Part 2

Cinta itu seperti air, mengalir begitu saja tak peduli arah dan tujuannya.

***

Setelah kejadian di toilet waktu itu, perlahan Devan dan Sania menjadi dekat. Memang, mereka masih seperti kucing dan tikus, tetapi ada sesuatu yang berbeda.

Sikap Devan menjadi lebih normal pada Sania begitu pula dengan Sania. Semakin lama mereka semakin dekat. Tak jarang, sepulang sekolah Devan mengantar Sania pulang ke panti asuhan tempat Sania tinggal, kemudian Devan bermain sejenak bersama anak panti lainnya.

Waktu terus berlalu, persahabatan di antara keduanya semakin dekat. Hingga mereka kini kelas XI pun tempat duduk mereka masih bersebelahan. Tidak ada yang berubah.

Hampir setahun sejak kejadian Devan menolongnya dari serangan senior kelas XII, Sania masih belum bisa melupakan insiden itu. Bagaimana Devan datang seperti malaikat penyelamat baginya. Bagaimana Devan menenangkannya dengan sebuah pelukan. Mengingat itu semua selalu membuat jantungnya berdetak tidak karuan. Sania terkadang berpikir bahwa mulai ada sesuatu yang salah dengan dirinya.

Semalam Devan menelepon Sania dan meminta dia untuk datang pagi-pagi ke rumahnya karena Raina, mamanya Devan sedang ke luar kota. Otomatis, tidak ada orang yang membangunkan Devan. Yah, kalau sekadar alarm jam dan telepon saja sudah tidak mempan membangunkan Devan dari tidurnya. Sania sudah biasa ke rumah Devan karena cowok itu sering mengajak Sania ke sana.

Pagi ini, Sania sudah berada di depan pintu kamar Devan. Sania menggelengkan kepala, menghilangkan bayang-bayang Devan yang sedang memeluk tubuhnya. Dia teringat akan tujuan utamanya datang ke kamar Devan, yaitu membangunkan cowok itu.

“Devaaaaaan!” Sania berkacak pinggang melihat Devan masih meringkuk di atas kasur dengan selimut yang menggulung tubuhnya.

“Udah jam setengah tujuh, dan lo masih belum mau bangun?”

Sania berjalan ke arah jendela, lalu membuka kelambu jendela kamar Devan. Sinar matahari langsung menerobos masuk dan menerpa wajah Devan. Cowok itu mengerang dengan sudut matanya yang berkedut. Sania menghela napas panjang melihat Devan menutupi wajahnya dengan selimut.

“Devan ih, kebo banget sih, lo!”

Kesal dengan Devan, Sania lebih memilih merapikan kamar cowok itu, yang lebih terlihat seperti kapal pecah. Berantakan. Bantal, guling, dan semua barang-barang Devan berserakan di mana-mana.

Kamar Devan sudah selesai Sania rapikan, tapi cowok itu masih saja belum mau bangun.

“Dev … bangun.” Sania menggoyangkan tubuh Devan perlahan sambil menepuk-nepuk pipi cowok itu, tapi yang didapatnya hanya erangan.

“Devan bangun, kita harus sekolah.”

“Iyaaa iyaaa, lima menit lagi gue bangun,” gumam Devan tak jelas, kemudian menutupi wajahnya dengan bantal.

“Terserah lo.” Sania yang sudah kesal, kemudian keluar dari kamar Devan. Dia pergi menuju dapur dan memanggang roti untuk mereka berdua sarapan. Tak lupa, dia membuat susu cokelat hangat kesukaan Devan.

Sania menyalakan dispenser, lalu mengisi gelas yang sudah terdapat bubuk susu cokelat di dalamnya dengan setengah air panas dan setengah air dingin.

“Morning .…”

Sania menoleh ke belakang dan mendapati Devan yang tersenyum ke arahnya. “Pagi juga, kebo.” Sania kembali fokus pada susu di depannya. Dia mengaduk susu cokelat itu sehingga menciptakan suara dentingan sendok dan gelas yang saling bertabrakan.

Sania terkejut ketika merasakan tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari arah belakang. Siapa lagi kalau bukan Devan. Hubungan mereka memang menjadi seperti ini. Terkadang persahabatan mereka terlihat lebih dari itu.

“Dev, apaan sih? Lepasin, nggak?”

Merasa tidak nyaman, Sania mencoba melepaskan tangan Devan yang melingkar di pinggangnya. Semakin Sania berusaha melepaskan tangan Devan, semakin Devan mengeratkan pelukannya.

Devan meletakkan dagunya di atas pundak Sania, membuat Sania bisa merasakan embusan napasnya. Jantung Sania berdetak lebih cepat.

“Dev, nanti nyokap lo lihat!”

“Mama kan, lagi di luar kota,” jawab Devan ringan.

“Lepas atau kepala lo gue siram cokelat, nih?”

“Kejam!” Devan melepaskan pelukannya, kemudian menarik sebuah kursi ke samping Sania dan duduk.

“Nih!” Sania menggeser gelas yang berisi susu ke hadapan Devan. Dalam beberapa tegukan, Devan sudah menghabiskan seluruh isi gelas tersebut.

“Apaan, nih?” Mata Devan berbinar melihat beberapa lembar roti bakar di atas meja bar minimalis di depannya.

“Cecak goreng,” jawab Sania asal dan langsung mendapatkan jitakan di kepalanya.

“Sekarang siapa yang kejam?” Sania mengelus kepalanya kesal.

Devan mengambil selembar roti dari atas piring, lalu memakannya. Dia mengubah posisi duduknya menjadi menyamping menghadap Sania yang berdiri. Matanya memperhatikan Sania, cewek itu juga sedang menatapnya. Devan seakan mengingat sesuatu yang sejak tadi ia lupakan. Buru-buru dia menelan roti bakar di dalam mulutnya. “Lo nggak sarapan?”

Sania menggeleng. “Lihat lo makan langsung bikin gue kenyang,” kata Sania berjalan menuju wastafel dengan membawa gelas kosong bekas susu cokelat Devan.

“San, gue nggak suka meluk cewek kurus,” rengek Devan seperti anak kecil.

“Ya, terus?”

Entah sejak kapan Devan sudah berdiri di belakang Sania. Cowok itu membalikkan tubuh Sania sehingga mereka berdiri berhadapan. Tangan Devan menekan kedua pipi Sania. Saat Sania mengaduh kesakitan, Devan memasukkan potongan roti ke mulut cewek itu.

“Sokiiit Dovooon!”

Devan terbahak-bahak mendengar kosakata Sania yang tidak jelas karena roti memenuhi ruang mulutnya. Sania langsung memukul Devan bertubi-tubi. Cowok yang sudah siap dengan seragam putih abunya itu segera mengunci kedua tangan Sania.

“Wleeeeee ….” Devan menjulurkan lidah, lalu berlari keluar dapur meninggalkan Sania.

***

“Pegangan, dodol!”

“Udah.” Sania menggenggam ujung kemeja putih Devan.

“Gue nggak mau masuk TV gegara lo jatuh dari motor.”

“Bagus, kan, lo bisa jadi artis.”

“Nggak masuk TV juga gue udah kayak artis.”

“Pede abis!” Sania memukul bagian belakang kepala Devan yang tertutup helm.

“Pegangan yang bener atau kita nggak akan berangkat sampai pintu gerbang sekolah tutup!” ancam Devan mencabut kunci motornya. Seketika suara gaduh motor besar Devan menghilang begitu saja.

“Ya udah, nggak usah sekolah.” Sania tetap pada pendiriannya. Devan melirik Sania dari kaca spion, lalu menyunggingkan senyum liciknya.

“Pulang sekolah kita beli es krim, yuk!”

Inilah senjata andalan Devan jika Sania tidak mau menuruti kemauannya. Setiap Devan menyebutkan kata es krim, Sania tidak akan bisa lagi menolak. Sania menelan ludah membayangkan bagaimana es krim kesukaannya meleleh di dalam mulut siang nanti. Jika sudah begini, nalurinya tidak mampu menolak sedikit pun.

Mengerti akan maksud Devan, ragu-ragu, tangan Sania mulai melingkar di pinggang Devan disusul suara gaduh mesin motor Devan yang menyala lagi.

Sesampainya di sekolah, mereka disambut dengan suasana riuh murid-murid sekolah. Sama seperti hari guru tahun lalu, hari ini sekolah mereka mengadakan berbagai rangkaian acara di kelas masing-masing. Dari mulai memotong tumpeng sampai memberikan kado pada wali kelas mereka. Setelah acara hiburan yang dipersembahkan untuk wali kelas usai, waktunya siswa menyaksikan penampilan dari ekskul band sekolah di lapangan dan bermacam games yang dikhususkan untuk guru.

Daripada nonton hal yang tidak jelas, Devan lebih memilih diam di kelasnya. Cuaca di luar juga sedang panas. “Lebih baik ngadem di kelas,” gumamnya pada diri sendiri.

“Devaaan pin-nya jangan dicabutin dong!”

“Pinjem sebentar doang, nanti gue balikin,” Devan mencabuti pin yang menancap pada mading kelas yang berbahan styrofoam sehingga salah satu hiasan yang menempel di mading itu terjatuh.

“Tuh kan, rusak, bandel banget sih, lo!” Lolita yang lebih sering disapa Loli itu memukul kepala Devan dengan beberapa lembar gulungan kertas di tangannya.

“Aduh! Gue tusuk juga, nih, anak!” ancam Devan.

“Ih, jangan bercanda gitu, ngeri tahu!” Loli berjalan mundur karena tangan Devan yang seperti akan menusuknya dengan ujung pin yang tajam.

“Siapa yang bilang gue bercanda?” Devan tersenyum miring sembari mengarahkan ujung pin ke perut Loli.

“Huwaaaaaa ….” Loli berlari ketakutan menghindari Devan dan langsung dikejar oleh Devan. Saat menengok ke belakang, ternyata Devan masih mengejarnya membuat Loli semakin berteriak ketakutan. Kursi dan meja berdecit karena didorong oleh Loli untuk menghindari Devan dan pin di tangannya.

“Saaan tolongin gue!” Lolita berlari ke arah pintu saat Sania baru saja masuk dari sana. Cewek itu terlihat kebingungan karena Loli yang tiba-tiba bersembunyi di belakang punggungnya.

“Devan, lo nggak ada kapoknya bikin anak orang nangis. Udah ah!!!” Sania berusaha melindungi Loli dari serangan Devan.

“Dia yang duluan mukul gue, kok!”

“Kayak anak kecil aja lo, pakai balas dendam,” ujar Sania kesal. Karena Sania lebih membela Loli, Devan mencabut balon berwarna merah yang menempel pada tembok di dekatnya. Dalam hitungan detik, balon dengan bintik putih itu meledak di hadapan Sania.

Telinga Sania berdengung karena suara ledakan balon yang begitu keras. Dia merasa jantungnya ingin melompat keluar saat itu juga. Mata Sania memelotot menandakan dia begitu terkejut. Sedangkan Lolita yang bersembunyi di belakang Sania terjungkal ke belakang hingga punggungnya menabrak tembok.

“Devaaaaaan!”

Gantian, kali ini giliran Devan yang dikejar oleh Sania. Cowok itu berlarian di atas meja, melompati meja demi meja yang sudah tidak beraturan. Bekas sepatu Devan seperti stempel di atas meja teman-temannya. Beberapa kali kakinya hampir tertangkap, beruntung kaki Devan lebih cepat beberapa detik dari Sania.

“Turun, nggak?” Sania mulai ngos-ngosan dan lelah. Dia sudah tidak berusaha menangkap Devan lagi.

“Nggak mau, lah!” Devan masih tetap berdiri di atas meja.

“Turun, Dev ….”

“Nggak.”

“Awas aja sampe lo ketangkep, abis tuh, rambut.”

“Nih, makan rambut gue.” Devan menyodorkan kepalanya ke arah Sania dengan ekspresi mengejek.

“Omaigat! Pak Hasan!” Loli memekik. Mendengar nama guru Matematika ter-killer seantero sekolah membuat bulu kuduk Devan merinding. Cowok itu segera melompat turun dari atas meja dengan sempoyongan.

Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas, gerak cepat Sania mendorong tubuh Devan sehingga cowok itu jatuh terduduk di lantai. Tanpa pikir panjang Sania langsung menjambak rambut Devan gemas.

“Aduh San, ampun, ampun!” Devan meringis memegangi tangan Sania yang sedang menjambak rambutnya.

“Nggak ada ampun buat cowok kayak lo!”

“Sania! Devan! Kalian sedang apa?” Serempak Sania dan Devan memandang ke arah sumber suara. Di sana ada Pak Hasan yang sedang berdiri dengan kedua mata memelotot.

***

Karena kecapekan membersihkan semua kamar mandi di sekolah, Devan langsung mengajak Sania ke rumahnya tanpa mengantar cewek itu pulang.

“Capek banget gue!” Devan menenggak segelas air putih dingin yang diambilnya dari dapur.

“Deeev, udah mau magrib, anter gue pulang yuk!” Sania merengek. Devan menghapus sisa air putih di sekitar bibirnya, lalu melirik Sania yang duduk di sampingnya.

“Lo nginep di sini aja, temenin gue.”

“Temenin apaan? Sebentar lagi juga, kan, nyokap lo pulang.”

“Ya nggak apa-apa. Bosen gue di rumah sendirian sampai malem. Lo sekalian nginep aja. Mama juga pasti seneng kalau lo nginep di sini. Ada yang bantuin nyiapin sarapan,” rayu Devan.

“Nggak ah, gue belum izin Ibu.”

“Siniin ponsel lo.” Tangan Devan seperti meminta sesuatu kepada Sania.

“Untuk apa?”

“Udah siniii.” Devan mengambil paksa ponsel yang digenggam Sania, lalu mengutak-atik ponsel tersebut.

“Mau ngapain, sih?”

Tepat setelah Sania bertanya, Devan menempelkan ponsel Sania di telinganya.

“Ihhh, ponsel gue!” Belum sempat Sania mengambil ponselnya, cowok itu lebih dulu berdiri dan berjalan sedikit menjauh dari Sania.

“Halo Bu, ini Devan.”

Sania mengerutkan keningnya bingung.

“Bu, Sania-nya mau nginep di rumah saya malem ini, boleh, kan? Lagian, besok hari Sabtu, sekolah libur, sekalian mau kerja kelompok.”

Sania sontak terkejut. Sepertinya Devan menelepon penjaga panti, yang lebih sering Sania dan anak panti lainnya panggil dengan sebutan “ibu”.

“Ohhh iya, Bu, makasih.” Devan menjauhkan ponsel Sania dari telinganya, lalu berbalik.

Devan tersenyum. “Lo udah dapet izin.” Cowok itu melemparkan ponsel Sania yang beruntung dengan telak jatuh ke atas paha Sania.

Comment 0