Photo by Unsplash/goian
Photo by Unsplash/goian

Tiga puluh menit sudah meninggalkan pukul dua puluh tiga. Tapi lampu masih menerangi seluruh ruangan lantai 122 salah satu menara bisnis di Sudirman Central Business Distric, Jakarta. Itu ruangan para skintern 1dari sebuah perusahaan asing yang bergerak di bidang telekomunikasi. 

Lima pria dan satu orang wanita yang masih berjibaku dengan berlembar-lembar kertas analisis dan powerpoint slide yang dibiarkan menghiasi lcd laptop mereka masing-masing. Harusnya, ada sekitar 4 orang wanita dalam persiapan presentasi paling membunuh ini. 

Tapi, 3 lainnya memilih dugem. Tidak professional? Ya, jelas! Tapi mereka yang tersisa, para skintern gila kerja ini lebih memilih mengerjakan tanpa mereka. Berjalan dengan nama tim, tapi, sebuah catatan khusus tentang kinerja serta beberapa bukti absensi dan foto, akan mereka lampirkan sebagai bahan pertimbangan untuk tiga skintern nakal itu.

Aku, adalah satu-satunya wanita yang tersisa itu. Dan sebenarnya sejak tadi sudah dengan sempurna menyelesaikan presentasi esok hari. Lcd laptopku sudah berganti tampilan, microsoft powerpoint tergantikan oleh satu lembar catatan harian. Suara Freddie Mercury juga sudah berganti dengan milik teh Rossa.

Lagu Terlalu cinta mengalun samar-samar. Hari ini malam tanggal 25, di bulan ketiga tahun 2013. Aku menatap kalender hadiah dari sebuah restoran cepat saji jepang itu lekat. Ada sebuah tanda merah muda di tanggal dua puluh enam,, nafasku perlahan tak teratur. Jam mickey mouse perlahan kulirik, setengah jam lagi.

”Ssst…ngelamunin apa sih?”

Yoda dan suara Ikang Fawzinya muncul dari balik cubicle ku. Tangannya terangkat, memperlihatkan kepulan asap dan wangi kopi yang sangat kusuka. Aku mendongakkan kepala, tersenyum menatapnya.

“ngopi sana gih, ra. Biar mata gak sepet begitu.” ucapnya sambil menyuruput kopi.

“Itu pasti café latte, pake Nescafe, kan? Bukan Torabika.” Ucapku sambil beranjak dari cubicle dengan menenteng French Press.

“Wuiiiih…itu hidung apa alat pendeteksi kopi sih?” Yoda berceloteh sambil meninggalkanku menuju cubicle nya.

Terlihat pekerjaannya belum selesai, biasanya dia pasti akan menyusulku ke pantry. Tapi baguslah, aku tidak ingin dia menemaniku malam ini.

Langkahku menuju pantry. Aku selalu suka ruangan minimalis di sudut lantai 122 ini. Di dalamnya terdapat sebuah mini bar dengan gelas-gelas bening bertangkai yang tergantung seksi, microwave, kulkas, sebuahfood counter yang di dalamnya berisi berbagai wadah plastik kedap udara penyimpan makanan dengan label nama para karyawan, dan sebuahdinning table dengan empat buah kursi berdesain minimalis menjadikan ruangan ini menjadi tempat alternatif rapat ketika mulai jenuh dengan kekakuan meeting room.

Tapi, dari semua fasilitas yang ada, aku lebih menyukai sebuah jendela kaca besar yang menghadap langsung pada Jakarta view. Jendela tersebut bersebelahan dengan mini bar, dan aku, sering menghabiskan waktu lamunku disana.

“Eh mbak Fira, belum beres juga kerjanya?” itu suara mas diro, penguasa pantry ini.

Aku hanya memberinya anggukan, fokusku masih pada tangan yang sedang melakukan tahap

terakhir brewing kopi sederhana ini, menekan kopi hingga ke dasar French Press.

“Jodoh banget sama mas Yoda, tadi abis dari sini juga, bikin kopi, adeuuuh…” godanya sambil duduk di sebuah kursi tepat disampingku.

“Iya, tadi juga ketemu di depan” aku menjawabnya datar.

“ Tuh kan, itu bisa jadi pertanda lho mbak Fira…” dia nyerocos lagi.

“Pertanda apa? Pertanda gaji saya mau naek?” ucapku sambil mengaduk-aduk kopi yang sudah siap di seruput.

Mas Diro, pria beranak tiga ini memang terkenal sebagai mak comblang lantai 122. Karirnya sebagai mak comblang berjalan seiring dengan waktunya mengabdi sebagai office boy. Dia sudah 12 tahun bekerja, berselang dua tahun saja dari usia perusahaan ini. 

Usia mengabdi yang cukup untuk mengangkatnya sebagai Senior office boy. Mas Diro paling ramah pada skintern, katanya, dia sering kasihan melihat skintern dengan gaji UMR, tapi pekerjaannya nggilani2.

“Pegawai magang itu kasihan mbak, kerjanya banyak, tapi gajinya kecil, makanya kalau ndak ketahuan, saya sering bantu mereka moto kopi berkas. Moso’ sarjana kerjanya moto kopi ya” itu pernyataannya pertama kali saat kami berjumpa enam bulan yang lalu di pantry ini.

Dan sebulan berselang dari pertemuan kami di pantry, mas comblang ini memulai aksinya mencomblangiku dengan Yoda, skintern divisi pemasaran. 

Ada-ada saja caranya, mulai dari membicarakan betapa wajahku dan Yoda jika diamati memiliki kesamaan garis –ini membuatku sedikit lama berada di toilet, memperhatikan setiap garis wajahku, sambil membayangkan wajah Yoda, terkadang juga menukar menu makan siangku dengan pesanan Yoda agar kami berdua sama-sama berjumpa dengan mas comblang ini di pantry untuk menukar makanan, atau yang paling membuatku heran, mas comblang satu ini memberikanku ceramah singkat tentang jodoh sesuku. 

Aku bersuku Jawa, dan Yoda juga. Aku berasal dari yogya, dan Yoda dari Solo. Bagi mas comblang satu ini, pernikahan satu suku, bisa mempertahankan khazanah dan warisan budaya suku tersebut, itu sama artinya jika aku dan Yoda menikah, kami sudah membantu pemerintah mempertahankan kebudayaan. See? Aku mendengarkan ceramah ini hampir dengan mata terbelalak. 

Bukan, bukan karena aku merasa digurui oleh seorang office boy ya,indeed, aku merasa, wajar saja banyak orang mempercayakan usaha comblang mencomblangi pada pria berusia empat puluhan ini, wong dia niat banget, pastilah dia juga harus searching suku kedua targetnya, kesukaannya apa, rumahnya dimana, wuih…harusnya dia membuka usaha biro jodoh.

“Mbak, kok bengong sih? Kopinya nanti dingin.” Sentakannya menghentikan lamunanku.

Aku langsung meneguk sedikit kopi yang masih hangat. Pikiranku tidak berada pada ruangan ini. Ia berada pada beberapa potong ingatan tiga tahun yang lalu. Tahun dimana menanti tanggal dua puluh enam bulan Maret adalah momen paling membahagiakan bagiku.

“Mbak Fira lagi banyak pikiran ya? Mukanya ndak ceria seperti biasanya” ia menatapku lekat, mungkin berusaha mencari jawaban atas diamku.

“ gak mas, capek aja mungkin ya..” Aku menyunggingkan senyum khasku, dan memperlihatkan gigi gingsul yang bagi sebagian orang, itulah yang menjadikanku tidak membosankan dipandang.

“Mbak Fira, perempuan yang bikin kopi pakai sepatu hai glis itu seksi, mbak.”

“Sepatu high heels, mas, bukan hai glis.”

“Iya, itu lah pokoknya. Mas Yoda yang bilangsama saya. Lha satu-satunya perempuan yang bikin kopi kan mbak Fira ya, itu berarti mas Yoda bilang mbak Fira seksi.”

Aku membuang pandanganku pada jendela kaca besar favoritku. Jalanan Jakarta tampak masih saja ramai. Cahaya lampu dari mobil berbagai ukuran menyala warna warni. Apa kabarmu, Ga? Lima belas menit lagi ya, Ga. Sudut mataku menghangat, hatiku makin berdetak tidak karuan. Seluruh kisinya seakan bergemuruh.

“Mas, saya lebih senang di bilang cerdas, daripada seksi”

Aku memalingkan wajahku pada Mas Diro. Dan kulihat ada rona kaget. Mungkin dia merasa, kalimatnya menjadi blunder untuk aksi perjodohan antara aku dan Yoda. Aku menatapnya dengan senyum yang kupaksakan.

“Bilang sama Yoda ya mas, sudah lima bulan berlalu, aku menunggu dia ngajak aku makan berdua, kasihan harus manfaatin jurusnya mas Diro terus sepanjang lima bulan ini,its time for Yoda’s turn, sudah saatnya Yoda jalan sendiri. Mmm…nyampein ke Yodanya boleh di modif sedikit kok mas” Aku mengerling, memberikan tanda ia harus meninggalkanku.

“waaah…kabar baik ini buat mas Yoda, siap mbak, nanti saya sampaikan dengan impropisasi. Oh iya mbak, jangan lupa dimakan kue yang di kulkas, sayang sudah dibeli tadi sore, nanti saya bilang sama mas Yoda, selain kopi, mbak Fira juga suka makan kue tart tiramisu”

Aku memberikannya senyum dan anggukan, Dia beranjak meninggalkanku, sambil mematikan lampu utama pantry, menggantinya dengan lampu mini bar saja. Hatiku berdesir, mengingat sepotong cake tiramisu yang tadi sore kupesan. 

Aku melangkah menuju kulkas, mengeluarkan cake kesukaannya itu perlahan. Dadaku perlahan menyesak. Kulirik sedikit Swatch yang melingkari pergelangan kiriku, sepuluh menit lagi menuju pukul dua belas tepat. Aku melangkah menuju mini bar dan meletakkan cake tersebut diatas sebuah piring datar berwarna putih. 

Kurogoh saku blazer kananku, dua batang lilin dengan angka dua dan tujuh berwarna merah kutatap dengan perasaan yang tak mampu kudefinisikan.

Tiga tahun yang lalu, apakah kamu masih mengingat malam tanggal dua puluh enam di sebuah restaurant steak di kota kembang, Ga? Malam itu, untuk pertama kalinya aku memberanikan diri memberimu sebuah hadiah dan kejutan. Dan malam itu, kamu yang marah karena aku terlambat, hampir mengacaukan rencana yang sudah kususun seminggu sebelumnya. 

Tapi, aku bahagia menatapmu tersenyum tidak henti ketika kau berbalik badan lalu melihat waitress restaurant itu membawa cake tiramisu mini dan sebuah kotak kado big size.

“Selamat Ulang tahun ya mas, semoga panjang umur” waitress itu memberimu ucapan sambil meletakkan cake berlilin 24 itu dihadapanmu.

Kamu perlahan memejamkan mata, dan berdoa entah apa, lalu setelahnya dua buah lilin itu mati tertiup. Berpasang-pasang mata menatap kita. Kamu tampak rikuh, dan senyummu seperti enggan lepas dari bibirmu.

“Makasih ya, bahkan keluargaku gak pernah bikin perayaan semacam ini”

Aku hanya mampu menatapmu, seluruh kalimat yang kurancang mengawang di udara, mengisi jeda antara aku dan kamu. Malam itu aku hanya ingin menatap wajah bahagiamu, itu saja. 

Dan kamu tahu Ga, malam itu aku berdoa pada Tuhan untuk sebentar saja menahan waktu, aku hanya ingin malam itu sedikit lebih lama, aku hanya ingin memastikan senyummu tidak akan lepas hingga lelap saat tidur nanti.

Ujung mataku mulai menjatuhkan bulirnya yang pertama. Hatiku tidak henti bergemuruh. Bahuku mulai berguncang pelan.

Lalu apakah kau mengingat tahun berikutnya, Ga? Sebuah pagi, di taman yang bersebrangan dengan kampusmu. Aku meneleponmu untuk meminta sebuah bantuan. 

Pukul enam pagi, waktu yang kurang tepat untuk berjumpa, tapi aku sedikit memaksa. Ya, kamu datang. Meski wajahmu masih menunjukan kesal. Aku kembali menatapmu, dengan tatapan yang sama seperti tahun lalu. Lalu ketika kusodorkan dua buah kotak, kamu pun tersadar,

“Hari ini tanggal dua puluh enam ya?wah, aku lupa”

Tanganmu membuka kotak pertama, ada empat buah cupcake dengan empat ekspresi wajahmu, lalu satu buah cupcake ucapan selamat ulang tahun. 

Kamu menatapku lagi, kali ini dengan tatapan yang berbeda. Apakah itu tatapan perpisahan? Aku hanya menebak. Dan benar, lima menit kemudian kamu meninggalkanku bersama segudang penyesalan, kalimat yang sudah kurancang seperti hilang, terbang menuju awan.

Lalu tahun berikutnya aku hanya mengirimimu sebuah kartu ucapan biasa, dan cendera mata kecil, hingga hari ini.

Ada sebongkah perasaan tersimpan, tangis tertahanku mulai menjadi isakan. Bulirnya menderas, bahuku berguncang hebat.

Aku mencintaimu, Ga…

Dan kalimat itu terkunci lima tahun lamanya, hingga kini di malam ulang tahunmu yang ke -27, di sebuah gedung pencakar langit yang sangat jauh dari tempatmu yang mungkin kini sedang terlelap.

Swatch ku berkedip, layar digitalnya menampilkan perpaduan empat buah angka nol. Aku mendekati cake tiramisu berlilin itu, memejamkan mata lalu perlahan meniupnya. Ada bulir mengalir bersamaan dengan padamnya cahaya lilin.

Selamat Ulang tahun., Arga. Mungkin ini akan jadi tahun pertamamu dengan segala yang serba baru. Bagaimana rasanya, esok pagi terbangun dengan wajah seorang wanita di sebelahmu? Bagaimana rasanya, mengawali usia dengan wanita yang kau cinta?

Selamat ulang tahun, Arga. Bagaimana rasanya esok aku terbangun dengan melihat pesan cinta dari Yoda. Sudah tidak lagi kamu. Ya, tidak boleh kamu lagi.

Ya Arga, Aku masih mencintaimu, sama seperti pertama kali kuah batagormu jatuh mengenai diktat kuliahku. Ya, masih sama. Hanya saja, mulai hari ini, semua akan berbeda cara. Aku, masih mencintai, tapi dengan cara yang paling sunyi. Dengan isyarat yang hanya menjadi rahasia aku dan Tuhan.

Sekali lagi, Ga…Selamat ulang tahun, selalu ada doa yang tidak pernah menyentuh akhir, untukmu.

Tangisanku berhenti, pandanganku kembali pada jalanan Jakarta. Anganku berada pada wajah Yoda, mari belajar mencintai, lagi, Fira. Aku berbisik pada diri sendiri.

Dan sepasang mata memicing heran, menatap Fira di ujung pantry yang temaram.

1Skintern : pegawai magang di sebuah perusahaan

2nggilani : sangat gila

Baca cerita seru lainnya di 1minggu1cerita.

Comment 0