Seorang anak ditinggalkan oleh orang tuanya dengan dirantai di sebuah pohon.

Intisari-Online.com - Ketika kita menyaksikan manusia entah masih balita atau sudah dewasa dirantai tentu akan berkomentar hal itu sangat kejam.

Namun jika Anda pergi ke sebuah kota di Tiongkok tepatnya di Jiaxing, di tenggara negara Komunis itu pemandangan ini akan dengan mudah dijumpai.

Di kota itu, Anda akan menyaksikan bagaimana anak-anak balita dirantai dan diikat dengan tali oleh orang tuanya.

Meski demikian, kenyataan sebenarnya orang tua balita ini tidak memiliki maksud untuk menyiksa mereka.

Sebaliknya ada fakta menyedihkan yang mungkin perlu Anda ketahui di sini.

Menurut Dailymail, kabar ini telah berhembus sejak 2010 silam, kota Jiangxing adalah kawasan pabrik di mana 110 juta pekerja migran tinggal di sana.

Alasan anak-anak itu dirantai karena orang tuanya miskin sedangkan mereka tidak sanggup membayar pengasuh bayi sementara orang tuanya harus pergi bekerja.

Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk merantai dan meninggalkan anak-anak itu sementara orang tuanya pergi bekerja.

Anak itu dirantai di sebuah rumah sementara orang tuanya bekerja.' (Dailymail)

Fakta mengerikan ini mencerminkan keadaan menyedihkan yang dihadapi oleh pekerja migran di negara berpenduduk terpadat di dunia itu.

Tidak ada penitipan anak-anak di kota itu yang berarti mereka seperti diterlantarkan di depan toko, sementara orang tuanya mengikatnya dengan tali supaya aman.

Di sana anak-anak yang telah ditali dibiarkan, salah satu balita bernama Jingdang dari Provinsi Zhejiang misalnya.

Bocah dua tahun itu diikat di dekat tiang lampu di Beijing.

Seorang anak menangis dengan ikatan di tubuhnya sementara orang tuanya bekerja.' (Dailymail)

Ayahnya bekerja sebagai pengayuh becak, sementara ibunya cacat mengumpulkan sampah di pinggiran jalan. Untuk mencegah anaknya berkeliaran, dia pun terpaksa dirantai.

Namun, seorang pejalan kaki yang melihat Jingdang melaporkan kepada pihak berwenang dan meminta ayahnya melepaskan rantai itu.

Alhasil, seorang bos pembibitan setempat yang iba dengan kondisi keluarga itu menawarkan perawatan gratis pada anak itu selama 3 tahun.

Sedikit uang yang diperoleh ayah bocah itu untuk sewa, makanan, dan perawatan kesehatan yang mahal meskipun rumah sakit itu milik negara di Komunis Tiongkok.

Artikel Asli

Comment 0