Ilustrasi Swalayan. foto/istockphoto

Pandemi COVID-19 telah menggerus daya beli masyarakat. Menurut hitung-hitungan dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas), pandemi telah menggerus daya beli masyarakat hingga Rp362 triliun.

Hilangnya daya beli disebabkan oleh berkurangnya jam kerja selama masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di berbagai daerah Indonesia untuk mengantisipasi penyebaran Corona atau COVID-19.

“Pandemi ini mengakibatkan dari 30 Maret 2020 sampai 6 Juni 2020 atau sekitar 10 minggu hilangnya jam kerja yang luar biasa. Ini menghilangkan daya beli sekitar Rp362 triliun,” ucap Kepala Bappenas Suharso Monoarfa dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI, Senin (22/6/2020).

Suharso mengatakan, kehilangan daya beli dialami secara merata, baik di kalangan pekerja sektor industri manufaktur maupun Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). 

Anjloknya daya beli masyarakat berpengaruh pada kinerja industri ritel. Ketua Umum Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey memperkirakan industri ritel hanya akan tumbuh 3-3,5 persen pada tahun ini. Angka itu berarti turun lebih dari setengahnya dibandingkan pertumbuhan industri ritel pada tahun 2019 yang mencatat angka 8-8,5 persen.

Industri ritel pakaian merupakan sektor yang paling terpukul selama pandemi. Pertumbuhannya diperkirakan hanya berkisar 1,5-1,6 persen pada 2020.

Sejumlah peritel sektor sandang memang telah melaporkan dahsyatnya dampak pandemi terhadap bisnisnya. Seperti disampaikan manajemen PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) dalam keterbukaan informasinya kepada Bursa Efek Indonesia. Ramayana melaporkan, pandemi membuat perusahaan harus menutup sejumlah gerai. Pendapatan perusahaan diperkirakan turun antara 51% hingga 75% dibandingkan tahun 2019. Pandemi juga membuat Ramayana harus mem-PHK 421 karyawannya selama periode Januari hingga Juni.

PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) memperkirakan akan ada penurunan pendapatan hingga 25%. Sementara laba bersih diperkirakan turun lebih dari 75%. Matahari sendiri melaporkan belum ada PHK karyawan, tetapi ada 5.623 karyawannya yang dirumahkan. Sebanyak 12.080 karyawan lainnya juga terkena dampak pemotongan gaji.

Hasil Survei Penjualan Eceran pada April 2020 yang dilakukan Bank Indonesia mengkonfirmasi hal tersebut. Secara keseluruhan, penjualan eceran mengalami penurunan, yang terefleksi dari Indeks Penjualan Riil (IPR) yang tercatat minus 16,9%. Angka itu lebih buruk dibandingkan IPR Maret 2020, minus 4,5%.

BI mencatat penurunan penjualan terdalam dialami subkelompok sandang minus 70,9% serta kelompok barang budaya dan rekreasi sebesar minus 48,5%. Pada Mei, penurunannya diperkirakan lebih besar hingga minus 22,9%. Semua kelompok komoditas yang disurvei diperkirakan mengalami kontraksi. Subkelompok sandang diprediksi masih mengalami penurunan terbesar hingga minus 77,8%.

Fenomena Global

Penurunan penjualan ritel akibat pandemi tidak hanya dialami oleh Indonesia. Secara global, penjualan ritel diperkirakan turun hingga 9,6% atau setara 2,1 triliun dolar, menurut Forrester, sebuah lembaga riset bisnis yang berbasis di Inggris. Forrester memperkirakan, butuh waktu empat tahun bagi para peritel untuk bisa kembali ke level sebelum pandemi.

Menurut Forrester, dampak pandemi terhadap penjualan ritel akan sangat bervariasi di Amerika Utara, Asia, Eropa, dan Amerika Latin. Untuk Amerika Serikat, penjualan ritel akan turun 9,1% atau setara 321 miliar USD. Asia Pasifik akan turun sekitar 10% atau setara 767 miliar USD. Cina akan menjadi negara dengan penurunan penjualan ritel terbesar hingga 192 miliar USD pada Januari dan Februari saja, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Cina, negara dengan konsumen terbesar di dunia, melaporkan penjualan ritelnya selama Mei minus 2,8 persen, menurut Badan Pusat Statistik China seperti dilansir dari SCMP. Namun, angka penjualan ritel yang menjadi indikator kunci dalam konsumsi itu sudah membaik dibandingkan pada April, yang mencatat minus 7,5 persen.

Demikian pula Amerika Serikat, salah satu negara dengan konsumen terbesar di dunia, juga mencatatkan penurunan penjualan ritel hingga minus 8,7% pada Maret. Ini merupakan penurunan month to month terbesar, sejak Badan Statistik AS mulai mencatat sensus ritel. Secara year on year, penurunannya mencapai minus 6,2%.

Nasib serupa juga menimpa Singapura yang sering dianggap sebagai barometer perekonomian Asia Tenggara. Penjualan ritel Singapura pada Maret turun ke tingkat terendah dalam 22 tahun. Penjualan ritel turun hingga minus 13,3% secara year on year, menurut Department of Statistics (SingStat). Menurut perhitungan Reuters, ini merupakan penurunan terendah sejak September 1998, ketika penjualan retail turun hingga minus 16,9%. Penjualan pakaian dan alas kaki mencatat penurunan terbesar hingga 41,6% secara year on year.

Singapura secara perlahan sudah membuka kembali aktivitas ekonominya, setelah beberapa bulan lockdown sehubungan dengan pandemi. Namun, para peritel tidak berharap banyak langkah itu akan menyelamatkan industri retail.

“Para peritel secara jelas menghadapi tekanan finansial yang  signifikan selama periode ini. Apakah itu [peritel] besar atau kecil, mereka sesungguhnya paham betapa sulitnya memenuhi kewajiban finansialnya,” ujar Rose Tong, direktur eksekutif Singapore Retailers Asociation, kepada CNBC.

“Mereka tidak berharap banyak bahwa bisnis akan kembali seperti semula.. meski setelah dua pekan pertama euforia belanja atau apa yang kita sebut sebagai 'revenge shopping',” jelasnya. Para peritel memperkirakan penjualan turun hingga 50% sehubungan dengan melemahnya ekonomi.

Infografik Nasib Industri Ritel

Perubahan Pola Konsumsi dan Prospeknya

Semester pertama tahun 2020 dihabiskan sektor ritel untuk bertahan mati-matian menghadapi kelesuan akibat pandemi COVID-19. Memasuki semester kedua, prospek industri ini diperkirakan masih akan sulit untuk mencapai level seperti sebelum pandemi.

Pembukaan mal seiring dilonggarkannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diperkirakan belum akan mendongkrak penjualan ritel. Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan mengakui bahwa angka kunjungan mal masih sangat minim, yakni di angka 30 persen. Angka itu masih jauh di bawah batas yang diperbolehkan untuk tingkat kunjungan selama masa PSBB Transisi di angka 50 persen.

Pandemi membuat peritel kesulitan untuk membuat perkiraan. Apa yang dicapai bulan ini, tidak bisa dijadikan patokan untuk proyeksi ke depan. PT Mitra Adiperkasa Tbk, salah satu perusahaan ritel gaya hidup terbesar Indonesia memilih tidak memberikan panduan target yang akan dicapai pada tahun fiskal 2020.

“Dikarenakan kondisi yang tidak pasti sebagai dampak dari COVID-19, serta terjadinya perubahan-perubahan situasi yang cepat, yang diakibatkan oleh wabah ini,” kata Ratih D. Gianda, VP Investor Relations & Corporate Communications MAP Group dalam keterbukaan informasinya kepada Bursa Efek Indonesia.

Ratih mengatakan, pada awal 2020, perusahaan sebenarnya telah memulai usahanya dengan kuat di semua lini usaha ritel. Memasuki Maret, setelah Indonesia mengkonfirmasi kasus pertamanya, penjualan langsung turun. Pasalnya, wabah COVID-19 telah menyebabkan turunnya tingkat kunjungan ke mal secara signifikan.

Hal senada disampaikan Ryan Alfons Kaloh, Direktur Pemasaran PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart), dalam webinar yang diselenggarakan oleh Markplus awal Juni lalu. Ia mengatakan, bahwa saat ini data berubah-ubah dengan sangat cepat. “Jadi jangan senang dulu kalau kita melihat ada lonjakan [penjualan],” katanya. Keputusan yang diambil saat ini, menurut dia, lebih banyak menggunakan data yang sifatnya jangka pendek. Untuk itu, Alfamart yang kini memiliki 14 ribu jaringan toko dan 120 ribu karyawan itu selalu menerapkan 3 hal: menggunakan latest update, merancang local insight, dan intuisi yang lebih kuat.

Para peritel kini juga harus mempelajari pola konsumsi masyarakat. Pandemi telah membuat masyarakat mengubah pola belanjanya. Stefanus Ridwan mengatakan, masyarakat mengutamakan pembelian barang-barang kebutuhan pokok ketimbang kebutuhan sekunder atau pun tersier. Masyarakat juga cenderung mengutamakan pembelian bahan makanan dan juga belanja kesehatan.

“Perlu menunggu waktu bagi orang untuk mulai membeli barang-barang sekunder dan tersier lagi,” katanya.

Inilah yang menjadi salah satu penyebab kunjungan ke mal masih relatif sepi. Menurut Ridwan, orang cenderung tidak berlama-lama di mal, dan membeli seperlunya untuk kemudian pulang. Hal ini berbeda dengan kondisi sebelum pandemi, ketika orang-orang cenderung pergi ke mal untuk cuci mata, refreshing dan belanja barang-barang kebutuhan non-pokok juga. "Gaya hidup pelanggan berubah,” ujarnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani pun mengkonfirmasi perubahan pola pengeluaran masyarakat. Merujuk hasil Survei Sosial Demografi Dampak COVID-19 yang dikumpulkan Badan Pusat Statistik, pembelian bahan makanan meningkat menjadi 51%. Pengeluaran terbesar kedua adalah untuk kesehatan sebesar 20%, disusul pengeluaran untuk pulsa dan paket data sebesar 14%. Sementara pengeluaran untuk makanan atau minuman menjadi sebesar 8%. Pada Susenas Maret 2019, pengeluaran untuk kelompok makanan tercatat hanya 49%.

Data dari Bank Indonesia mengkonfirmasi hal tersebut. Survei BI memperkirakan untuk penjualan eceran makanan, minuman dan tembakau akan mencatat pertumbuhan 1,9% pada Mei (month to month), setelah kontraksi hingga 12,1% pada April.

Comment 0