Penjelasan Kementan tentang kalung eucalyptus
Virologi Kementan sudah melakukan penelitian sejak 10 tahun lalu dan tak asing dalam menguji golongan coronavirus seperti influenza.

Kementerian Pertanian menggandeng PT Eagle Indo Pharma untuk pengembangan dan produksi kalung eucalyptus atau kayu putih. Penandatanganan perjanjian Lisensi Formula Antivirus Berbasis Minyak Eucalyptus antara perwakilan Balitbangtan dan PT Eagle Indo Pharma (Cap Lang) dilaksanakan di Bogor pada pertengahan Mei.

Kepala Badan Litbang Pertanian Fadjry Djufry mengatakan, langkah kerja sama ini ditujukan sebagai bagian dari usaha pemerintah dan masyarakat dalam menyikapi pandemi Covid-19.

“Para peneliti di Balitbangtan ini juga bagian dari anak bangsa. Mereka berupaya keras menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk bangsanya. Semoga hal ini mampu menjadi penemuan baik yang berguna bagi kita semua,” kata Fadjry dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (4/7).

Eucalyptus selama ini dikenal mampu bekerja melegakan saluran pernapasan, kemudian menghilangkan lendir, pengusir serangga, disinfektan luka, penghilang nyeri, mengurangi mual, dan mencegah penyakit mulut. Minyak atsiri eucalyptus citridora bisa menjadi antivirus terhadap virus avian influenza (flu burung) subtipe H5N1, gammacorona virus, dan betacoronavirus.

Penemuan tersebut disimpulkan melalui uji molecular docking dan uji in vitro di Laboratorium Balitbangtan. Dia menjelaskan, laboratorium tempat penelitian eucalyptus telah mengantongi sertifikat level keselamatan biologi atau bio safety level 3 (BSL 3) milik Balai Besar Penelitian Veteriner.

Virologi Kementan sudah melakukan penelitian sejak 10 tahun lalu dan tak asing dalam menguji golongan coronavirus seperti influenza, betacorona dan gammacorona.

"Setelah kami uji ternyata Eucalyptus sp. yang kami uji bisa membunuh 80%-100% virus mulai dari avian influenza hingga coronavirus. Setelah hasilnya dilihat bagus, kami lanjutkan ke penggunaan nanoteknologi agar kualitas hasil produknya lebih bagus” ujarnya.

Dalam berbagai studi, obat ini hanya cukup 5-15 menit diinhalasi akan efektif bekerja sampai ke alveolus. Artinya, dengan konsentrasi 1% saja sudah cukup membunuh virus 80%-100%.

Terkait dengan banyaknya keraguan terhadap antivirus ini, Fadjry mengatakan, banyak negara yang berlomba-lomba menemukan antivirus corona, begitupun di Indonesia. Pemerintah melalui kementerian dan lembaga (K/L) terus mencoba mencari cara dan menemukan obat untuk mencegah, serta menangani Covid-19 yang masih mewabah di Indonesia.

"Ini bukan obat oral. Ini bukan vaksin. Kami sudah lakukan uji efektivitas, secara laboratorium secara ilmiah kami bisa buktikan,” paparnya.

Comment 0