Petugas memeriksa meteran listrik pelanggan, ilustrasi. Konsumen listrik PLN kembali mengeluhkan soal tingginya tagihan listrik bulan Juni 2020.
Petugas memeriksa meteran listrik pelanggan, ilustrasi. Konsumen listrik PLN kembali mengeluhkan soal tingginya tagihan listrik bulan Juni 2020.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tagihan listrik bulan Juni sudah keluar. Namun, tak sedikit masyarakat yang masih menjerit tagihan listrik mereka masih membengkak.

PT PLN (Persero) mengatakan masih tingginya tagihan listrik masyarakat tak lain karena memang konsumsi masyarakat masih tinggi karena pemerintah masih memberlakukan pembatasan sosial. Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN Bob Saril menjelaskan tagihan listrik bulan Juni kemarin memang merupakan pencatatan pemakaian listrik masyarakat selama sebulan kebelakang.

Ia menjelaskan memang secara data yang dimiliki PLN, konsumsi listrik masyarakat masih tinggi, meski tak setinggi bulan Mei kemarin. "Masih PSBB kan, pemakaian masih sama seperti bulan sebelumnya. Betul (konsumsi listrik rumah tangga masih besar) tapi tidak setinggi pada rekening bulan Mei," ujar Bob, Sabtu (4/7).

Bob menjelaskan tagihan yang masih bengkak juga disinyalir karena adanya tunggakan bulan bulan sebelumnya yang PLN tagihkan secara bertahap pada bulan ini. "Kalau cicilan kan tambahan. Digabungkan dengan pemakaian bulan berjalan. Waktu penyelesaian disampaikan berapa cicilannya, tinggal dikurangi saja," jelas Bob.

Jika masih memiliki keluhan, imbuhnya, pelanggan bisa melaporkan atau memverifikasi keluhannya itu ke kanal-kanal pengaduan yang disiapkan oleh PLN. "Ke call center 123, atau kantor PLN setempat. Atau melalui medsos resmi PLN 123," tutur Bob.

Comment 0