Ilmuwan dari Europan Space Agency (ESA) memberikan hipotesis soal pelemahan misterius medan magnet Bumi yang disebut menjadi tanda bakal terbaliknya medan magnet dari Kutub Utara dan Selatan. 

Pelemahan ini terjadi di area yang terbentang antara Amerika Selatan dan Afrika yang kemudian dikenal dengan julukan South Atlantic Anomaly. 

Sebab hal ini disebutkan telah terjadi berkali-kali di sepanjang sejarah planet Bumi. Pembalikan kutub ini menurut ESA sudah tertunda kira-kira sekitar 250 ribu tahun. Namun teori ini tak bisa diterima sepenuhnya oleh ilmuwan lain. 

Fenomena melemahnya medan magnet ini memang tidak menimbulkan risiko bagi manusia atau mahkluk lain di permukaan Bumi.

Namun, pelemahan ini berpengaruh pada pesawat ruang angkasa dan satelit yang melayang di orbit rendah yang tengah ada di wilayah tersebut.

Pesawat-pesawat ini kemungkinan mengalami malfungsi ketika melewati kawasan dengan medan magnet yang melemah. Medan magnet juga melindungi Bumi dari radiasi kosmik dan partikel bermuatan yang dipancarkan matahari. 

Penelitian ESA juga menunjukkan adanya titik pelemahan magnet kedua di Afrika Selatan. Sehingga, menurut ESA hal ini bisa menjadi anda kalau fenomena South Atlantic Anomaly bisa terbagi dua.

"Anomali Atlantik Selatan yang baru di wilayah timur telah muncul dalam sepulih tahun terakir dan dan tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir", jelas Jurgen Matzka dari Pusat Penelitian Geosains Jerman seperti dikutip dari Sputnik News, Minggu (24/5). 

"Kita sangat beruntung punya satelit untuk menginvestigasi perkembangan South Atlantic Anomaly. Tantangannya sekarang adalah untuk memahami proses di inti Bumi yang memicu perubahan itu," kata dia seperti dikutip Tech Explorist.

Satelit Swarm ini memang dirancang untuk mengidentifikasi dan mengukur dengan tepat perbedaan sinyal magnet yang membentuk medan magnet Bumi.

Comment 0