Fakta Baru, 239 Ilmuwan Sebut Covid-19 Menular Lewat Udara

JawaPos.com – Badan Kesehatan Dunia alias WHO terkesan sangat berhati-hati menyikapi pandemi Covid-19. Pembaruan rekomendasi terkait dengan wabah global yang menjangkiti hampir seluruh negara di dunia itu juga lamban. Padahal, fakta baru terus bermunculan dari berbagai penelitian.

’’Sejak 1946, sudah diketahui bahwa aktivitas berbicara dan batuk menciptakan aerosol,’’ kata Linsey Marr, pakar penularan virus lewat udara, kepada The New York Times, Minggu (5/7).

Aerosol merupakan partikel cair atau padat yang terperangkap partikel gas di udara. Ilmuwan yang tercatat sebagai pakar kesehatan pada Virginia Tech itu menyatakan bahwa dirinya dan rekan-rekannya telah berkirim surat terbuka ke WHO.

Rencananya, surat terbuka yang diteken 239 ilmuwan dari 32 negara itu juga akan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah pekan depan. Marr berharap masukan tersebut bisa membuat WHO segera mengubah rekomendasinya terkait dengan persebaran virus SARS-CoV-2. Salah satu yang terpenting adalah kewajiban memakai masker di dalam ruangan. Termasuk ruangan yang tertutup rapat.

Di dalam ruang tertutup dengan ventilasi buruk, virus bisa terperangkap dan menginfeksi orang-orang di dalamnya. Karena itu, masker wajib dipakai di dalam ruangan meski orang-orang di dalamnya menerapkan penjarakan fisik. Dalam surat tersebut, Marr juga menegaskan bahwa para tenaga kesehatan yang menangani pasien korona juga wajib memakai masker N-95.

Sistem ventilasi di sekolah, rumah jompo, permukiman penduduk, dan tempat usaha juga harus bagus. Jika perlu, ditambahkan filter udara yang berkualitas. Itu dilakukan agar sirkulasi di ruang tertutup tetap bagus. Para ilmuwan tersebut juga menyarankan penggunaan sinar ultraviolet untuk membunuh partikel virus di udara.

Surat terbuka tentang virus korona yang bisa menular lewat udara itu bukanlah yang pertama. Pada awal April, 36 pakar kualitas udara dan aerosol sudah mendesak WHO mempertimbangkan pencegahan penularan virus lewat udara. Sebab, cukup banyak bukti yang mendukung temuan itu.

WHO akhirnya menggelar diskusi dengan menghadirkan banyak pakar. Tetapi, hasil diskusi cenderung menekankan pada pentingnya mencuci tangan. Pendapat tentang virus yang bisa menularkan penyakit lewat udara tidak dibahas secara serius. Akibatnya, tidak ada rekomendasi WHO tentang pencegahan penularan lewat udara.

WHO meyakini penularan korona terbanyak adalah lewat droplet besar dari orang yang batuk dan bersin. Droplet semacam itu bisa dengan cepat jatuh ke lantai atau permukaan benda dan tidak mengambang di udara.

Ada kekhawatiran bahwa WHO tidak sigap menyikapi pandemi korona karena ada kepentingan politik yang menunggangi. Pertentangan Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok sedikit banyak disebut-sebut memengaruhi kebijakan WHO. Sampai sekarang pun, WHO tetap memutuskan bahwa upaya paling ampuh untuk mencegah korona adalah mencuci tangan dengan sabun.

Pemimpin Teknis Kontrol Infeksi WHO Dr Benedetta Allegranzi mengakui, ada desakan kuat dalam beberapa bulan terakhir untuk mempertimbangkan kemungkinan penularan lewat udara. ’’Tapi, itu tidak didukung bukti yang kuat dan nyata,’’ jelasnya.

Terpisah, WHO menegaskan bahwa mereka tidak lagi menggunakan obat malaria hydroxychloroquine dan kombinasi obat HIV lopinavir/ritonavir untuk pasien Covid-19. Sebab, obat-obatan tersebut ternyata tidak mampu mencegah kematian.

Saksikan video menarik berikut ini:

Comment 0