Suroto berbaring di tempat tidurnya selama 10 tahun. Foto: Dok. Ardian Kurniawan

Suroto (43) warga Magelang, Jateng, berdiam selama 10 tahun di ranjangnya dan menjauh dari kehidupan luar. Ia tidak bergerak kecuali hanya untuk bangun tidur, makan, dan buang air kecil dan besar.

Konflik dengan keluarga diduga menjadi penyebab Suroto mengurung diri. Ia sempat memiliki keinginan membeli sebuah sepeda motor dengan uang hasil kerjanya. Akan tetapi, cita-cita itu tidak tercapai karena uangnya habis untuk kehidupan sehari-hari.

Ia hanya tinggal bersama Ibunya (75) di Sawangan, Magelang, Jateng. Karena sudah menginjak usia lanjut, sang ibu tidak bekerja dan hanya mengandalkan hidup dari bantuan tetangga.

"Sejak erupsi merapi 2010 sampai hari ini dia tidak beranjak dari tempat tidurnya. Tinggal hanya dengan ibunya yang sudah tua. Dia (Suroto) makan hanya sekali dalam tiga hari," ungkap Sujono, tetangga Suroto kepada kumparan (4/7).

Suroto berbaring di tempat tidurnya selama 10 tahun. Foto: Dok. Ardian Kurniawan

Kabar tersebut kemudian sampai ke telinga Ardian Kurniawan, relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Salatiga, Jateng. Sebelumnya, Ardian pernah menolong seorang nenek yang memiliki rambut gembel sepanjang dua meter.

Ardian lalu mendatangi rumah Suroto pada Rabu (1/7). Dari jarak 5 meter, Ardian sudah mencium aroma tidak sedap yang berasal dari tubuh Suroto. Dengan diselimuti sarung dan ditutup oleh tikar, Ardian melihat Suroto terbaring seperti tidak bernyawa.

Ardian kemudian membangunkan Suroto dan menuntunnya ke kamar mandi untuk dibersihkan. Hal itu membuat Sujono sempat tak percaya, karena Suroto biasanya tidak mau diminta bangun oleh orang lain.

"Kemudian sama Mas Ardian langsung dipotong gembelnya dan dimandikan dan mau, enggak marah dan dimandikan juga ngikut. Sempat semuanya diganti. Tempat tidur diganti, sarung diganti, sekarang sudah pakai baju dan celana," tambah Sujono.

Suroto berbaring di tempat tidurnya selama 10 tahun. Foto: Dok. Ardian Kurniawan

"Saat aku mandikan, dia tidak bicara sepatah kata pun, tapi dari wajahnya tampak meneteskan air mata, kaya mau berkata sesuatu tapi tertahan," ungkap Ardian.

Sebelumnya, para tetangga Suroto pernah memanggil seorang tabib untuk mengobati pria tersebut. Akan tetapi, tabib tersebut tidak berani mengobatinya ketika melihat kondisi Suroto.

Ibu dan Sujono berharap Suroto dapat kembali menjalani kehidupan normalnya. Karena di mata tetangga, Suroto adalah pemuda yang memiliki sifat pemberani.

"Dia ini sebenarnya orang yang berani, apa pun itu, selama itu benar," ungkap Sujono.

Ardian membuka donasi untuk membantu kehidupan Suroto dan sang ibu. Masyarakat bisa menyumbangkan bantuan ke nomor rekening Bank BRI 6047-01-020084-537 atas nama SERI Kabupaten Semarang atau ke nomor telepon dan WhatsApp 085742475226 milik Ardian.

****

(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)

Comment 0