Chelsea Islan terlibat dalam Sandiwara Sastra Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan .
Chelsea Islan terlibat dalam Sandiwara Sastra Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan .

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aktris Chelsea Islan menghadapi tantangan baru saat menjadi salah satu pengisi suara di program Sandiwara Sastra Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Perempuan 25 tahun itu didapuk menghidupkan karakter Lalita dari novel berjudul sama karya Ayu Utami.

 

"Suara harus diolah banget, latihan dan olah vokal lagi, karena berakting sebagai perempuan usia 40 tahun," ujar pemeran film Rudy Habibie itu pada konferensi pers virtual yang disimak di Jakarta, Senin (6/7).

Menurut Chelsea, sosok Lalita sangat unik. Lalita adalah perempuan indigo, yang pernah hidup dalam beberapa waktu berbeda. Dia punya banyak pengetahuan tentang sejarah dan budaya Indonesia, termasuk Candi Borobudur.

Pada sesi cerita Lalita, Chelsea berkolaborasi dengan aktor Jefri Nichol yang menjadi narator, serta aktor Oka Antara. Sembilan episode lain mengadaptasi judul karya sastra yang berbeda dari para penulis yang juga berlainan.

Sebelum diminta menjadi pengisi suara Sandiwara Sastra, Chelsea mengaku belum pernah membaca novel Lalita. Dia hanya membaca cerita adaptasi yang sudah ditulis oleh sutradara Gunawan Maryanto.

"Dari penulisan Mas Gunawan jadi lebih paham lagi ceritanya. Menurut aku Sandiwara Satra bisa buat kita mengenal sastra dan budaya Indonesia lebih dekat," kata Chelsea. Dia pun senang karena cerita mengusung pemberdayaan perempuan.

Inisiator dan produser program, Happy Salma, tidak menampik bahwa Sandiwara Sastra merupakan upaya membuka kemungkinan sastra bertemu publik yang lebih luas. Generasi muda seperti pelajar dan mahasiswa bisa semakin akrab dengan sastra.

Karya sastra disebutnya sangat penting sebab merupakan jalinan cerita yang melibatkan banyak aspek. Kisah dan para tokohnya punya makna mendalam, serta dokumentasi penting mengenai bahasa, sejarah, sosiologi, antropologi, juga politik.

Sandiwara Sastra hanya langkah kecil, tapi diyakini bisa memberikan spektrum yang lebih luas. "Pilihan audio pun penting, karena mendengarkan adalah kepekaan yang perlu dibangun dan terus dilatih," ungkap Happy.

Comment 0