Ilham Habibie (kiri) dalam sesi diskusi “Diaspora: Transformasi dan Sinergi Budaya Global dan Lokal Indonesia.” Foto: Andesta Herli Wijaya/kumparan

Sejak virus corona merebak awal tahun lalu ke berbagai negara, industri penerbangan global ikut merana. Tak ada penumpang, jadwal penerbangan pun terkikis habis.

Banyak maskapai penerbangan sehat di dunia seperti Lufthansa dari Jerman pun butuh suntikan dana besar sehingga rela dibeli sahamnya oleh pemerintah di sana. Sedangkan Thai Airways dari Thailand baru-baru ini menyatakan diri bangkrut.

Komisaris PT Regio Aviasi Industri (RAI) Ilham Habibie memperkirakan, akan banyak maskapai yang tak mampu meraih laba di masa mendatang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), hanya ada empat maskapai dunia yang mampu untung, sedangkan sisanya merugi.

Karena itu, kata dia, maskapai harus mau berinovasi agar tercipta bisnis penerbangan di masa sulit sekalipun. Salah satu yang harus dipikirkan adalah masalah tempat duduk atau kursi penumpang.

"Ada perusahaan dari Italia, mereka gagas tetap duduk dari pesawat dan relatif terproteksi dari tetangga kursi kita, menggunakan sekat bening (di bagian kepala untuk menutupi wajah) dan ketika kita putar balikkan tempat duduk yang tengah, berjarak dengan di kursi di sebelahnya (kiri dan kanan)," kata dia dalam sambutannya di diskusi SMA Pradita Dirgantara secara daring, Rabu (3/6).

Selain itu, bisnis penerbangan komersial ke depannya juga akan banyak yang bergerak di pengiriman barang seiring dengan banyaknya orang belanja secara online. Karena itu, bisnis kargo bisa jadi pilihan maskapai.

Ilham Habibie di Indonesia Ekonomi Forum Foto: Yuana Fatwalloh/kumparan

Kata Ilham, saat ini bahkan kursi penumpang banyak yang tak diisi orang melainkan barang. Ke depannya, kata dia, bisa saja maskapai menaikkan porsi kargo dibandingkan kursi penumpang dalam satu pesawat.

Inovasi lain yang bisa dikembangkan adalah beralih ke bisnis drone. Pesawat tanpa awak ini telah populer beberapa tahun belakangan. Ke depannya, bukan tidak mungkin bisa dikembangkan untuk penerbangan komersial, khususnya pada layanan pengiriman barang atau kargo.

"Ini satu hal yang kelihatannya di banyak negara makin diperlukan drone. Sampai saat ini penggunaanya lebih ke dunia sipil misalnya antarkan barang, untuk gantikan pesawat dengan drone sudah dibayangkan karena kilometer dan volume terbatas, tapi untuk hal tertentu, ini sangat bermanfaat," ujarnya.

Salah satu produsen pesawat yang sudah mulai membuat drone adalah Boeing dengan meluncurkan drone Wingman. Drone ini diciptakan untuk mendampingi pesawat terbang tempur yang dilengkapi senjata, sebuah teknologi yang penting untuk dipelajari Indonesia. Drone juga bisa dibuat untuk mengirim barang, menjangkau area kebakaran, hingga menyemprotkan cairan anti hama.

Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona.

*****

kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!

Comment 0