Ingin kusampaikan pada awan, betapa sunyi langit Sydney di tepi musim semi. Tapi awan enggan mengembuskan jawaban. Ia bisu. Sebisu kuak lebar berpuluh-puluh paruh ibis putih, yang melenggang melintasi hawa mendaki terik, ketika matahari kian meninggi.

Aku melangkah pelan, mengikuti gerakan lamban seekor ibis yang memisahkan diri dari kawanan. Setelah berpuluh langkah, aku berhenti, sebab ibis itu berhenti. Sepertinya ia mengerti langkah-langkahnya tengah diikuti. Tetapi ia bergeming. Tidak tampak tanda jika ia akan melarikan diri. Sikap mahatenang, seolah membentang slogan: ia nyaman untuk berkawan.

Memahami isyarat yang diberikannya, aku bergerak mendekat. Memenggal jarak lima meter hingga tinggal satu meter tertinggal. Barangkali, dari jarak sedekat ini, aku bisa menangkap seperti apa suara yang keluar dari paruh panjang hitamnya, ketika terkuak lagi. Seperti mengerti, ia membuka paruhnya berkali-kali. Namun, hanya sunyi tertangkap di tepi desing telinga kiri.

Aku bersimpuh. Menjajarkan kamera di tanganku ke wajahnya. Barangkali saja, bahasa gambar menjadi delegasi, ketika suara tak lagi terdengar. Kepala pelontosnya miring kanan-kiri. Seperti menyigi niat yang terpahat lewat tatapanku. Namun, sikapnya terlihat bersahabat. Kedua sayapnya mengepak dan mengatup cepat. Mata kecilnya masih teduh menentang tatapan mataku yang juga kubuat redup. Lewat matanya aku merasa, sang ibis paham ia tidak sedang terancam.

Tangan kiriku spontan bergerak untuk menjabat uluran sikap bersahabatnya. Ia merundukkan kepala, seakan membuka jalan. Namun, sejengkal sebelum ujung-ujung jariku berjaya menyentuh kepalanya, sebuah tepukan di pundak kananku mengurungkan angan-angan.

Aku terperanjat. Ibis itu melenggang cepat. Bidang rumput hijau yang tadi ia tempati, kini lengang tak berpenghuni. Seraya menahan kecewa, aku memelintir kepalaku ke belakang dan menemukan tempias matahari musim semi, di seraut wajah pucat yang membuatku tercekat. Sosok tinggi perkasa bak kesatria dari negeri para peri, menatapku dalam bungkukan badan gagahnya.

“Maaf, aku sudah mengusir ibismu pergi.”

Kuduga, bibir menyemu kembang sepatu itu tengah mengucap maaf. “Tak apa. Barangkali lain kali aku beruntung bertemu ibis sebersahabat itu lagi,” sahutku, pelan.

“Tak usah cemas, di…,” bibirnya terus bergerak. Dan aku hanya bisa membaca hingga di batas sana.

Melihatku bergeming sembari melinting kening, ia memahami. Meski tanpa rona kecewa, ia terlihat menghentikan gerakan bibirnya. Jemari panjang kekarnya merogoh saku celana bermuda untuk mengeluarkan sebuah benda. “Maaf, aku menulis ini. Aku memanggil-manggilmu sedari tadi, tapi kau tidak bereaksi. Jadi aku pikir, tanpa bermaksud menghina, kau tuli.” Ditunjukkannya hasil ketikan telunjuknya di layar tablet mini, ke depan mataku.

“Tak masalah. Aku tidak merasa terhina. Aku memang tuli,” sahutku, seraya menata detak dalam dada. Aku tidak merasa perlu melakukan hal sama sepertinya, sebab kurasa, ia bukan penyandang tuna. “Kalimat terakhir tadi, kau bilang apa?”

Ia lagi-lagi sibuk mengedarkan telunjuknya di layar tablet mini, lalu diangsurkannya padaku. “Aku bilang, kau tak perlu cemas. Masih banyak ibis-ibis lain yang bisa kau temui di Sydney ini.”

Anggukan setuju membuatnya tertawa lega. Keindahan wajahnya ketika tertawa, berpendar dipantulkan surya. Aku mendesah pelan. Dikara sang kesatria di hadapanku, betapa terasa menyiksa.

“Hei, lihat!” Mendadak ia mengalih pandang. Tangannya bergerak, membimbing arah paruh kamera di tanganku, ke arah pukul tiga.

Kudekatkan mata pada kamera. Enam ekor ibis putih muncul di jendela bidik. Mereka bergerak lamban, kemudian mengentak. Berputar, mengepak. Begitu dinamis. Begitu ritmis. Aku membayangkan enam balerina tengah menarikan sebuah tarian dengan diiringi sebuah simfoni.

“Aku seperti melihat Beethoven’s 9th tersaji dalam bahasa sunyi.” Kuatur tombol shutter kamera di posisi ½ untuk mengunci objek bidik.

“Tentu saja. Beethoven menggubah simfoni nomor 9 dalam keadaan tuli total. Ia bicara suara dalam bahasa rasa. Sepertimu.” Layar tablet mini tersaji lagi.

Pelan kutepiskan tablet mini-nya. “Sudahlah, berhenti memanjakanku dengan tulisan-tulisan itu! Biarkan aku berusaha membaca kata-kata dari gerakan-gerakan bibirmu.”

Sudut mataku melihat gerakan kepalanya mengangguk. Bibirnya bergerak lagi. Kali ini, aku mengarahkan kamera ke wajah ovalnya. Alis tebal tertata, hazel matanya, kokoh jembatan hidungnya, kembang sepatu semu bibirnya, dagu belah paprika, serta kulit memerah sedikit tergarang, dalam figura rambut lembut Mohican cokelat terang, telah terkunci sempurna di jendela bidik.

“Barangkali, itulah keunggulannya jika memiliki kekasih tuli. Tiap kata-kata akan selalu didengarkan kekasihmu lewat mata. Kau tak akan pernah merasa diabaikan. Kau selalu mendapat perhatian.”

“Tak selamanya memperhatikan dan diperhatikan itu menyenangkan. Terutama ketika kalian bertengkar. Wajah saling gusar membuat perhatian tak ingin lagi saling kalian tukar. Kalian akan memilih untuk saling menghindar.”

“Kau benar.” Ia melangkah menjauhiku, menghampiri kawanan ibis.

Tanpa membaca gerak bibirnya, aku tidak bisa membaca makna sebuah suara yang dihasilkan kata-kata. Mau tak mau, aku menyusulnya ke tepi kolam.

Kuputuskan untuk berhenti dua meter darinya, duduk selonjoran kaki di atas hijaunya rumput, di bawah sebuah pohon rindang yang entah apa namanya. Terlalu dekat dengannya membuat hatiku penat. Lagi pula, matahari sudah tidak bersahabat lagi menaungi Royal Botanic Gardens.

Ia bersimpuh beberapa jengkal dari kawanan ibis. Rupanya, gerakannya mengusik tarian ibis-ibis itu. Mereka berlarian menyingkir. Sebagian lagi beterbangan. Aku tergelak dibuatnya. Seraya tak lupa untuk mengabadikannya ke dalam kamera.

Membawa wajah kecewa, ia mendatangiku dan ikut duduk di sampingku. Ia melirik ke jendela bidik. “Hei, kau memotret gambarku yang tengah ditelantarkan ibis-ibis itu!” Ia tertawa. Geli melihat wajahnya sendiri yang melongo ditinggal pergi para ibis, seperti bocah yang ditelantarkan laiknya anak tiri.

“Iseng saja.” Aku berusaha mengatasi gejolak dalam hati.

Ia mengulum senyum. Ditepuknya lututku yang terbungkus celana jeans, terkulai di rerumputan. “Iseng, atau menaruh perhatian?” Mata hazel-nya mengerling jenaka, melempar sejuta makna.

Aku membisu. Tidak merasa perlu menjawab pertanyaannya.

“Diam bermakna ya.”

Aku sudah tak tahu lagi seperti apa warna wajahku. “Kerap kali pula, diam berarti ingin menyendiri.”

“Tapi kau ada di sini. Kau tidak sendiri.”

“Dalam dunia yang terbelit sunyi, aku tetap merasa sendiri.”

        

 “Sejak kapan?”

“Maksudmu kehilangan pendengaran?”

Anggukan pelannya membuatku menghela napas berat. “Dua bulan lalu. Beberapa hari setelah visaku jadi.” Kemudian sunyi. Hingga tiba-tiba ia menyodorkan sebuah benda.

“Alat bantu dengar?”

“Ya. Pakailah! Aku punya Beethoven’s 9th di playlist-ku. Kita bisa mendengarnya sama-sama.”

Dengan bimbang aku menatap alat bantu dengar yang disodorkannya. Benda mungil selengkung telinga berwarna cokelat mengilat itu tergeletak tanpa daya di telapak tangannya. Seolah tak menyodorkan harapan apa-apa pada perasaan yang tercerabut dari akar asa.

Akhirnya, kuputuskan untuk menggeleng pelan. “Aku pernah memakai alat bantu dengar seperti ini. Tapi, yang kudengar hanya bising dan membuat kepalaku pusing. Bagiku, lebih baik menikmati Simfoni 9th dalam gerak mengentak para ibis.”

“Kau benar-benar tidak ingin mendengarnya lagi?” Dahinya mengernyit.

“Aku cukup bersyukur pernah diberi kesempatan untuk menikmati indahnya sebuah simfoni, sebelum aku tuli. Saat lupus yang mengendap dalam darahku tiba-tiba menyerang imun sendiri, dan melumpuhkan saraf-saraf pendengaran, aku tidak bisa menerima keadaan. Semua kusalahkan, termasuk Tuhan. Namun, makin kuat aku melakukan penolakan, makin sakit kekecewaan ini kurasakan.”

Kulihat dada bidangnya yang terlapis kaus putih, bergerak naik. Kurasa, ia tengah mendesah. “Akhirnya kuputuskan untuk berdamai dengan keadaan. Barangkali Tuhan tengah mengajarkan aku untuk mendengar sebuah simfoni lewat cara lain. Kau lihat itu!” Aku mendongak ke dedaunan di atas kami, yang bergoyang digelitik angin.

Ia ikut mendongak. “Dulu aku pikir pepohonan itu bisu. Kini, aku mengerti jika gerakan mereka membawakan sebuah simfoni.”

Kali ini, ketegangan yang sempat menghias wajahnya, demi ceritaku tadi, dilerai sebuah senyuman manis. “Jika memang kau telah berhasil mengatasi kekecewaanmu, kenapa kau berlari dariku?”

“Aku tidak berlari. Aku hanya sembunyi.”

“Sampai kapan?”

“Sampai kini. Buktinya, aku tidak berlari waktu tadi kau tiba-tiba datang.”

“Mungkin, kau terpaksa tidak berlari. Karena kau cemas, aku akan meneriakimu maling. Kau tak punya pilihan.” Ia tertawa renyah.

Aku tertawa gerah. “Maafkan aku, Chris, aku tak bermaksud untuk menipumu.”

Ia menggeleng mantap. “Tak perlu meminta maaf. Kau tak pantas untuk kuberi maaf….”

Aku terkesiap. “Kau tidak memaafkan aku?”

“Kau tidak bersalah. Apa yang harus kumaafkan?”

Tak percaya, kutatap wajahnya. Sungguhkah ia memaafkanku? Semudah itu?

“Kau terlalu memanjakanku dengan belas kasihanmu. Kenapa kau buat semudah ini?”

“Kenapa aku harus mempersulitnya jika aku bisa membuatnya mudah?” Ia membalas tatapan mataku dengan lindap mata hazel-nya. Tidak ada kemarahan atau kekecewaan di sana, setelah apa yang kulakukan untuk mendustainya. Setelah aku menghilang dan kemudian datang diam-diam. “Adikmu, Kania, telah menceritakannya padaku.”

“Harusnya, kau mendengarnya langsung dariku, bukan dari Kania. Tidak sepatutnya aku membiarkanmu berprasangka. Aku memang pecundang.”

“Kau bukan pecundang. Bukan hal mudah bagi siapa pun, ketika tiba-tiba kehilangan pendengaran. Awalnya, aku memang berburuk sangka saat kau mendadak lenyap begitu saja dari jejaring sosial yang mempertemukan kita, sesaat setelah aku mengirimi tiket dan juga visa untuk datang ke Australia. Aku pikir kau menipuku.”

Ia bangkit. Menepuk pinggul yang terbalut celana bermuda, membersihkan sisa rumput yang menempel sebelum mengulurkan tangan kekarnya padaku. “Mari!”

Kusambut uluran tangannya. “Aku tuli. Jika dustaku beberapa waktu lalu bisa kau terima, bagaimana dengan hal ini?”

“Faktanya, aku di sini. Kau tidak sendiri.” Lalu ia menunjuk pohon palem mahatinggi yang kami lewati, “Pohon itu, ia tengah membawakan simfoni apa dalam desau dedaunannya?”

“Tchaikovsky’s 6th.”

“Hei, kau yakin, Diana? Aku pikir itu Mozart’s 40th.”

“Ya, sudah, terserah. Untuk apa kau bertanya, jika kau memiliki jawabanmu sendiri?”

Ia tertawa. Aku cemberut. Ia lalu menggamit dan menggandeng tanganku. Kemudian kami berjalan menyusuri sunyi di tengah riuh suara hati. Diiringi simfoni yang menggelari langit Sydney.

***

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Rinjani

Cerita Pendek: Melamun

Cerita Pendek: Senja di Saigon

Cerita Pendek: Memori Yang Hilang

Comment 0