Part 1

Aku terperangkap dalam harapan semu yang kuciptakan sendiri.

***

Pagi ini siswa X.1 disibukkan dengan aktivitas menyalin PR dari buku teman yang sudah mengerjakan. Pasalnya, jam pelajaran pertama akan diisi oleh Pak Hasan, guru Matematika yang terkenal killer dan tak berperasaan. Ditambah dengan kumis tebal dan mata elangnya, membuat guru itu semakin terlihat menyeramkan. Kalau sampai ada yang berani tidak mengerjakan tugas, Pak Hasan akan mengamuk dan tak segan mengeluarkan siswa tersebut dari kelas. Membayangkan kemarahan beliau saja sudah cukup menyeramkan dan membuat siswa X.1 pagi ini berkeringat dingin.

“Devan! Bisa diem, nggak, sih lo!” teriak Sania penuh kemarahan. Kali ini Devan melempari Sania dengan penghapus karet yang dipotongnya kecil-kecil. Teman sebangku Sania itu selalu saja menyulut emosinya di saat yang tidak tepat. Saat ini Sania sedang sibuk menyalin PR dari buku Rere. Jadi, untuk saat ini dia tidak ingin diganggu.

Devan tak menghiraukan ancaman dan tatapan membunuh dari Sania, malah wajah marah cewek itu membuatnya semakin bersemangat. Devan hanya berhenti sejenak mengganggu Sania. Beberapa saat setelah Sania kembali sibuk menulis, dia mengulangi lagi perbuatannya tadi.

“Yesss, goal!!!” Devan berteriak histeris bagaikan orang yang baru saja memasukkan bola ke gawang setelah penghapus karet yang dilemparnya dengan telak masuk ke mulut Sania.

Jika saja Sania tidak sedang sibuk menyalin PR, mungkin sekarang dia sudah menjambak habis-habisan rambut cowok menyebalkan itu. Sania menarik dan membuang napas perlahan, menahan agar emosinya tidak meledak. Setelah itu Sania kembali melanjutkan menyalin PR karena tidak ada waktu untuk sekadar meladeni Devan.

Devan tidak akan berhenti sebelum Sania benar-benar mengamuk. Jika apa yang dilakukannya tadi belum bisa membuat Sania hilang kendali, dia masih memiliki cara lain. Ujung bibir cowok itu tertarik membentuk senyum tipis, dia sudah dapat ide sekarang.

“Devan sialan!” pekik Sania sehingga seluruh pasang mata tertuju pada tempat duduk di pojok belakang kelas, hanya sepersekian detik kemudian para siswa kembali pada aktivitas mereka masing-masing. Terlalu biasa sehingga mereka sudah bosan menyaksikan pertengkaran bak tikus-kucing antara Devan dan Sania.

“Sori San, gue sengaja, sumpah, eh, nggak sengaja maksudnya.” Devan tertawa puas. Dia baru saja menyenggol lengan Sania saat cewek itu sedang menulis sehingga Sania tidak sengaja mencoret bukunya sendiri.

“Pergi aja gih sana!” ucap Sania menusuk sambil menekan dan menggosokkan penghapus karet pada bagian bukunya yang tercoret.

Devan memajukan wajahnya sehingga dia dapat melihat ekspresi kesal Sania—cewek yang sudah menjadi teman sebangkunya tiga bulan terakhir ini. “Kalau gue pergi, yang jagain lo nanti siapa, Sayang?” ucap Devan sambil tersenyum penuh kemenangan.

Sania berhenti menulis, lalu melirik Devan yang juga sedang menatapnya. “Jijik, sumpah!”

Devan memegang pipi Sania dengan kedua tangannya. “Jijik, tapi kok, muka lo merah sih?” Kali ini Devan tidak mengada-ada, tapi memang seperti itu adanya. Wajah Sania memang sering mendadak berubah menjadi seperti kepiting rebus karena perkataan Devan.

“Woi, jangan mesra-mesraan di kelas! Ada CCTV!” celetuk Rere yang tiba-tiba sudah berdiri di samping meja Sania. Sania terkejut dan segera menepis tangan Devan dari pipinya.

Sania memalingkan wajahnya dari Devan, lalu mendongak menatap Rere. “Mesra-mesraan apaan? Lo pikir gue mau sama cowok tengil kayak dia?” Ujung mata Sania melirik Devan tajam saat mengatakan kata “dia”.

“Terserah lo berdua, deh! Btw, buku gue mana?”

“Yahhh Re, gue belum selesai nyalinnya. Sebentar lagi dehhh, pleaseeee ….” Sania menggosok-gosokkan kedua telapak tangan di depan dada dan memasang wajah memelas agar Rere mengasihaninya.

Dengan tiba-tiba, secepat kilat Devan mengambil buku PR Matematika Rere di atas meja Sania, kemudian mengembalikannya kepada pemilik buku tersebut. Tanpa menunggu lama, Rere meraih bukunya dan berlalu pergi karena tak ingin buku itu disita lebih lama lagi oleh Sania.

“Lain kali kalau ada yang nyontek, jangan dikasih Re!” teriak Devan pada Rere yang sudah berada di bangkunya, di meja paling depan.

Sania memelotot menatap Devan. Cowok itu langsung berpura-pura sibuk dengan ponsel di tangannya. Melihat wajah menyebalkan Devan, membuat Sania ingin menggaruknya saat ini juga. Namun, secara perlahan, tatapan Sania meneduh. Dia sudah lelah, ini bukan kali pertama Devan membuatnya kesal. Kapan pun, di mana pun, Devan selalu mengganggunya.

“Dev,” panggil Sania pelan dan penuh kesabaran. Namun, di balik itu semua, jari tangannya sudah gatal ingin menjambak rambut Devan sekarang juga. Tapi, tidak, dia menahan dirinya untuk melakukan itu. Kali ini, dia berencana meminta maaf kepada Devan. Mungkin saja dia memiliki kesalahan yang tak tersengaja sehingga Devan begitu sering mengganggunya.

“Hmmm .…” Devan balas berdeham tanpa mengalihkan perhatiannya pada layar ponselnya.

“Gue—”

“Jangan bilang lo mau nyatain cinta.” Belum selesai Sania berbicara, Devan segera memotong ucapannya. Lagi-lagi mata Sania memelotot mendengar perkataan cowok itu. “Sori San, bukannya gue nggak suka sama lo ya.” Pandangan Devan beralih kepada Sania, menatap cewek itu remeh. “Tapi, lo tinggiin dulu deh, tuh badan, biar serasi kalo jalan sama gue.”

Ceklek. Pintu kelas terbuka, lalu muncul seorang laki-laki tua yang membawa buku di tangannya. Keberuntungan sedang berpihak pada Devan, dia selamat dari amukan Sania yang akan segera memakannya hidup-hidup.

“Kumpulkan PR kalian ke depan, sekarang! Satu, dua, tiga ….” Inilah seruan maut Pak Hasan. Waktu untuk mengumpulkan PR ke depan hanya sepuluh detik.

Sama seperti yang dilakukan siswa lain, Devan segera berdiri, lalu keluar dari bangkunya. Satu-satunya jalan bagi Devan untuk keluar adalah lewat di depan Sania karena dia memilih duduk paling pojok dekat tembok.

“Aduh!” Sania meringis karena kakinya diinjak Devan. Kekesalan Sania pada cowok itu semakin menumpuk. Hampir bisa dipastikan, setelah ini Devan akan mendapatkan masalah besar. Perang dunia sepertinya akan terjadi setelah pelajaran Matematika usai.

“Astaga, gue belum selesai!” Sania panik, kemudian membolak-balik lembar buku PR-nya. Tiga nomor lagi maka akan genap menjadi sepuluh. Semua ini gara-gara Devan, coba saja dia tidak mengganggu Sania saat menyalin jawaban Rere, mungkin sekarang Sania sudah bisa bernapas lega. Mau tak mau Sania tetap mengumpulkan PR-nya ke depan. Lebih baik kurang daripada tidak sama sekali, pikir Sania.

“Sania Islami, sini kamu.”

Devan menepuk-nepuk pundak Sania seakan-akan dia ikut bersedih karena Sania dipanggil ke depan. Sudah pasti, Sania akan mendapatkan hukuman karena tidak menyelesaikan PR-nya.

Betapa bahagianya Devan. Dia ingin sekali berterima kasih kepada wali kelas mereka yang menempatkannya duduk di sebelah Sania.

***

Jam pelajaran Matematika sedang berlangsung, Devan melirik kursi kosong di sebelahnya. Pemilik kursi tersebut sedang membersihkan kamar mandi sekolah. Rasa bosan dan kantuk pada dirinya membuat cowok itu uring-uringan.

Pelajaran Matematika terasa sangat membosankan karena Devan sudah mengerti tanpa dijelaskan sekalipun. Devan tidak pernah mengikuti bimbel atau les privat. Mungkin karena IQ-nya yang terlalu tinggi, membuat Devan cepat mengerti meski hanya dengan membaca buku.

“Sialan lo!” Suara Sania memenuhi pikiran Devan. Membayangkan wajah Sania yang memerah karena kesal membuat Devan senyum-senyum sendiri.

Sania berbeda dari cewek lain. Biasanya, cewek lain akan mengejar Devan, hanya Sania yang cuek dan tidak menghiraukan dia. Satu lagi yang membuat Devan tertarik pada teman duduknya itu, Sania bukanlah cewek yang suka jaim di depan banyak orang. Sania selalu apa adanya.

“Pak.” Devan mengangkat tangan. Guru Matematika yang sedang menerangkan konsep luas segitiga itu berhenti menulis, kemudian beralih melihat Devan.

“Saya mau izin keluar, mau cuci muka.”

Guru tua itu terlihat berpikir sejenak sebelum mengangguk, memberikan izin untuk Devan.

“Cepat sedikit,” pesan Pak Hasan kepada Devan, setelah itu Devan langsung bergegas meninggalkan kelas.

“Pak saya juga mau izin.” Putra yang lebih sering disapa Bombom itu juga ikut berdiri setelah Devan keluar.

“Yang boleh keluar hanya siswa pintar, siswa yang mendapat predikat pemalas tidak diperbolehkan keluar kelas selama pelajaran saya berlangsung. Sekalipun urine kalian sudah di ujung tanduk, tahan saja!”

Bombom kembali duduk di kursi, mengingat dirinya termasuk siswa pemalas. Julukan itu diberikan oleh wali kelas mereka, Pak Hasan yang terkenal kejam karena kerap mendiskriminasi siswa.

Devan berlari menelusuri koridor sekolah yang sepi. Hanya ada satu dua siswa terlihat karena jam pelajaran sedang berlangsung. Sudah dua toilet Devan periksa, tetapi dia belum menemukan Sania.

Kaki Devan menuruni satu per satu anak tangga dengan sedikit berlari. Cowok itu bermaksud memeriksa toilet yang berada di dekat kantin. Mungkin saja Sania ada di sana.

Sepanjang koridor yang Devan lewati, sudah tak terhitung berapa orang yang menyerukan namanya. Devan termasuk siswa yang pintar bergaul, tak heran jika dia memiliki banyak teman dari kelas lain.

“Oiii Dev!” sapa Reza anak X.6 yang berdiri di depan pintu kelasnya.

“Yooo!” Devan hanya menyahut dan mengangkat satu tangannya, tapi dia tidak menghentikan langkah.

“Hoshh .…” Devan mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Badannya setengah membungkuk, lalu kedua tangannya bertumpu pada lutut. Keringat di dahinya bercucuran karena jarak kelas X.1. dengan toilet kantin cukup jauh.

Cowok itu kembali berdiri tegak setelah sirkulasi pernapasannya kembali normal. Dahinya mengerut karena mendengar kebisingan yang berasal dari dalam toilet wanita.

“Lo pikir lo siapa, hah? Ngaca dong! Cewek kayak lo, tuh, nggak pantes ganjen sama Devan!”

Mata Devan memicing karena mendengar namanya disebut-sebut. Tapi, apa pedulinya? Sejak kapan seorang Devan tertarik pada mereka yang bertengkar hanya karena memperebutkan dirinya.

Devan memilih untuk menghindar karena menurutnya ia sama sekali tidak mempunyai urusan di sini. Itu adalah hak mereka jika ingin bertengkar. Devan tak ingin ikut campur.

“Akhhh!”

Teriakan tadi menghentikan langkah Devan. Cowok itu berbalik, suara perempuan tadi sangat familier.

Devan menajamkan pendengaran. Dia mendekat ke pintu toilet karena suara teriakan tadi berasal dari dalam sana.

“Ma-maaf, Kak ….”

Devan menajamkan pendengarannya. Ada sesuatu yang janggal, tapi dirinya tidak tahu apa itu.

“Sa-saya nggak akan deketin dia.”

Ekspresi Devan sedikit terkejut saat suara cewek di dalam sana terdengar lebih jelas. Tidak salah lagi, itu suara Sania.

Segera, Devan memutar knop pintu yang di atasnya bertuliskan “Toilet Wanita”. Beberapa kali Devan berusaha membuka pintu itu, tapi pintu tersebut tetap menolak, terkunci dari dalam. Devan semakin panik, sayup-sayup suara makian semakin terdengar.

Devan mundur beberapa langkah mengambil ancang-ancang, lalu ….

Brakkk!

Kaki Devan berhasil membuka paksa pintu tersebut dan setengah merusaknya.

Rahangnya mengeras ketika melihat pemandangan di dalam toilet. Tiga anak kelas XII sedang mengerubungi seorang cewek. Bahkan, dari sepatunya, Devan bisa menebak bahwa cewek yang berada di tengah dan menjadi korban adalah Sania.

Tanpa ragu Devan memasuki tempat yang terlarang baginya itu. Sudah tidak terpikirkan jika risikonya dia akan dapat hukuman karena ini. Devan tak peduli.

“Sialan lo semua!” Devan menarik lengan salah seorang cewek yang sedang mengeroyok Sania. Dia tidak akan segan melakukan kekerasan pada cewek jika sudah mengganggu hidupnya. Devan tidak ingin hal buruk saat ia SMP terulang lagi. Teman ceweknya masuk rumah sakit karena dipukuli oleh para penggemar fanatiknya.

“Devan.” Cewek yang tangannya ditarik Devan terkejut dan langsung melepaskan rambut Sania. Lalu, diikuti teman-temannya yang juga sadar akan kehadiran Devan.

Siapa pun yang berada di sana pasti bisa merasakan kemarahan Devan yang begitu memuncak. Dia meraih pergelangan salah seorang anak perempuan yang berdiri di sampingnya.

“Lo semua harus bayar mahal untuk ini.” Kata-kata Devan membuat tiga perempuan yang berada di dalam toilet itu menahan napas. Hanya dengan menatap wajah Devan saat ini adalah hal yang sangat mengerikan bagi mereka.

Devan mengempaskan tangan yang digenggamnya, membuat beberapa helai rambut Sania yang rontok berjatuhan.

“Pergi, sebelum gue melakukan hal buruk ke kalian!” Devan berteriak di depan wajah salah seorang senior kelas XII. Dia tidak takut atau gentar sedikit pun. Ketiga cewek itu ketakutan dan segera pergi dengan tergesa-gesa.

“Sori, gue telat dateng.” Devan menatap sayu Sania yang kini terlihat sangat rapuh. Penampilannya terlihat sangat acak-acakan. Tanpa pikir panjang, Devan melepaskan jaketnya, lalu memakaikan di tubuh Sania.

Kemudian, Devan langsung menarik tubuh Sania ke dalam pelukannya. Bisa Devan rasakan tubuh Sania yang bergetar. Dia mengeratkan pelukannya, berusaha menghilangkan ketakutan yang dirasakan Sania.

Hening, tidak ada suara sedikit pun, hanya deru napas mereka yang terdengar.

“Nangis aja, nggak apa-apa, gue di sini.” Setelah ucapan Devan tadi, perlahan Sania pun mulai menangis.

Comment 0