Penyanyi Kanye West dan istrinya Kim Kardashian. West mengajukan diri untuk menanggung biaya sekolah hingga kuliah anak korban kekerasan polisi, George Floyd. Kematian Floyd di tangan polisi berlatar rasisme.
Penyanyi Kanye West dan istrinya Kim Kardashian. West mengajukan diri untuk menanggung biaya sekolah hingga kuliah anak korban kekerasan polisi, George Floyd. Kematian Floyd di tangan polisi berlatar rasisme.

REPUBLIKA.CO.ID, MINNEAPOLIS -- Musisi Kanye West tidak tanggung-tanggung dalam memberikan donasi untuk membantu keluarga mendiang George Floyd. Floyd adalah pria Afrika-Amerika yang tewas saat ditahan secara tak manusiawi oleh polisi di Minneapolis, 25 Mei silam.

West bergabung dengan para selebritas serta masyarakat yang menunjukkan dukungan untuk Floyd. Dia membuat 529 tabungan kuliah guna menanggung dana pendidikan putri Floyd yang masih berusia enam tahun, Gianna, hingga ke jenjang perguruan tinggi.

Selain membantu keluarga Floyd, West juga berdonasi untuk keluarga serta tim hukum yang menangani kasus Ahmaud Arbery dan Breonna Taylor. Pihak perwakilan West mengonfirmasi, total donasi West untuk tiga pihak tersebut berjumlah dua juta dolar AS.

Pria 42 tahun yang merupakan suami dari figur publik Kim Kardashian itu juga secara terpisah menyumbangkan uang untuk sejumlah warga beretnis Afrika-Amerika di Chicago. Bantuan utamanya ditujukan bagi mereka yang memiliki usaha dan terdampak akibat krisis pandemi Covid-19.

West menentang ketidakadilan rasial yang menjadi persamaan ketiga kasus tersebut. Floyd yang beretnis Afrika-Amerika tewas saat ditahan empat perwira polisi kulit putih atas tuduhan melakukan transaksi senilai 20 dolar AS dengan uang palsu.

Ahmaud Marquez Arbery, juga seorang pria Afrika-Amerika. Pemuda 25 tahun itu ditembak di dekat Brunswick di Glynn County, Georgia, Februari silam saat joging. Dia dikejar tiga pria kulit putih yang meyakininya sebagai buronan perampok.

Sementara Breonna Taylor adalah perempuan Afrika-Amerika yang bekerja sebagai petugas medis. Maret 2020, petugas kepolisian mendobrak apartemennya di Louisville, Kentucky, dan menghujaninya dengan delapan tembakan atas tuduhan transaksi narkoba yang tidak terbukti.

Sejak akhir Mei, gelombang protes terus berkobar di Amerika Serikat dan sejumlah negara lain. Demonstran menuntut berakhirnya rasisme sistematis dan tindakan brutal polisi, yang terlihat dari kasus Floyd, Arbery, dan Taylor, dikutip dari laman TMZ.

Comment 0