Photo by Nick Herasimenka on Unsplash
Photo by Nick Herasimenka on Unsplash

Seorang vokalis grup musik di usia matang belum menikah. Saya tahu ini hal sensitif. Namun beberapa jurnalis yang menemuinya dalam peluncuran album jauh sebelum wabah Covid-19 melawat Indonesia, kembali bertanya soal target nikah. Wah, lama-lama jurnalis showbiz negara ini kayak mak-mak lagi kumpul keluarga pas Lebaran. Pertanyaannya tak jauh-jauh dari, “Kapan kawin?” Atau, “Kapan punya anak?” Atau, “Kapan bikin adik buat si kakak, kan kasihan sendirian?” Dan seterusnya.

Target Meleset Tiga Kali

Waktu itu saya tidak ikut menanyakan hal serupa karena menurut saya basi. Saya di situ hanya ingin mendengar jawabannya. “(Pertanyaan) itu sudah kedaluarsa,” jawab vokalis band yang juga berkarier sebagai solis. Kita panggil dia Akang. Akang mengaku beberapa kali mencanangkan target melepas masa lajang. Berkali target dipasang, bablas begitu saja. 

“Saat target luput, wajar kalau saya kecewa dan mempertanyakan ini dalam doa,” Akang melanjutkan jawabannya. Lelah “dikerjai” target, Akang akhirnya ogah memasang lagi.

Dengan kata lain mengikhlaskan. “Soalnya saya sudah tiga kali pasang target nikah tapi selalu enggak kesampaian. Daripada ngedumel, lebih baik saya enggak ngoyo. Intinya soal jodoh saya sudah ikhlas,” kata Akang, sore itu.

Untuk tiba di fase ikhlas, menurut Akang, enggak mudah. Tiga kali gagal, artinya tiga kali kecewa. Mau menyalahkan Sang Khalik, tidak mungkin. Mau menyalahkan calon pasangan yang kini menjadi mantan, kesannya egois. Menyalahkan diri sendiri, juga tidak bijak. Yang dilakukan Akang, berdamai dengan diri sendiri. Setelah itu, ia mengubah pola pikir. Tidak semua hal bisa berjalan seperti yang kita harapkan. 

Konon, angan dan kenyataan kerap tak sejalan. Saya pun beberapa kali mengalami. Contoh paling anyar, saat cinta saya untuk seseorang di kedai kopi waralaba bertepuk sebelah tangan. Saat itu saya bilang kepada Yang Di Atas, “Setelah sekitar 6 tahun menjomlo gue berhak, dong Tuhan untuk punya pacar lagi? Saya sampai lupa lo rasanya malam mingguan?”

“Sampai kapan saya harus malam mingguan dengan cucian dua ember dan TV layar datar yang datarnya sama kayak percintaan saya?” tanya saya kepada Sang Khalik untuk kali kedua. Apakah Tuhan menjawab saya? Tidak. Eh, mungkin menjawab tapi hati saya terlalu bebal sehingga tidak mendengar-Nya.

Ya Sudahlah Ya…

Sampai suatu malam, saya bikin janji temu dengan penulis skenario yang pernah jadi nomine Festival Film Indonesia empat tahun silam. Sebut saja, Aleks. Duduk di sofa dan bergunjing di kedai kopi waralaba, mulanya Aleks curhat soal kariernya yang mentok. Ia seolah terjebak dalam proyek film yang genrenya itu lagi-itu lagi. 

Padahal, Aleks ingin sesekali ditantang menggarap skrip untuk genre di luar cinta-cintaan. Selama ini ia merasa ditempatkan produser sebagai second-liner. “Padahal gue pengin naik kelas dan menguji kapasitas diri di genre lain, Al,” keluhnya. Langkah Aleks untuk naik kelas tertahan stigma bahwa penulis naskah untuk film “serius” itu Mbak Anu dan Mas Inu. Bukan Aleks. Begitulah panasnya persaingan di industri layar lebar Tanah Air.

Berkali mencoba dan gagal, Aleks akhirnya meniti karier di luar film beberapa tahun terakhir. “Gue bukannya enggak berusaha. Gue mencoba, meyakinkan produser dan lainnya bahwa gue bisa tapi memang rezeki gue kayaknya enggak di situ,” Aleks curhat lagi. “Akhirnya gue bilang ke diri gue sendiri: ya sudahlah, ya,” ia menambahkan.

Saat Aleks mengucapkan itu, lewatlah orang yang saya taksir. Aleks melirik orang ini dan merasakan hati saya berdesir. “Gue tahu. Yang itu, kan? Al, mungkin ini saatnya lo bilang: ya sudahlah, ya,” Aleks menasihati saya. Ia mengingatkan, saya telah berupaya keras. Harus diakui, hasilnya memang tidak sesuai harapan.

Mantan Nurma Menikahi Sabahatnya

“Kayaknya enggak ada hal lain yang bisa kita ucapkan selain, ya sudahlah ya. Bukan enggak mau berusaha atau menyerah, tapi mengikhlaskannya,” imbuhnya. Saya mengangguk. Malam itu saya belajar bilang, “Ya, sudahlah ya.” Lalu mempraktikkan ketika situasi menyebalkan mendatangi saya. Ternyata “Ya sudahlah, ya” alias ikhlas efektif mereduksi aneka penyakit batin seperti marah, kecewa, depresi, dendam, pengin ngamuk, dan lain-lain. 

Mulanya tak mudah. Saat kehidupan tak berjalan sesuai rencana, saya bilang, “ya sudahlah ya” dengan nada tinggi. Dalam kesempatan lain, saya berujar, “Ya, sudahlah ya, anj***!” Mendengar ini, sahabat saya bilang, “Kalau lo bilang begitu sambil mengumpat, itu belum ikhlas, Al. Ikhlas lo di bibir saja.” 

Lalu alur hidup mempertemukan saya dengan Nurma, aktris film horor box office yang putus cinta lalu tak lama setelahnya sang mantan menikahi sahabat Nurma. Dalam sebuah sesi interview, Nurma mengaku belum 100 persen ikhlas. Meminjam bahasa anak zaman now, ikhlasnya masih on the way.

Usai interview, ia menepuk pundak saya sambil berkata, “Al, memaksakan sesuatu yang bukan rezeki kita, itu enggak baik. Kalau bukan rezeki lo, maka lo harus melepasnya dengan ikhlas. Dalam hidup, lo enggak bisa dapat semuanya. Jujur gue pengin itu (menikah).”

Lagi Nurma memberi tahu, “Sempat gue tanya sama Allah, kenapa dia dapat sementara gue enggak. Gue menyimpulkan, itu jalan hidup dia. Jalan hidup gue beda. Bukan berarti hidup gue lebih buruk. Jalan hidup setiap orang itu unik, Al, termasuk hidup lo”

Nurma pamit. Perlahan ia silam dari lokasi interview. Tapi perkataannya masih terdengar lugas saat saya menulis artikel ini. Ekspresi wajah Nurma saat menyampaikan wejangan itu masih tampak jelas. Mungkin mulai hari ini saya perlu belajar bilang, “Karena jalan hidup gue unik, ya sudahlah ya, gue nikmati saja.”

Comment 0