Arsitek Harjono Sigit ayah Maia Estianty. ©2020 Merdeka.com/Instagram @harjonosigit
Di dunia arsitektur Indonesia, nama Harjono Sigit sudah tidak asing lagi. Khususnya di Jawa Timur, arsitek yang juga ayah dari penyanyi Maia Estianty ini dikenal sebagai arsitek pembaharu di wilayah setempat. Beberapa bangunan penting di Jawa Timur dirancang dari buah pikirnya.

Di dunia arsitektur Indonesia, nama Harjono Sigit sudah tidak asing lagi. Khususnya di Jawa Timur, arsitek yang juga ayah dari penyanyi Maia Estianty ini dikenal sebagai arsitek pembaharu di wilayah setempat. Seperti dikutip dari arsitekturindonesia.org, beberapa bangunan penting di Jawa Timur dirancang dari buah pikirnya.

Sosok Harjono Sigit sebagai pembaharu disebut-sebut punya kaitan erat dengan lingkungan keluarganya. Diketahui, Harjono merupakan cucu HOS Tjokroaminoto. Guru bagi banyak tokoh penting Indonesia seperti Soekarno, Muso, Alimin, Semaoen, hingga Kartosuwiryo. Selain itu, kakeknya juga turut menginisiasi berdirinya organisasi Sarekat Islam.

Hobi Menggambar Sejak Kecil

©2020 Merdeka.com/Instagram @harjonosigit

Arsitek pembaharu ini lahir di Madiun pada 21 September 1939. Ia menghabiskan masa kanak-kanak hingga SMA-nya di tanah kelahiran. Sesekali ia berkunjung ke rumah para saudaranya di Kota Surabaya.

Di sana, Harjono kecil melihat beragam bangunan dengan arsitektur yang memikat mata kanak-kanaknya. Kekagumannya pada bentuk-bentuk bangunan sekaligus kecintaannya pada dunia gambar sejak kecil membuatnya memilih jurusan arsitektur. Ia kemudian menimba ilmu arsitektur di Technische Hoogeschool te Bandoeng yang sekarang kita kenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB), seperti dilansir ayorek.org.

Sejarah Nama Harjono Sigit

©2020 Merdeka.com/Instagram @harjonosigit

Harjono kecil sebenarnya memiliki nama yang hanya terdiri dari satu kata. Kata “Sigit” baru ia cantumkan di belakang namanya selepas ia lulus kuliah.

Ia memilih melengkapi namanya dengan “Sigit Bachroen Salam” yang menurut pengisahannya merupakan nama sang ayah. Kendatipun memiliki nama asli Harjono, orang-orang di sekelilingnya justru lebih banyak yang menyebutnya sebagai Pak Sigit.

Kembali ke Jawa Timur

©2020 Merdeka.com/Instagram @harjonosigit

Selepas kuliah, Harjono lekas kembali ke Jawa Timur. Pasalnya, kebutuhan akan profesi arsitektur di Surabaya sangat tinggi. Harjono memutuskan mengambil bagian penting dalam perkembangan arsitektur di Jawa Timur.

Beberapa bangunan penting di wilayah setempat lahir dari buah pikiran Harjono Sigit. Salah satunya yakni Gedung Pusat Penelitian dan Auditorium Semen Gresik. Tidak hanya itu, Harjono Sigit juga salah satu penggagas berdirinya jurusan Arsitektur di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Proyek Pertama yang Menantang

©2020 Merdeka.com/Instagram @harjonosigit

Proyek dari Semen Gresik itu merupakan proyek besar dan menantang yang pertama dikerjakan oleh Harjono sebagai lulusan segar atau fresh graduate. Namun, rupanya ia bisa membuktikan kemampuannya pada rancangan bangunan yang ia bikin.

Harjono tidak hanya menyelesaikan persoalan fungsi dan komposisi estetis bangunan. Tetapi mendorong lebih jauh kemampuan untuk membaca konteks, menjelajah pemahaman, mengkalkulasi, dan mengartikulasikan cara menerapkan sistem struktur bangunan yang tidak biasa di lapangan. Keberanian inilah yang secara konsisten ia lakukan sehingga menjadi karakter khas yang dapat dibaca pada karya-karyanya yang lain.

Perjalanan Karier Harjono Sigit

©2020 Merdeka.com/arsitekturindonesia.org

Sekembalinya ia ke Jawa Timur, bersama sang kakak, Harjono mendirikan biro konsultan perancangan dengan nama CV. Bina Wisma.  Perusahaan ini berkantor di Jalan Pucang Anom Timur nomor 11.

Pada saat yang sama, ia juga mendapatkan tawaran dari rekan sejawatnya di ITB, Ir. Djelantik yang ketika itu mengemban tugas dari Rektor ITS sebagai ketua Panitia Pendirian Fakultas Teknik Arsitektur ITS, untuk merintis format penyelenggaraan pendidikan arsitektur pertama di Surabaya.

Arsitektur Modern Khas Indonesia

©2020 Merdeka.com/arsitekturindonesia.org

Rancangan bangunan Gedung Pusat Penelitian dan Auditorium Semen Gresik di Jawa Timur itu digarap Harjono selepas ia lulus menjadi insinyur dari jurusan Arsitektur ITB, tepatnya pada 1964. Di eranya, arsitektur modern sangat dielu-elukan di tataran global.

Tak heran apabila kecenderungan arsitektur global itu juga mencuat di lingkungan Arsitektur ITB. Harjono dikenalkan dengan banyak arsitektur modern. Di sisi lain, para dosennya juga menekankan pentingnya berpijak pada kondisi tropis Indonesia.

Perpaduan kedua unsur itulah yang menjadi ciri khas bangunan-bangunan rancangan Harjono. Selain kental dengan unsur kemodernan, ia juga mempertimbangkan bangunannya supaya sesuai dengan iklim tropis Indonesia.

Rancangan Bangunan ala Harjono Sigit

©2020 Merdeka.com/arsitekturindonesia.org

Salah satu bagian bangunan Gedung Pusat Penelitian dan Auditorium Semen Gresik di Jawa Timur berupa kotak besar yang tampak melayang dari kejauhan. Kotak itu dinaungi selembar atap yang digantung pada sebilah busur beton raksasa di atasnya.

Sementara, bagian lantainya diangkat oleh kolom-kolom pilotis berbentuk huruf V. Beradaptasi pada kondisi kontur tapak, menyisakan ruang kosong untuk parkir kendaraan di bagian bawah. Bagian bangunan ini sangat khas sebagai arsitektur modern.

Selanjutnya, pada bangunan tersebut, Harjono memperbanyak daerah bayangan. Seperti menjauhkan jendela dari terpaan cahaya matahari secara langsung. Ini menjadi bagian dari responsnya terhadap iklim tropis Indonesia.

Karya-Karya Agung Harjono di Jawa Timur

©2020 Merdeka.com/arsitekturindonesia.org

Berikut ini karya-karya rancang bangunan Harjono Sigit di Jawa Timur sepanjang decade 1960 hingga 1980. Semuanya menunjukkan kematangannya sebagai seorang arsitek andal yang berwawasan global sekaligus tidak pernah melupakan konteks keindonesiaan.

Mulai dari penerapan struktur pilotis pada kantor Penggilingan Padi PT. Mentras Pasuruan (1967), struktur balok beton ekspos pada Laboratorium Penelitian Kimia di Jalan Jagir Surabaya (1967), struktur kayu bentang panjang pada Gedung Pertemuan Pemangku Kehutanan Randublatung (1968).

Selanjutnya, struktur cangkang conoida pada atap gerbang masuk Kantor Direksi Perhutani Divisi Regional Jawa Timur (1972), struktur hyperbolic paraboloid pada atap pintu masuk lobby dan tangga dengan bordes melayang pada pasar atum Surabaya (1977-1982), struktur pondasi hyperbolic paraboloid pada bangunan Masjid Petrokimia Gresik (1981).

Comment 0