahu lo orangnya ambisius banget, kepingin belajar banyak hal, nggak cepat puas dengan apa yang lo kerjakan sekarang,” Aryo kembali membuka suaranya.

Tinggal mereka berdua di ruangan yang sepenuhnya dikelilingi kaca buram itu. Aryo kini bicara lebih santai. Dia menghempaskan tubuhnya ke kursi dan melempar kertas kerja yang sejak tadi dipegangnya ke meja.

Sekilas Nadine memperhatikan tumpukan kertas yang tampak tidak beraturan di meja. Mulai dari rencana kerja liputan, beragam skrip dari berbagai periode, hingga laporan ratingyang seharusnya sudah dimusnahkan tampak menggunung dan mengganggu pemandangan. Nadine heran, bagaimana Aryo bisa mengatur itu semua tanpa ada sedikit pun kesalahan.

“Tapi gue bukannya nggak punya alasan kenapa lo selalu gue kasih jatah liputan politik.”

“Kenapa, Mas?”

“Karena dengan latar belakang lo, lo harusnya bersyukur punya akses lebih untuk mendapatkan berita politik yang lebih akurat daripada yang lain.”

Nadine mengembuskan napasnya keras, tidak peduli kini dia berhadapan dengan atasannya. Dia sudah jemu disebut beruntung karena memiliki privilese sebagai anak seorang politisi terkenal. Mungkin dia memang mendapatkan kemudahan dalam banyak hal, tapi itu tidak serta-merta membuatnya dengan mudah memanfaatkan koneksi sang ayah.

“Itu lagi deh alasannya. Saya juga kan ingin belajar hal baru, Mas. Dari kecil lihat orang-orang partai mondar-mandir depan mata, nungguin Papa rapat di sana-sini, masa sekarang setelah kerja pun masih harus menghadapi hal yang sama.” Nadine masih berusaha mengajukan argumennya.

“Ya bagus dong, jadinya lo nggak usah susah-susah adaptasi lagi, kan?”

“Tapi kan, kalau seperti ini terus apa kabar dengan cita-cita saya, Mas?”

“Jadi news anchor maksud kamu?”

Nadine mengangguk. Sudah bukan rahasia lagi di mata Aryo bahwa juniornya ini memiliki ambisi besar untuk menjadi seorang pembawa berita. Dan di matanya Nadine memiliki peluang besar untuk itu. Selain cerdas dan cepat belajar, Nadine cukup good looking untuk tampil di depan kamera.

“Kalau sekarang ada posisi kosong atau rekrutmen news anchor, gue akan dengan yakin kasih lo rekomendasi, Nad. Tapi sekarang gue butuh lo untuk hal lain. Lo tahu kan bentar lagi akan diumumkan siapa-siapa saja yang akhirnya maju untuk pilkada, gue butuh lo untuk bisa dapat info yang lebih cepat. Ngerti kan maksud gue?”

Pada akhirnya Nadine tahu ke mana arah pembicaraan ini bermuara. Atasannya ini berharap Nadine bisa mendapatkan informasi-informasi yang sifatnya rahasia dan sangat dijaga agar tidak bocor ke publik. Dengan posisinya sebagai anak seorang politisi, Nadine dianggap bisa mendapatkan akses khusus untuk mendapatkan informasi tersebut lebih dulu dari yang lain. Ditambah lagi soal kemungkinan ayahnya positif menjadi calon kuat yang diusung partai-partai besar untuk maju dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta periode berikutnya.

“Dan lagi tugas liputan lo sekarang nggak akan membosankan, kok.” Aryo beranjak dari duduknya, seakan memaksa Nadine tidak memperpanjang pembicaraan.

“Lo sekarang liputan ke kantor Partai Indonesia Membangun. Buat berita menarik soal alasan partai ini berkoalisi dengan Partai Merah Putih dan memberi suara penuh kepada Teddy Atmadja. Papa kamu.”

Dengan berat hati Nadine ikut bangkit dan menyeret langkahnya kembali mengikuti atasannya itu. “Ini sih sama saja saya harus bikin liputan soal Papa juga, dong.”

Aryo tersenyum lebar. “Nah itu kamu ngerti, Nad. Anggap saja ini bentuk dedikasi kamu sama perusahaan.”

Nadine mendengus kesal. Mereka semua bilang ini privilese,tapi lagi-lagi Nadine menganggapnya kesialan belaka.

***

“Gue pikir teman liputan gue hari ini bakalan ganti, tahunya masih lo lagi-lo lagi, Nad,” sindir Nico yang disambut cibiran kesal Nadine.

“Nggak usah banyak protes deh, mending cek tuh kamera, gue nggak mau kita masih nunggu kamera siap di depan narsum.”

“Ya elah galak bener, Nad,” sahut Nico sambil bersiap dengan kameranya. Maksud hati hanya ingin bercanda, apa daya suasana hati rekan kerjanya itu sedang tidak bisa diajak kompromi. “Udah sabar saja dulu, mungkin memang masih rezeki lo partneran bareng gue tongkrongin kantor partai kayak gini. Lihat sisi positifnya, Nad.”

“Apaan?”

“Yah at least yang lo temui sekarang masih cowok ganteng berdasi dan wangi, bukan preman pasar yang habis nyiksa anak istrinya terus bisa saja ngamuk waktu disorot kamera.”

“Ada-ada aja lo, Nic.” Nadine mau tidak mau tersenyum melihat usaha kamerawan sekaligus partner in crime-nya di kantor ini untuk membuat mood-nya kembali cerah.

“Tuh narsum kita udah datang. Benar kan kata gue, hoki lo hari ini, tumben ada orang partai masih muda terus ganteng gitu, tipe lo bukan, Nad?”

Nadine mengikuti arah pandang Nico. Dan orang yang tadi Nico sebut-sebut ganteng, narasumber dari partai politik yang akan Nadine liput memiliki wajah yang tidak asing.

Nadine kini yakin laki-laki itu memang tidak asing. Terutama ketika dia telah berdiri di hadapannya, dengan jarak sedekat ini cukup jelas baginya untuk melihat senyumnya. Senyum asimetris yang dulu pernah begitu memikat, tetapi di saat yang sama menjadi satu-satunya hal yang ingin dia lupakan.

“Nadine, ya?” tanya laki-laki itu dengan suara yang membangkitkan kembali memori yang telah lama Nadine kubur. “Nadine Atmadja, kan?”

Nadine masih berdiri terpaku berusaha mencerna situasi ini dengan baik.

Laki-laki bertubuh tinggi tegap dan berpakaian rapi itu kini mengulurkan tangan. “Saya Ben. Benjamin Wiratama, humas Partai Indonesia Membangun. Kamu masih ingat saya, kan?”

Jelas ingat. Seberapa keras pun Nadine berusaha mengubur segala hal yang berhubungan dengan laki-laki di hadapannya ini, hanya dengan sebuah senyuman berhasil mengingatkannya kembali.

Dan Nadine tidak tahu, pertemuannya dengan Ben ini merupakan privilese ataukah kesialannya yang lain.

Comment 0