Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian (foto: Antara)
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian (foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id - Pemerintah China meminta Indonesia segera mengambil langkah konkret terkait tewasnya anak buah kapal (ABK) Warga Negara Indonesia (WNI) di atas kapal berbendera China.

Seorang WNI bernama Hasan Afriandi asal Lampung meninggal dunia di salah satu kapal berbendera China, Lu Huang Yuan Yu 118 pada Rabu (8/7/2020) kemarin. Saat kapal penangkapan ikan itu disergap patroli laut Indonesia, jenazah Hasan ditemukan berada di dalam ruangan pendingin yang biasa dipakai menaruh ikan.

Ini bukan kali pertama ABK Indonesia meregang nyawa di atas kapal berbendera China, pada Juni lalu sempat viral video jenazah ABK Indonesia dilarung ke laut dari kapal penangkap ikan Nigeri Tirai Bambu.

Kementerian Luar Negeri China menaruh perhatian pada kasus tersebut. Beijing mengatakan pihaknya terus menjalin komunikasi secara intensif dengan Indonesia mengenai kasus itu.

"China memberikan perhatian soal ini. China meminta pihak Indonesia mengambil tindakan konkret dan efektif untuk melindungi hak dan kepentingan kapal nelayan China dan anggota kru serta agar masalah ini bisa tertangani secara tepat dan cepat," kata juru bicara Kemlu China, Zhao Lijian, di Beijing dikutip dari Antara, Sabtu (11/7/2020).

Zhao menyayangkan sikap Indonesia yang menahan kapal penangkap ikan China tanpa pemberitahan terlebih dulu. Apalagi, tambah Zhao, kapal China itu berlayar secara normal di rute internasional.

Sementara itu, Polda Kepulauan Riau meminta keterangan 23 ABK asing dan akan meminta keterangan ABK China dan delapan ABK Filipina terkait kematian WNI di perbatasan perairan Indonesia-Singapura.

Dalam proses pemeriksaan para ABK berkewarganegaraan asing, Polda Kepri juga berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Filipina dan China di Indonesia.

"Informasi awal yang diterima adalah ada seorang warga negara kita diduga dianiaya hingga meninggal dunia, seperti pengalaman sebelumnya sebagian besar tenaga kerja kita yang bekerja di kapal ikan asing diperlakukan tidak manusiawi dan berdasarkan dokumen untuk mereka bekerja sering kali dipalsukan dan tidak benar isinya," kata Kapolda Kepri, Inspektur Jenderal Polisi Aris Budiman.

"Sehingga dugaan kami kedua kapal ini salah satunya merupakan tempat dilakukannya penganiayaan dan ABL lainnya sebagai saksi yang mengetahui kejadian tersebut," lanjutnya.

Comment 0