Aum/rawpixel.com

Tingkat keamanan dan efisiensi yang tinggi dari blockchain sebagai tempat penyimpanan transaksi keuangan telah membuka peluang inovasi di bidang kesehatan sebagai penyimpanan data medis.

Selain menggunakan blockchain di sektor finansial, saat ini berbagai negara seperti Amerika Serikat, Estonia, Cina, Inggris, Jepang, Korea Selatan, Rusia, Singapura, dan Swiss mulai menggunakan buku besar digital berjaringan ini untuk kesehatan, baik di pemerintahan maupun perusahaan swasta.

Walau penggunaan teknologi ini memerlukan biaya investasi awal besar untuk membangun dan memelihara infrastruktur server komputer dan jaringan internet yang memadai, sektor kesehatan Amerika Serikat dilaporkan dapat menghemat U$$19,3 juta dengan menggunakan teknologi blockchain yang meningkatkan kerja sama dan integrasi data di sektor ini.

Sektor kesehatan Indonesia perlu mengadopsi teknologi ini karena memiliki sejumlah keunggulan.

Penggunaan bidang kesehatan

Teknologi blockchain cocok untuk bidang kesehatan karena banyak data yang dihasilkan sektor ini bersifat berkesinambungan, dari masa pendidikan calon dokter hingga rantai distribusi obat.

Blockchain (rantai blok) merupakan buku besar (ledger) digital terdistribusi yang terus berkembang. Buku ini berisi kumpulan catatan data dalam blok-blok.

Buku besar digital ini terhubung dalam rantai jaringan server komputer yang saling terhubung satu sama lain setelah melalui proses enkripsi kriptografi yakni perubahan data ke dalam sistem kode. Untuk bisa membaca data ini, pengakses harus punya kata sandi tertentu.

Jaringan yang terhubung ini bisa bersama-sama menjalankan sebuah protokol yang disepakati bersama dengan menggunakan metode algoritme matematika.

Teknologi blockchain yang digagas oleh Satoshi Nakamoto (nama samaran) pada 2008 menjadi terkenal berkat mata uang digital fenomenal Bitcoin. Teknologi blockchain ini terus berkembang dari tahun ke tahun. Teknologi blockchain generasi terbaru (generasi 3.0) mengusung aplikasi terdesentralisasi (DApp), yakni menggunakan jaringan yang saling berbagi (peer-to-peer).

Setidaknya ada 4 manfaat penggunaan blockchain di bidang kesehatan.

1. Pendidikan tinggi kedokteran

Dengan teknologi blockchain, semua catatan termasuk prestasi mahasiswa saat studi di sekolah kedokteran bisa tersimpan dan terlacak mulai dari sarjana hingga profesi bahkan spesialis. Selain itu, karena pendidikan kedokteran adalah proses pembelajaran seumur hidup, catatan di buku besar digital ini dapat terus berkembang.

Proses pengarsipan setiap kali menghadiri seminar dan workshop, setiap artikel pernah ditulis, bisa juga disimpan di sana. Tingkat keberhasilan merawat pasien yang dijumpai atau prosedur yang pernah dilakukan bisa dimasukkan dalam blockchain.

Hal ini membuat proses sertifikasi, pengeluaran ijazah, kredensial menjadi lebih mudah, hemat biaya, dan tidak dapat dipalsukan maupun dirusak.

Platform penyedia sistem kredensial digital berbasis blockchain antara lain Accredible, BlockCo, Vottun’s Blockeducate, BCDiploma, dan masih banyak lagi.

2. Rekam medis elektronik

Saat ini, catatan rekam medis pasien disimpan dengan aman di tempat-tempat terpisah seperti fasilitas pelayanan kesehatan berbagai tingkat (klinik, Puskesmas dan rumah sakit) dan penyedia asuransi kesehatan.

Setiap kali pasien berobat ke satu layanan fasilitas kesehatan, maka data keseluruhan mengenai riwayat tersebut hanya tersimpan di satu tempat tersebut.

Pertukaran data rekam medis antartenaga kesehatan, klinik, rumah sakit, lembaga penelitian (contoh uji klinik), dan asuransi kesehatan menjadi kunci penting dalam memperoleh data pasien yang komprehensif dan sistem pemrosesan klaim medis yang transparan.

Dengan teknologi blockchain dan protokol yang disepakati, sistem ini mengatur siapa saja yang dapat mengakses informasi medis pasien. Hal ini membuat informasi pasien bisa diakses bersama oleh pihak yang terhubung dalam jaringan dengan keamanan privasi tetap terjaga.

3. Rantai distribusi obat dan alat kesehatan

Pada 2019 Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyetujui proyek percontohan berbasis jaringan blockchain MediLedger. Jaringan ini terdiri dari 24 perusahaan farmasi besar untuk beroperasi dalam rantai pasokan farmasi.

Selain itu, ada juga dari IBM yang merilis jaringan blockchain bernama IBM Rapid Supplier Connect.

Jaringan ini untuk membantu lembaga pemerintah dan organisasi layanan kesehatan mengidentifikasi pemasok baru dan non-tradisional dalam mengatasi kekurangan pasokan peralatan medis maupun ketersediaan obat COVID-19 di Amerika Serikat dan Kanada.

4. Kesehatan masyarakat

Teknologi blockchain juga dapat dimanfaatkan dalam bidang pencatatan penyakit yang menjadi pandemi sekarang seperti COVID-19.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bekerja sama dengan perusahaan teknologi Hacera, IBM, Oracle, serta Microsoft menciptakan platform berbagi data MiPasa untuk pencatatan kasus COVID-19.

Platform ini dapat memfasilitasi berbagai informasi antara individu, otoritas negara, dan lembaga kesehatan sehingga dapat membantu pemantauan dan meramalkan tren epidemiologis lokal dan global.

Meski begitu privasi tetap bisa terjaga karena menggunakan sistem silo (hanya departemen tertentu yang bisa mengakses informasi).

Tantangan

Riset dari Global Market Insights menunjukkan valuasi teknologi blockchain di sektor kesehatan diperkirakan akan melampaui US$1,6 miliar pada 2025.

Meski blockchain menawarkan banyak manfaat di berbagai sektor termasuk kesehatan, teknologi ini masih memiliki rintangan yang harus diatasi sebelum mencapai tahapan adopsi massal.

Salah satu tantangan dalam perkembangan blockchain di Indonesia adalah kurangnya jenis “pelaku” yang berkecimpung.

Proyek Batam Medical Blockchain untuk penyimpanan dan pengambilan data yang aman dari catatan rekam medis elektronik pasien adalah salah satucontoh penggunaan blockchain untuk kesehatan di Indonesia. Proyek ini merupakan kolaborasi BP Batam, lembaga yang mengelola kawasan perdagangan bebas Batam, bersama dengan Rumah Sakit BP Batam, perusahaan blockchain untuk kesehatan dClinic, dan perusahaan konsultan manajemen Deloitte Asia Tenggara.

Namun, selain Batam Medical Blockchain hampir tidak ada lagi contoh penggunaan blockchain untuk kesehatan di Indonesia. Penyebabnya, hanya sedikit orang, bahkan di kalangan praktisi teknologi dan informasi, yang menguasai teknologi ini.

Saat ini di Indonesia keterlibatan universitas atau lembaga riset untuk penelitian blockchain masih kurang. Ini berakibat kurangnya pasokan tenaga kerja terampil dalam mengisi kebutuhan perusahaan blockchain.

Pelaku lain yang masih belum optimal adalah kurangnya industri pendukung blockchain, seperti industri elektronika dan telekomunikasi.

Selain itu, dari segi regulasi dan pengawasan pemerintah, hingga saat ini masih belum ada panduan mekanisme audit teknologi ini.

Dengan banyaknya keunggulan ditawarkan, ekosistem blockchain di berbagai sektor termasuk kesehatan perlu digencarkan supaya masyarakat Indonesia bisa menikmati manfaat dari teknologi ini dalam keseharian mereka.

Karena itu, perlu ada kolaborasi riset antarfakultas di universitas, misalnya bidang kesehatan dan kedokteran dan teknologi informasi, untuk membuat proyek percontohan aplikasi blockchain. Jika uji coba ini berhasil, bisa dikembangkan lebih besar dengan melibatkan fasilitas kesehatan dan industri bidang kesehatan.

Pemerintah harus segera mengesahkan rancangan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi sebagai dasar untuk mengaturkan data pribadi termasuk rekam medis pasien dalam bentuk digital.

Meiliyana Wijaya tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.

Comment 0