Aku Sebuah Pertemuan

Sebuah pertemuan. Ayah pernah bercerita waktu itu mengenai sebuah pertemuan. Pertemuan Ayah menemukan kekasih halalnya yang sekarang kusebut Ibu. Memori setiap pertemuan pasti tertanam indah dalam lubuk hati setiap insan. Layaknya Ayah yang bercerita dengan penuh senyum. Begitu pula aku. Saat bertemu dirimu. Namun, aku berbeda dengan Ayah. Aku hanya menuangkan cerita pertemuan itu dalam sebuah buku yang entah kapan kamu akan membacanya. Namun kelak aku harap, aku dapat menceritakan kepada sang penerus generasi kita mengenai pertemuan dengan kamu dan berharap aku akan menyebutmu suatu saat di depan mereka. “Pertemuan dengan ayahmu”

Sebelum kedatangan dirimu, hidupku serasa hampa. Layaknya kata tak bernada. Layaknya syair lagu tanpa makna. Mungkin sebagian orang yang membacanya dan mengatakan aku terlalu berlebihan mengekspresikan pertemuan denganmu. Tapi, begitulah yang aku rasakan. Aku kira Sang Pencipta hatiku, membuat alur pertemuan kita menjadi skenario yang indah. Semestaku mendadak berubah. Mendadak senyum selalu terbingkai dari wajahku. Mendadak suram di wajah berubah seketika. Mendadak setiap bait doa selalu terpanjat dan tak lupa tersisipkan satu nama di dalamnya.

Apakah yang kurasakan?

Sepengal kalimat itu menghentikanku sejenak. Memikirkan dan merenungi serta mengulang kata itu. Apa yang aku rasakan, jatuh cinta? Oh … tidak! Hal dari semua yang aku rasakan tak mudah untuk kusimpulkan. Karena mencinta adalah hal yang paling sulit yang pernah kurasakan. Namun, ada sesuatu yang paling sulit dari mencintaimu, yaitu melupakanmu. Biarkanlah Sang Pencipta hati mencatat waktu pertemuan kita. Pertemuan yang membuat jantung semakin berdenyut lebih cepat, napas serasa sesak. Karena pertemuan denganmu adalah sebuah anugerah.

Comment 0