Tweet yang diunggah akun @kegblgnunfaedh tengah banyak disorot 'warganet +62' hingga menimbulkan trending topic 'Gajah Mada'. Cuitan itu berisi sindiran mitos lama yang melarang darah Jawa dan Sunda untuk membangun rumah tangga bersama.

"Satu hal yang harus kamu ingat. Aku Sunda, kamu Jawa. Jadi kita berteman saja ya," ungkap screenshot pesan singkat yang diunggah akun tersebut.

Sebagian warganet pun mengerti maksud dari tweet itu, namun ada yang bingung dan tak memahami apa arti dari pesan singkat itu. Lantas apa sih maksudnya?

Emang kenapa? pic.twitter.com/KVAqF58QeH

— Kegoblogan.Unfaedah (@kegblgnunfaedh) July 12, 2020

Mitos itu ternyata muncul setelah tragedi Perang Bubat yang terjadi pada sekitar abad ke-14, yang berlangsung di masa pemerintahan Raja Majapahit, Hayam Wuruk. Perang ini berdampak besar bagi kehidupan etnis Sunda dan Jawa pada saat itu. 

Perang itu berawal dari perselisihan antara Patih Gajahmada dari Majapahit dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda, di Pesanggrahan Bubat. Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda, dengan ada niatan politik untuk mengikat persekutuan dengan Negeri Sunda. 

Atas restu dari keluarga kerajaan Majapahit, Hayam Wuruk lalu mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamar Dyah Pitaloka. Rombongan Kerajaan Pajajaran kemudian berangkat ke Kerajaan Majapahit dan diterima di Pesanggrahan Bubat. 

Sayangnya, Gajah Mada yang kala itu menjabat sebagai mahapatih, berniat menyerang mereka. Hal tersebut dilakukan guna memenuhi Sumpah Palapa dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan di seluruh Nusantara.

Upacara pernikahan yang direncanakan digelar di Majapahit, membuat pihak dewan kerajaan Negeri Sunda sendiri sebenarnya keberatan, terutama Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati. Sebab, dianggap tidak lazim pihak pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin lelaki.

Meski demikian, Linggabuana beserta rombongan Sunda memutuskan untuk tetap berangkat ke Majapahit, dan bakal diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat. Membawa hanya sedikit prajurit, timbul rencana Mahapatih Gajah Mada untuk mengalahkan Kerajaan Sunda. 

Gajah Mada pun akan menganggap kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat sebagai bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit. Lantas terjadi perselisihan antara rombongan Sunda dengan Gajah Mada, di mana Linggabuana memaki Gajah Mada karena ditipu kedatangan mereka ternyata dianggap sebagai tanda kekalahan dan mengakui superioritas Majapahit, bukan karena undangan pernikahan.

Maka, terjadilah duel tak seimbang antara Gajah Mada dengan pasukannya besar, melawan Linggabuana dengan rombongan pengawal kerajaan dengan jumlah kecil yang melindungi para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu.  Linggabuana, para menteri, pejabat kerajaan beserta segenap keluarga kerajaan Sunda pun gugur dalam insiden itu.

Dyah Pitaloka konon melakukan bela pati, alias bunuh diri untuk membela kehormatan bangsa dan negaranya. Tindakan itu dilakukan oleh para perempuan kasta tersebut ketika pasangan atau kaum laki-lakinya telah gugur, guna melindungi kesucian mereka. Dengan tewasnya anggota keluarga Kerajaan Pajajaran, Pangeran Niskalawantu Kancana yang ditinggal di istana kemudian diangkat jadi penerus tahta.

Peristiwa itu merusak hubungan kedua kerajaan. Kemudian, Kerajaan Pajajaran melarang penduduknya menikah dengan orang dari luar kerajaan. Sebagian orang menafsirkan aturan ini sebagai larangan untuk menikah dengan orang dari Kerajaan Majapahit atau keturunan Jawa. 

Sayangnya, sentimen itu hingga kini masih melekat. Hal itu terbukti dengan tidak adanya jalan “Gajah Mada” atau “Majapahit” di provinsi Jawa Barat. Informasi selengkapnya dapat dibaca DI SINI.

Sebagian orang ada yang mempercayai mitos ini, namun banyak rumah tangga yang membuktikan dapat langgeng meski berbeda suku, asalkan pasangan dan keluarga saling menghargai satu sama lain.

Apa pendapatmu dengan mitos ini? Yuk share di kolom komentar!

Comment 0