1. Berlarilah, Banyu!

Banyu, apa kau benar-benar yakin melakukan ini?

Teriknya matahari menyertai ketibaanku di Stasiun KRL Pasar Minggu. Menurut hasil mencari di Internet, inilah cara pertama yang harus kutempuh agar cepat sampai ke Terminal Kampung Rambutan.

Tak ada yang tahu keberadaanku di sini. Aku menyelinap keluar saat kedua eyangku tidur siang. Kutuju jalan raya setengah berlari. Kunaiki angkot biru yang membawaku ke stasiun ini. Perasaan berdebar terus mengiringiku sepanjang perjalanan. Entah karena terlalu bersemangat, atau terlalu tegang.

Kubawa ransel yang tadi pagi kusiapkan buru-buru, berisi: baju, Nintendo Switch, dan satu set alat gambar. Tak ketinggalan sedikit uang hasil menjebol celengan waktu kemarin pulang ke rumah. Jangan bingung. Rumahku dan Eyang sama-sama di Jakarta. Cuma berbeda satu blok dan bisa kutempuh dengan jalan kaki.

Kau ini anak 12 tahun yang gila, Banyu!

Bisa jadi. Dan aku tak mau berhenti gila cuma karena ragu-ragu. Aku harus sampai ke tempat tujuanku—suatu hutan di ujung timur Jawa sana. Tempat tanpa bau asap knalpot, tanpa kemacetan. Hanya lembap hutan dan hamparan padang rumput. Hmm … membayangkannya saja bisa membuat senyumku melebar.

Kutuju loket untuk membeli satu tiket kereta. Lalu berlari, karena tepat saat tiket kuterima, kereta dari arah Kota jurusan Bogor memasuki stasiun. Itu keretaku!

Napas yang tadi mulai melega, kembali sengal. Kutempelkan tiketku buru-buru di sebuah portal akses. Ya, sebentar lagi aku akan tiba di tempat itu! Tetapi, harus kutemukan dulu pamanku. Itulah kenapa aku pergi. Menyusulnya ke Terminal Kampung Rambutan, detik ini, siang ini.

**

Comment 0