Akibat kekeringan di Manggarai Barat NTT, pemilik ternak harus membeli daun segar untuk pakan

Kekeringan akibat kemarau panjang di Kabupaten Manggarai barat Nusa Tenggara Timur mulai mengancam kehidupan ternak. Warga di kecamatan Komodo wilayah poros selatan desa Tiwu Nampar dan Warloka yang memiliki kerbau, sapi, dan kambing mulai kesulitan mendapatkan rumput dan daun segar.

Padahal sapi dan kerbau dipekerjakan petani untuk membajak sawah. Pekan ini dilaporkan 4 ekor kerbau milik warga mati kelaparan. Hal itu dikemukakan Mahamat Ismail (54) tokoh masyarakat desa Warloka.

Mahamad menyebut dampak kemarau panjang mengeringkan air kali yang biasanya untuk dikonsumsi ternak.

"Sudah ada empat ekor kerbau milik warga dalam satu pekan ini. Ternak mati kemungkinan karena lapar. Tubuh hewan-hewan itu kurus lalu mati. Warga takut mengonsumsi kerbau yang mati sebab belum diketahui persis penyebabnya. Mati karena penyakit atau ketiadaan makanan," jelas Mahamad.

Baca juga:

Samsudin Jamasea (48), pemilik ternak yang mati mengaku kerbaunya mati kelaparan. Dia mengaku kesulitan mendapatkan makanan akibat kekeringan selama empat bulan belakangan ini, termasuk mencari sumber mata air.

"Kami terpaksa beli air untuk minum dan cuci. Daun-daun padang lamun ini mati kekeringan karena suhu panas dan lokasi ini berada tak jauh dari laut," katanya.

Samsudin juga menuturkan bukan hanya kerbau miliknya yang mati kelaparan, tetapi juga milik sahabatnya. "Yang mati itu bukan karena penyakit, tapi kesulitan makanan. Sudah 4 ekor kerbau mati. Hampir tiap hari kami terpaksa beli daunan hijau untuk kasih makan kerbau. Mata air mengering. Jadi, begitu sulitnya buat hewan," papar Samsudin. (OL-14)

Comment 0