Ilustrasi sumur tua. Foto: kumparan

Desaku telah lama dilanda kekeringan, padahal ini sudah masuk musim penghujan. Kami selalu membutuhkan banyak air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan satu-satunya yang menyelamatkan kami di kondisi ini ialah sumur milik Pak Yanto.

Keluarga Pak Yanto dikenal pemurah dan baik hati. Selain kaya raya, ia menjadi satu-satunya pemilik sumur yang di masa kekeringan seperti ini, air di dalamnya tetap saja mengucur deras. Itu memang aneh. Namun, kebutuhan sering menghindarkan manusia untuk mengomentari hal-hal yang tak terlalu mendesak.

Setiap hari, ketika azan magrib mulai menjelang, sumur tua yang terletak di teras belakang rumah Pak Yanto itu masih selalu dipenuhi antrean. Banyak dari mereka membawa ember besar untuk menimba air, membawanya pulang ke rumah masing-masing untuk kebutuhan selama beberapa hari. Dan, sebagaimana layaknya bos, Pak Yanto menunggui orang-orang yang berjubelan itu di teras rumahnya yang bersih dan mewah. Namun, asal kalian tahu, ia tak pernah meminta satu pun penduduk untuk membayar air yang mereka ambil dari sumur tua itu.

*

“Sejak kapan sumur ini dibuat, Pak?” tanyaku pada suatu sore, ketika mengantre mengambil air seperti biasa.

“Aku kurang tahu. Sumur ini peninggalan nenek moyangku.” Jelas Pak Yanto ringkas. Setelah menjawab pertanyaanku, ia langsung beranjak dan masuk ke dalam rumah, terlihat tak tertarik dengan obrolan yang kusodorkan.

Di tengah kondisi yang kaya raya, tak ada satu pun penduduk yang tahu profesi apa yang sebenarnya digeluti Pak Yanto. Sebelumnya, ia memang membuka toko kelontong, namun itu hanya berlangsung selama beberapa tahun dan toko itu lantas ditutup.

Sekarang, praktis, Pak Yanto tak memiliki pekerjaan. Namun tetap saja, kehidupannya dan keluarga tampak amat tercukupi. Ia sama sekali tak kelihatan sebagai orang yang melarat. Oleh para penduduk, Pak Yanto dipandang sebagai lelaki yang memperoleh keberuntungan sepanjang waktu.

Hingga pada suatu hari, sebuah kejadian menjawab kegelisahan yang selama ini terpendam di hati kami, para warga desa. Ketika sekumpulan penduduk sedang berjubelan mengantre air di sumur Pak Yanto seperti biasa, tiba-tiba dari dalam sumur tercium bau yang amat menyengat. Pada saat kejadian itu, aku pun sedang berada di sana.

Oleh hidungku, bau tersebut tercium seperti anyir darah. Jelas sekali. Setelah pertama kali aku menyebarkan dengan berbisik tentang bau apa yang aku rasakan ke orang yang berada di sampingku, informasi itu lantas merembet ke semua yang ada di sana. Kegaduhan pun tak dapat dihindari. Para penduduk berlarian meninggalkan sumur itu sambil berteriak: “Darah!!! Darah!!!”

Ilustrasi darah. Foto: kumparan

Luar biasanya, setelah sampai di rumah masing-masing, kami mendapati air yang sebelumnya diambil dari sumur Pak Yanto berubah menjadi darah. Semuanya. Selain kegaduhan, desa kami pada saat itu dirundung ketakutan yang amat sangat.

Akhirnya, apa yang terjadi saat itu terjawab oleh salah seorang tua yang dikenal sebagai kyai di desa kami. Ia mengatakan sebuah kalimat, dengan amat ringkas, dalam sebuah kesempatan saat para penduduk berkumpul di masjid, menjawab apa yang selama ini kami takutkan: “Sumur itu menjadi tempat membuang korban pembunuhan di masa penjajah. Sekarang, tempat itu digunakan sebagai pesugihan Pak Yanto.”

Mendengar penjelasan Sang Kyai, kami semua merinding. Pantas saja, Pak Yanto yang pengangguran itu tampak amat kaya dan selalu beruntung.

Tulisan ini merupakan rekayasa. Kesamaan nama dan tempat kejadian hanya kebetulan belaka

Comment 0