Photo by Unsplash/pedroaribeiro
Photo by Unsplash/pedroaribeiro

Dalam kehidupan setiap manusia

Berapa kali bisa rasakan cinta

Jika ada satu cinta tak terlupa

Ku akan merasa sangat bahagia

Mungkin seperti perasaan sekuntum bunga

Saat dia akan mekar

Hari ini hari terakhir ujian di Atmajaya. Untungnya aku tidak kedapatan ujian hari ini. Masa ujianku sudah berakhir kemarin kamis. Itu bersamaan dengan sidang tesis Mikha. 

Akhirnya Mikha dinyatakan lulus dari sekolah kenotariatan. Ada perubahan rencana. Mikha memutuskan untuk banting setir dari rencananya ikut ujian advokat. Dia memilih untuk ikut sekolah notaris. Katanya, "Soalnya aku mau memenuhi amanah Popo Aming buat menjalankan warung mi-nya."

Lalu, ia menceritakan kepadaku kejadian saat itu. Aku paham sekarang kenapa dia menjadikannya raja sehari di warung tersebut. Aku juga paham kenapa Mikha lebih memilih untuk mengambil sekolah notaris daripada kursus advokat.

 Sebab dia harus memiliki alasan kuat kepada orangtuanya terhadap niatnya yang lebih memilih untuk mengoperasikan warung mi daripada menjadi seorang praktisi hukum. 

Apalagi,….. aku jadi ge-er sendiri. Mikha sudah sangat meyakini bahwa akulah yang akan menjadi calon suaminya. Sembari menunggu aku lulus kuliah, dia belajar lagi.

Mikha, kamu itu sungguh gadis yang luar biasa. Tiada hari kamu membuatku makin jatuh cinta. Aku terharu dengan begitu besarnya kepercayaanmu kepada aku. Aku mau menangis rasanya, walau aku harus menahannya dulu. Malu rasanya, jika menangis di depan banyak orang yang kebanyakan itu remaja.

Hari ini aku tengah berada di Bekasi Square. Aku menemani Mikha untuk berbelanja keperluan Natal. Menurut Mikha, baju-baju di mal ini bagus dan murah. "Sayang aja, Bi, kalo beli yang mahal. Lagian, di sini juga banyak yang bagus-bagus, kok. Harganya murah lagi." Begitulah alasannya saat kutanya kenapa tidak ke mal yang satunya lagi. 

Mikha juga terpaksa belanja demi mamanya. Sudah menjadi tradisi di keluarganya, tiap Natal dan Tahun Baru, harus mengenakan pakaian baru. Mana mamanya sudah memberikan uang untuk belanja pakaian. 

"Bi, lihat, deh," ujar Mikha, menunjuk ke arah panggung yang berdiri kokoh di halaman parkir Bekasi Square. "Bagus, yah, mereka nge-dance."

Aku terbahak. "Iya, kali. Aku nggak tahu juga. Soalnya jenis musik yang mereka usung itu bukan kesukaanku. Aku kurang suka konsepnya."

Tidak ada angin, tidak ada badai, tak peduli dilihat oleh beberapa pengunjung, Mikha ikut menari. Tarian yang sama dengan tarian yang dibawakan oleh girlband tersebut. 

Sepertinya girlband itu masih baru. Aku baru pertama melihatnya. Pakaian yang dikenakan tiap personelnya juga lucu. Itu mengingatkanku dengan seragam sekolah Jepang. Atasnya serba putih, bawahnya merah mencolok. 

Cara mereka menari juga berbeda dari girlband-girlband yang sudah lebih dulu eksis di Indonesia. Mereka membukanya dengan menutupi wajah masing-masing, yang salah seorang dari mereka bertepuk tangan. Lalu, mereka mulai mengalunkan lirik lagu yang menurutku itu cukup gombal. 

Adakah yang seperti itu di jaman sekarang? I want you, I need you, I love you, batinku dengan sebuah cengiran di bibir.

"Mikha, kamu apaan, sih?" Aku mau tertawa, namun kutahan. "Ingat umur, Kha "

"Umurku masih dua puluh empat tahun, Abi. Tuh, lihat--" Mikha menunjuk ke salah seorang personel yang kelihatannya lebih tua. "Kayaknya cewek itu seumuran sama aku."

"Tapi, yang lainnya itu kebanyakan masih pada sekolah. Muda-muda banget." balasku mengeritik. Aku tak rela jika Mikha menyamakan dirinya dengan perempuan-perempuan yang kurasa masih ABG.

Mikha terbahak. "Kalo aku jadi bagian dari mereka, gimana?"

"Wah, jangan," Rahangku langsung menegang. Aku sontak memasang eskpresi ketidaksetujuan. Jujur saja, aku tidak begitu menyukai pacarku menjadi bahan tontonan beberapa puluhan pasang mata.

"Jangan kenapa?" tanya Mikha. Dia malah cengar-cengir. Tampaknya Mikha mulai mengetahui isi pikiranku. Hingga detik ini, hubungan aku dan Mikha makin intim saja.

"Emang kamu bisa nge-dance, Mikha?" Aku balik bertanya. Alasanku bertanya seperti itu karena aku belum pernah melihat Mikha berjoget. Yang kudengar dari adiknya, Mikha bahkan hampir tak pernah memasuki club. Ke kafe, Mikha pernah--yang malah sering, khususnya di waktu malam hari. Tapi Mikha main ke kafe jika ingin bersantai sambil sibuk dengan laptop-nya.

"Aku dulu ikut ekskul Modern Dance."

"Oh." Aku baru tahu mengenai fakta tersebut. Mikha belum pernah menceritakan tentang Modern Dance kepadaku sebelumnya. Aku hanya tahu Mikha memang bisa bernyanyi.

Aku diam, Mikha diam, kami lalu asyik memperhatikan bagaimana girlband ini memberikan hiburan ke para pengunjung Bekasi Square. Beberapa pengunjung laki-laki tampak bersiul-siul bagaikan seseorang yang haus kasih sayang. Yang perempuan, mereka menyanyikan ulang lagu tersebut. 

Sisa pengunjung yang lainnya hanya menonton layaknya tengah menonton sebuah paduan suara. Suara tepuk tangan juga mulai bergemuruh.

"Bi, tahu nggak judul lagu yang dibawain sama mereka?" tanya Mikha dengan menggoyang-goyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Sepertinya Mikha amat menyukai girlband baru ini.

"Aku gak tahu. Aku baru dengar juga. Emang apa?" tanyaku balik.

"Judulnya 'Heavy Rotation', Bi." Sebuah senyuman lebar terbit di wajah Mikha. "Itu kayak….."

Sekonyong-konyong jantungku berdebar-debar. Aku mulai mengerti akan dibawa ke mana obrolan ini. Mikha, apakah kamu tahu bahwa kata 'heavy rotation' itu sangat memiliki arti untuk aku pribadi?

"…..itu ngingetin aku sama--?" Mikha tampak ragu untuk meneruskan kata-katanya.

"--bilang aja. Gak usah takut. Kita kan udah sering ngomongin banyak hal, termasuk 'itu'." Aku sangat menegaskan kata 'itu'. Aku tahu Mikha mau mengutarakan apa. Makanya aku juga sedikit mengecilkan suaraku.

Mikha menarik napas sejenak. Dia beringsut lebih dekat kepadaku dan mendesis, "Aku kangen sama Rafael lagi. Aku selalu terkesan juga gimana caranya hubungan kita terjadi."

Aku sekonyong-konyong menggenggam sebelah tangan Mikha dengan sangat erat. Aku pun mendesiskan hal serupa. "Aku juga kangen sama Fael. Berkat dia, aku jadi punya pacar terbaik di dunia."

[MIKHA]

Aku masih terbayang dengan konser kecil tadi siang. Judul lagunya--saat kutanya ke salah seorang penonton--adalah heavy rotation. Itu mengingatkanku dengan kejadian beberapa waktu yang lalu. 

Saat itu, aku masih terus menerus bermimpi yang berulang-ulang bagaikan sebuah lagu yang terus menerus dimaju-mundurkan hingga pita kasetnya mengusut. Apa maksudnya? Apa maksud dari kejadian tersebut? Kenapa ada girlband yang menyanyikan lagu dengan judul seperti itu?

Hatiku menangis. Satu nama muncul di benakku. Rafael, aku mendadak kangen kamu. Kamu baik-baik saja, kan, di sana. Terimakasih juga karena kamu sudah menitipkan aku ke adik kembar kamu. Gabriel sungguh laki-laki yang paling sempurna untuk aku. 

Aku dan dia saling melengkapi. Yang tidak ada di Gabriel, ada di aku. Begitupun sebaliknya, yang tidak ada di aku, ada di Gabriel. Kami juga memiliki banyak kesamaan. Aku malah kaget saat mengetahui dirinya juga menyukai animasi-animasi Disney. "Up" merupakan salah satu favorit kami berdua. 

Aku masih ingat saat kami menonton film tentang perjuangan seorang kakek tua yang menyelesaikan impian sang mendiang istri. Aku berharap cinta aku dan dia seperti kakek dan nenek di film "Up" tersebut. Walau maut sudah memisahkan kami berdua, hati aku dan hatinya tetap saling bertautan.

Dengan mengandalkan tab di tangan, kunyanyikan dengan lirih lagu yang kudengar saat aku berada di Bekasi Square tersebut. Air mataku mulai menetes.

I want you

I need you

I love you

Di dalam benakku

Keras berbunyi irama musikku

Heavy Rotation

Seperti popcorn yang meletup-letup

Kata-kata suka menari-nari

Wajahmu suaramu selalu kuingat

Membuatku menjadi tergila-gila

Oh senangnya miliki perasaan ini

Ku sangat merasa beruntung

Baca cerita seru lainnya di 1minggu1cerita.

Comment 0