KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO
Pasien orang tanpa gejala (OTG) dan pasien reaktif hasil rapid test Covid-19 melakukan senam pagi bersama relawan dan tenaga medis di Rumah Singgah Karantina Covid-19, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (27/5/2020). Rumah Singgah Karantina Covid-19 ini merawat 33 pasien OTG Covid-19 dan 12 orang reaktif hasil rapid test.

KOMPAS.com - Virus corona SARS-CoV-2 yang bertanggung jawab atas penyakit Covid-19 ditularkan antar-manusia melalui kontak langsung, tetesan air liur saat batuk atau bersin, dan kemungkinan terbaru menyebar di udara.

Sebagian besar orang yang terinfeksi Covid-19 menunjukkan gejala. Namun, ada pula pembawa asimptomatik atau orang tanpa gejala (OTG) yang berisiko tinggi menularkan virus ke orang lain.

Asimptomatik berarti seseorang telah terinfeksi virus tapi tidak merasa sakit atau menunjukkan gejala apa pun.

Ini berbeda dari pra-gejala, yang berarti seseorang tidak menunjukkan gejala pada tahap awal penyakit tetapi mengembangkannya nanti.

Bagi seseorang yang tidak menunjukkan gejala, waktu antara infeksi dan timbulnya gejala dapat berkisar dari 1-14 hari.

Baca juga: Studi Corona: OTG Masih Jadi Ancaman Penyebaran Covid-19, Kok Bisa?

Selain berisiko menularkan virus ke orang lain, OTG biasanya pernah melakukan kontak erat dengan kasus positif Covid-19.

Hal ini dikatakan spesialis paru dari RSUP Persahabatan dr. Budhi Antariksa, Sp.P (K), Ph.D.

Menurut pedoman penanganan cepat medis dan kesehatan Masyarakat Covid-19 di Indonesia, kontak erat adalah seseorang yang melakukan kontak fisik atau berada di 1 ruangan dalam jarak 1 meter dengan kasus PDP atau Positif Covid-19.

Orang yang melakukan kontak erat antara lain:

  • Petugas kesehatan di tempat perawatan kasus yang tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) sesuai standar
  • Orang yang berada dalam suatu ruangan yang sama dengan kasus positif Covid-19 dalam 14 hari terakhir
  • Orang yang bepergian bersama dalam radius satu meter menggunakan kendaraan yang sama dalam 14 hari terakhir.

Apakah benar, daya tahan tubuh yang baik menjadi salah satu faktor terinfeksi Covid-19 tidak menunjukkan gejala atau asimptomatik?

Dokter Budhi mengatakan, ada berbagai pertimbangan yang bisa menjadikan seseorang sebagai OTG.

"Antara daya tahan tubuh yang baik atau virusnya tidak ganas (relatif lemah). Maka dia bisa saja ada (terinfeksi Covid-19), tapi dia tidak memberikan gejala pada inangnya atau manusianya yang dihinggapi (virus)," kata Budhi dalam diskusi online bertajuk Menyiapkan Kehidupan Normal dengan Meningkatkan Daya Tahan Tubuh yang diadakan Imboost, Kamis (9/7/2020).

"Jadi bisa ada dua kemungkinan," imbuh dia.

Budhi pun mengajak kita menengok kondisi Jakarta saat ini dibandingkan dengan bulan Maret.

Budhi menilai, pada awal kasus Covid-19 dikonfirmasi di Indonesia, kebanyakan pasien adalah orang-orang dengan kondisi tidak baik dan rentan terinfeksi virus. Seperti orang yang sudah berusia lanjut, memiliki penyakit komorbit yang melemahkan daya tahan tubuh, dan sebagainya.

Namun saat ini, kebanyakan pasien Covid-19 kondisinya tidak seburuk seperti saat awal kasus.

Baca juga: WHO Akui Covid-19 Mungkin Menyebar di Udara, Apa yang Nanti Berubah?

Pentingnya meningkatkan daya tahan tubuh

Budhi mengingatkan, meningkatkan daya tahan tubuh harus dilakukan semua orang apalagi di tengah pandemi seperti saat ini.

"Sebab saat terkena suatu penyakit, dia tidak akan separah dengan orang yang memiliki daya tahan tubuh tidak baik," ungkap Budhi.

Hal ini bisa dilakukan dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat, makan-makanan bergizi, berolahraga, dan dibantu suplemen vitamin.

"Jadi yang salah saat dia sudah mengalami cytokine storm (badai sitokin), baru dia minum obat yang meningkatkan daya tahan tubuh," kata Budhi.

"Itu ibaratnya kalau perang, benar-benar hebat," imbuhnya.

Budhi menjelaskan, yang dimaksud dengan cytokine storm adalah satu proses perang antara virus dengan daya tahan tubuh kita. Nah, ketika kedua hal ini sama kuatnya, maka dampaknya akan sangat merusak kesehatan.

Namun jika sejak dini kita sudah melindungi tubuh dengan daya tahan yang baik, kemungkinan besar kita sudah membangun sistem imun yang lebih kuat dibanding virus.

Penulis: Gloria Setyvani PutriEditor: Gloria Setyvani Putri

Comment 0