Spektrum Tiga

Salah satu candu bagi Kay di dalam profesinya sebagai desainer interior adalah menjabat erat tangan klien. 

Ia percaya bahwa jabat tangan bisa menyalurkan energi lebih besar daripada tatapan mata. Saat menyalami klien di awal rapat, ia ingin kliennya merasakan semangat tinggi dan keinginannya memberikan hasil terbaik untuk proyek itu. Sementara, saat menyalami klien di akhir rapat, Kay biasanya akan bisa merasakan tingkat kepuasan klien atas hasil presentasinya dari seberapa kencang genggaman di jari-jarinya. Namun, kali ini, Kay cepat-cepat menarik tangannya.

“Kenapa nggak bilang di email kalau Egan itu lo?” Ada rasa canggung ketika menyebutkan kata lo kepada Raegan, karena pria itu pernah menjadi satu-satunya kamu di dalam hidupnya. 

Namun, rasa canggung itu tetap tidak bisa mengalahkan kekesalannya karena tidak curiga saat satu minggu yang lalu mendapatkan e-mail singkat dari seseorang bernama Egan yang mengajak bertemu untuk berdiskusi mengenai jasa desainnya.

“Biar surprise,” jawab Raegan sambil tersenyum, lengkap dengan binar di matanya saat menatap Kay dalam.

Kay tertegun. That is the smile that used to be mine, the one I thought I will never ever see again.

“Mestinya bilang aja, sih,” jawab Kay, berusaha terdengar santai. Padahal, rasanya ia ingin melarikan diri saja.

Would you reply if you knew that was me?”               

Ia terdiam sejenak. 

Saat mereka berpisah lima tahun lalu, ia meminta Raegan untuk tidak menghubunginya lagi. Raegan memang menepati janjinya. Dan, Kay selalu yakin jika suatu saat Raegan minta bertemu, ia akan menolak. Rasa sedih dan kecewa terhadap pria itu di masa lalunya terlalu dalam. Namun, melihat Raegan berdiri di hadapannya sekarang, akal sehat Kay mendadak tersendat.

Rambut ikal Raegan yang tertata rapi dengan polesan wax dan jambang tipis yang membingkai rahang dan dagunya membuat pria itu tampak mempesona. Kay bisa merasakan sensasi aneh yang menggelitik saat memperhatikan tubuh Raegan yang terlihat lebih tegap dan kokoh di balik balutan kaus putih polos dan jaket kulit. Jelas sekali, Raegan menghabiskan banyak waktu untuk berolahraga dan melakukan body building. Raegan yang sekarang terlihat jauh lebih menarik.

Like, sensually attractive. 

Kay cepat-cepat menggelengkan kepalanya. Ia risih dengan gelombang rasa yang bercampur aduk di hatinya. Di saat itu, ia hanya ingin segera meloloskan diri dari kecanggungan yang mulai menyeruak.

Lantas, ia berdeham, berusaha mencari jawaban diplomatis.

“Kalau lo butuh gue untuk urusan kerjaan, gue pasti balas, kok.”

“Baguslah kalau begitu,” balas Raegan sambil menarik napas lega, “Gue udah waswas. Takut diusir. Mana satpam di depan gede banget badannya.”

Kay tertawa. “Si Baim? Nggak bakal menang lah, ngelawan atlet wushu bersabuk merah.”

“Masih inget, ya?” Raegan tersenyum usil hingga Kay malu dan terpaksa memalingkan muka. 

Hari-hari yang Kay habiskan untuk menemani Raegan latihan wushu di kampus dan mendampinginya ke berbagai pertandingan wushu adalah salah satu kegiatan favorit Kay dulu. Bahkan, kalau bukan karena Kay yang terus mendorong Raegan untuk latihan, pria itu tidak akan pernah naik sabuk.

 Those unforgettable good old days, batin Kay.

“Nggak semua kenangan bisa disingkirkan begitu aja, Rae,” katanya sambil menarik kursi di hadapannya, berusaha mencari posisi duduk yang nyaman. “Tapi, itu semua cuma kisah lama. Gue yakin lo ke sini bukan untuk bernostalgia. Jadi, apa yang bisa gue bantu?”

“You’re right,” balas Raegan. 

Ia ikut duduk dan mengeluarkan beberapa lembar kertas berisi gambar denah rumah dari sela ritsleting jaket kulitnya, lalu menyodorkannya ke hadapan Kay. “Gue perlu bantuan lo untuk mendesain rumah ini.”

Dari jarak sedekat itu, Kay bisa mencium samar aroma parfum yang dikenakan Raegan. Ia hampir tidak percaya, tapi aroma itu masih sama seperti lima tahun yang lalu. Aroma yang sering ia hirup sambil memeluk Raegan dari jok belakang motor pria itu ketika mengantar Kay pulang ke rumah usai kuliah. Kay memundurkan tubuhnya sedikit, menjaga konsentrasinya agar tidak hilang sepenuhnya.

“Ini rumah lo?” tanya Kay.

“Rumah untuk Bunda, tepatnya. Gue mau ajak Bunda pindah ke Jakarta.”

“Kenapa? Bukannya Bunda … eh, ibu lo, nggak suka sama kota ini?” Kay tersipu malu setelahnya. Dahulu, ia terbiasa memanggil Tante Lis dengan sebutan bunda karena beliau yang meminta. Sekarang, rasanya tidak pantas kalau ia masih memanggilnya dengan sebutan itu.

Raegan tersenyum.

“Bunda sekarang tinggal sendirian di Bandung. Raina dan suaminya udah pindah ke Australia. Raisa juga ikut ke sana untuk kuliah, nggak mau jauh dari kakak perempuannya. Gue nggak tega melihat Bunda sendirian sementara semua anaknya jauh. Jadi, gue dan adik-adik setuju untuk mindahin Bunda ke Jakarta. Paling nggak, gue bisa nemenin Bunda kalau lagi nggak ada jadwal terbang.

Kay mengangguk-anggukkan kepala. “Kabar ayah lo gimana? Masih sering dinas ke luar kota?”

“Ayah udah meninggal, Kay. Dua tahun lalu.”

Kay terdiam sesaat. “I … I am so sorry to hear that. Gue nggak tahu ….”

“Nggak apa-apa,” Raegan memotong ucapan Kay, “Itu risiko pekerjaannya sebagai polisi.”

Kay memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh. Ia tahu, pasti sulit bagi Raegan kehilangan sosok yang selalu ia idolakan. Di dalam keheningan yang singkat itu, Kay tidak tahu harus berbuat apa. Terdorong oleh kepanikan, ia bangkit dari kursinya, lalu berjalan menuju pintu.

“Gue ambilin minum, ya. Mau minum apa?”

“Apa aja boleh,” jawab Raegan.

Kay mengangguk, cepat-cepat keluar dari ruang rapat, lalu berjalan ke arah pantri yang terletak di belakang meja resepsionis. Ia langsung mengisi gelas dengan air dan meneguknya hingga tandas. Terlalu banyak yang melintas di pikirannya, yang tidak bisa diuraikan dalam hitungan detik. Ia memutuskan untuk segera mengisi gelas lain dengan air juga, dan membawanya kembali ke ruang rapat. Ia meletakkan gelas itu di meja.

Thanks,” kata Raegan yang segera menghabiskan minumannya dalam beberapa kali tegukan.

“Pak pilot haus?” ledek Kay sambil menahan senyum.

“Lumayan. Nawarin minumnya telat, sih,” balas Raegan.

Lalu, keduanya tertawa. Raegan dengan tawanya yang lepas, Kay dengan tawanya yang tertahan.

"Anyway, kita bisa ketemu di lokasi? Ada beberapa ruangan yang mesti lo lihat langsung," tanya Raegan setelah tawanya reda.

Kay diam sejenak. Mendadak, sistem pertahanan emosinya meningkat berlipat ganda. Ada protes keras yang muncul dari batinnya. Sejujurnya, ia belum siap mendapati kedatangan Raegan yang tiba-tiba, terlebih menerima proyek dari Raegan seperti ini. Dirinya terdorong untuk mencari-cari alasan untuk mengulur waktu, atau jika bisa, menolak proyek ini sama sekali.

"Gue kabari lagi nanti, ya? Jadwal gue masih ketat karena ada proyek hotel yang baru deal," balas Kay, berpura-pura santai.

Raegan pun mengangguk. Ia lantas berdiri dan menjulurkan tangannya untuk berpamitan. Kay menyambutnya, sekali lagi merasakan genggaman hangat Raegan yang menyelubungi jemarinya dan mengirimkan kupu-kupu yang kembali menari di dalam perutnya. "Gue tunggu kabarnya.”

Raegan berjalan dan meraih gagang pintu ruang rapat. Namun, ia berhenti sebelum benar-benar membuka pintu, kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.

“Mudah-mudahan lo masih suka koleksi benda lucu,” Raegan membalikkan badan, meraih tangan Kay dan menyelipkan benda itu ke dalam genggaman Kay.

“This place is great, by the way,” katanya lagi, “You are doing great. I am so proud of you.”

Kay tertegun, lalu tersenyum. “Thank you.

Setelah punggung Raegan terlihat menghilang seutuhnya di balik pintu utama, Kay membuka genggaman tangannya dan mendapati sebuahgantungan kunci dengan figur pilot yang terbuat dari nanoblock.

Benda itu meyakinkan Kay bahwa ia tidak sedang bermimpi. Kay hanya bisa mendesah panjang.

Ia merasa alam semesta sedang mengajaknya bercanda.

* * *

Comment 0