Laras Arunika, senyummu seperti sebongkah gula batu (cerpen) | Foto: Karta Raharja Ucu/Republika

Kecantikan Laras tiada banding, hingga mata pria sulit berkedip wajah sukar berpaling

Selamat Rabu, hari raya Rindu. Satu dari tumpukan kerinduan di rumah adalah pergi ke sekolah. Bertemu dengan sahabat sebangku, bermain dengan teman lain kelas, dan diam-diam melirik orang istimewa yang sedang berolahraga dari balik kaca nako kelas.

Rabu itu seorang perempuan berjilbab mengumbar senyum saat bergurau dengan sahabatnya di dalam kelas. Sebut saja namanya Larasati. Perempuan yang tinggi badannya tidak lebih dari 155 senti. Mungil dan wajahnya selalu dihiasi senyum menawan.

Tak seperti ratusan pagi sebelumnya saat senyuman Laras tergaris ketika arunika menyelusup masuk ruang kelas. Senyuman Laras pagi itu, sebelum ujian sekolah dimulai, bak mantra magis bagi seorang pria, teman laki-lakinya di kelas.

Arjuna, laki-laki teman sekelas yang memperhatikan Laras selama tiga tahun terakhir, tersihir dengan senyuman itu. Benar, senyuman Laras membuat Arjuna tertawan. Matanya dan hatinya.

Pagi itu pertama kalinya Arjuna dan Laras duduk bersebelahan. Nomor ujian Arjuna bersisian dengan Laras. Sepertinya semesta menitipkan kesempatan untuk Arjuna agar lebih dengan Laras.

Arjuna tipe lelaki tak banyak cakap. Cenderung introvert dan Arjuna jarang berbicara di sekolah. Dengan Laras pun Arjuna jarang terlibat diskusi. Kecuali beberapa kali ketika mereka disatukan dari satu kelompok tugas.

Arjuna ditempa kehidupan sahaja. Saban hari Arjuna mandi dengan air yang tak keluar dari keran. Ia memakai baju yang tak lagi baru. Sejak sekolah dasar, Arjuna datang ke sekolah yang jaraknya berkilo-kilo meter dengan berjalan tanpa kendaraan. Meski demikian, Arjuna lumayan tampan dan pintar. Setidaknya tak pernah angka 70 mampir di kertas ujian sekolah, selalu di atas 80. Akuntansi jadi mata pelajaran favoritnya. Arjuna pun rajin sembahyang.

 

Sementara Laras lahir dari keluarga berada. Parasnya? tentu saja cantik. Sebagai perempuan asli Kediri, Laras mewarisi kecantikan Ken Dedes, permaisuri Ken Arok pendiri Kerajaan Singasari. Babad tanah Jawa menyebut Ken Dedes adalah perempuan yang memiliki kecantikan tiada banding, membuat orang yang memandangnya akan sukar berkedip dan wajah sulit berpaling.

Tak hanya ayu, Laras dititipkan anugerah kecerdasan. Laras juara kelas, selalu rangking satu dan juara umum setiap tahunnya. Laras juga pemegang sabuk kuning melati empat. Laras cakap beretorika. Dan juara musabaqah Alquran tingkat provinsi yang Laras sandang, membuat Arjuna nyaris tak punya peluang.

Tetapi cinta bukan hitungan matematika. Cinta tak memiliki rumus seperti fisika dan kimia. Cinta itu sejarah. Cinta punya bahasa. Dan cinta adalah aset, kewajiban, serta ekuitas. Cinta itu bukan ilmu pasti, cinta itu seni mengagumi dalam balutan diksi. Cinta itu bagi Arjuna seperti pelajaran IPS bukan IPA.

Usia Arjuna tiga tahun lebih tua dari Laras. Arjuna terlambat mendapatkan kesempatan belajar ketika masih anak-anak. Targetnya, Arjuna ingin menikah di usia 21 tahun. Tahun ini, usia Arjuna 20, sementara Laras baru memasuki usia pradewasa, 17.

Kegagumannya kepada Laras, membuat Arjuna begitu yakin menjadikan Laras sebagai calon pertama dan utama yang akan dilamarnya. Arjuna percaya, kematangan berpikir Laras yang menurutnya jauh dari usianya, bisa menjadi bekal Arjuna dan Laras menjadi suami istri.

Karena itu, menjelang turun main usai, sebelum ujian mata pelajaran terakhir dimulai, Arjuna nekat mengajak Laras menikah. Di taman sekolah yang terbuka. Di bawah sebuah pohon akasia, Arjuna mengutarakan niatnya mempersunting Laras.

Arjuna bukanlah remaja yang sedang dimabuk cinta. Tempaan hidup membuatnya lebih hati-hati menentukan pilihan. Arjuna juga bukan seorang remaja sembarangan. Arjuna nekat, tapi bukan tanpa persiapan.

Di rekening bank miliknya setidaknya tersimpan uang cukup banyak untuk ukuran remaja yang baru menginjak dewasa. Lima puluh juta rupiah. Uang itu dihasilkan dari usahanya berjualan pecel lele sejak tiga tahun lalu.

Di tahun-tahun sebelumnya, Arjuna pernah bekerja di banyak profesi dan menjajakan banyak barang. Menjual souvenir pernikahan, berdagang roti keliling, hingga menjadi kasir di toko klontong milik bos ibunya.

Setelah tabungannya cukup, Arjuna mencoba peruntungan berjualan pecel lele di alun-alun kota. Arjuna pun lumayan berhasil. Kini Arjuna punya dua cabang warung pecel lele.

"Aku tak mengajakmu berpacaran. Aku tak memintamu menjadi kekasih. Tapi aku meminangmu menjadi istriku."

"Kita masih putih abu-abu, Juna. Setidaknya tunggu sampai kamu dan aku punya rejeki dari keringat sendiri."

Laras lantas pergi. Tapi Laras tetap tersenyum sebelum meninggalkan Arjuna yang masih memegang plastik bening berisi batagor dengan bumbu kacang dan campuran saus kecap. Di celana Arjuna, tersimpan gelang emas yang sudah disiapkannya sebagai mahar untuk Laras. Perempuan yang selalu memakai jam tangan yang detiknya tak lagi berputar.

Arjuna yakin, Laras juga menaruh hati padanya. Arjuna menangkap sinyal yang diberikan Laras: "rejeki dari keringat sendiri".

Arjuna kini sudah punya penghasilan sendiri. Bahkan, setelah lulus sekolah, Arjuna akan menunda kuliah dan lebih memilih mengembangkan bisnisnya. Tak banyak yang tahu. Guru-guru, bahkan teman-temannya di sekolah.

Sikap pendiamnya membuat Arjuna tak banyak memiliki teman di sekolah. Hanya lima orang di sekolah yang mengetahui jalan hidup Arjuna. Pak Daru, guru fiqih yang dihormatinya; Mbok Sani, penjual makanan di kantin sekolah; serta tiga sahabatnya; Kresna, Abimanyu, dan Yudisthira. Kelimanya dipercaya Arjuna sebagai tempat berbagi cerita.

Di luar sekolah, selain ibunya, ada satu perempuan lagi yang juga tahu kerasnya perjuangan hidup Arjuna. Dari perempuan itu pula, Arjuna yakin dengan cita-citanya menikah muda. Nyai Sagopi, namanya. Seorang pengusaha travel umroh sekaligus langganan pecel lelenya.

Nyai Sagopi suatu kali pernah berkumpul dengan teman-teman lamanya di alun-alun kota. Meski punya harta berlimpah, Nyai Sagopi tak segan makan di pinggir jalan. Nyai Sagopi dan teman-temannya semasa menjadi santri sempat mampir dan makan di warung tempat Arjuna berjualan. Di sana Nyai Sagopi dan Arjuna pertama kali bertemu.

Masakan Arjuna mendapatkan tempat di lidah Nyai Sagopi. Apalagi setelah beberapa kali sengaja mampir, Nyai Sagopi meminta Arjuna rutin mengirimkan nasi kotak untuk makan siang karyawannya. Ini adalah pesanan nasi kotak pertama dan Nyai Sagopi merekomendasikan usaha Arjuna ke sejumlah rekan bisnisnya.

Selain tergoda dengan masakan Arjuna, Nyai Sagopi juga mengagumi kegigihan Arjuna yang enggan menyerahkan tanggung jawab ekonomi keluarga hanya di pundak ibunya. Arjuna kepada Nyai Sagopi pernah berkata, "Perempuan itu sejatinya tulang rusuk. Mereka diciptakan bukan untuk bekerja menafkahi keluarga, tapi diciptakan untuk memeluk kepala keluarga dan anak-anaknya setelah lelah di luar rumah". Kalimat itu yang membuat Nyai Sagopi kepincut dengan sikap remaja yang masih sekolah.

Puluhan kali bersua, Arjuna menemukan sosok ibu dalam diri Nyai Sagopi, sehingga dia merasa nyaman bercerita. Termasuk kisah hidupnya. Di mata Nyai Sagopi, Arjuna seorang kesatria. Namun, bersama Arjuna, Nyai Sagopi hanya bercerita seputar bisnisnya, tidak keluarganya.

Nyai Sagopi menurunkan pengalaman berbisnisnya kepada Arjuna. Karena itu, Arjuna tak hanya menganggap Nyai Sagopi sebagai pelanggannya saja, tetapi juga guru dalam berbisnis.

Di suatu siang akhir pekan di saat libur sekolah, Arjuna sendiri yang mengantarkan pesanan ke kantor travel umroh Nyai Sagopi. Biasanya, rekan kerja Arjuna yang mengantarkan.

Di suatu ruangan, Nyai Sagopi berkata kepada jamaahnya, jika akan mengabulkan permintaan anaknya yang ingin menikah selepas lulus sekolah. Saat itu Arjuna yang sedang mengirimkan pesanan nasi boks untuk konsumsi makan siang karyawan travel, tak sengaja mencuri dengar.

"Anak saya ingin menikah muda. Dan ia berharap yang menikah dengannya adalah teman sekolahnya."

Perkataan Nyai Sagopi itu membuat Arjuna yakin masih ada orang tua yang rela anaknya mengabdi sebagai istri di usia muda. Arjuna juga berharap orang tua Laras satu tipe dengan Nyai Sagopi. Merestui anaknya menikah saat masih belia.

Tapi 'penolakan' Laras di taman sekolah membuat Arjuna memilih mundur sementara waktu, sembari mengatur strategi. Setidaknya satu bulan lagi hingga hari kelulusan.

 

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Setelah Dibawa ke Ruangan Besar

Cerita Pendek: Tentang Amira

Cerita Pendek: Riwayat Seorang Guru

Cerita Pendek: Ibu Nyingge Lagi

 

Melamar Laras

Hari berganti pekan, pekan bersalin bulan. Kini 30 hari terlewati sudah. Satu bulan kemudian, di hari Selasa, hari kelulusan tiba. Ijazah dibagi. Sebelum waktunya habis, Arjuna mencoba peruntungannya kembali.

Arjuna akan kembali melamar Laras. Arjuna berkeyakinan, jalan terbaik untuk mengakui seorang pria mencintai seorang perempuan adalah dengan mengajaknya hidup bersama dalam ikatan pernikahan.

Sembari menenteng ijazah, Arjuna sedikit berjalan cepat mendatangi Laras yang sedang berjalan menuju mobil Cadillac Escalade hitam yang menunggunya di pinggir jalan tak jauh dari gerbang sekolah. Tapi sebelum Arjuna kembali meminta Laras, perempuan dengan pipi berlesung itu memberikan selembar kertas bergaris. Ada goresan tinta hitam yang tersulam menjadi kalimat di atasnya. Arjuna membacanya dengan tanda tanya di kepala.

"Aku mau dilamar besok hari Rabu ba'da Ashar."

Laras masuk ke mobil yang kacanya berwarna hitam pekat. Di tempat duduk penumpang, seorang perempuan berkerudung panjang tersenyum menyambut Laras.

Arjuna memilih pulang ke rumah. Tak ada yang menyambutnya. Arjuna anak tunggal. Ibunya sedang menjaga toko. Sementara ayahnya yang seorang tentara tak pernah kembali ketika bertugas ke Jawa. Ibunya selalu merawikan, sejak ayah pamit bertugas, tak ada kabar yang datang hingga bertahun-tahun.

Ayahnya meninggalkan ibu dan Arjuna di rumah dinas Kota Kembang. Saat itu Arjuna baru satu bulan sekolah di kelas 1 madrasah. Enam bulan tak ada kabar, ibu Arjuna memutuskan angkat kaki dari rumah dinas dan memilih merantau ke Kediri, kota tempat ibu Arjuna pernah menjadi santri. Karena alasan itulah, Arjuna terlambat kembali masuk ke sekolah.

Surat Laras masih di dalam kantong saku celana jeans Arjuna. Arjuna berpikir, siapa yang berani mendahuluinya melamar Laras. Yang paling penting, mengapa Laras menerima pinangan itu.

Arjuna kini seperti menunggu hujan di musim kemarau, layaknya merindu bulan di tengah siang. Meski mustahil datang, ia tetap yakin hujan bisa turun ketika Tuhan berkehendak.

Birunya langit meluruh menuju Maghrib. Jingga tiba, purnama menyapa. Ibunya pulang. Setelah shalat dan makan, Arjuna memberikan kertas dari Laras yang langsung dibaca ibunya. "Bu, tolong lamarkan Laras untuk saya."

Ibu Arjuna tak memberi jawaban. Ibu Arjuna menyeruput teh manis hangat yang di atasnya ada beberapa bunga melati yang baru saja mekar.

"Ini surat dari Laras? Laras yang dulu pernah kamu ceritakan itu? Perempuan dengan jilbab panjang dan selalu menundukan pandangan ketika kalian berbicara?"

Arjuna mengangguk.

"Apa dia mau sama kamu, Le'? Apa dia mau menerima kamu yang hanya penjual pecel lele di pinggir jalan?"

"Yakin, Bu. Insya Allah. Juna mohon, besok pagi-pagi sebelum Dzuhur kita ke rumah Laras. Juna sudah tahu alamat rumahnya."

"Kan di surat ini dia bilang mau ada yang melamar. Apa kamu tak takut ditolak?"

"Makanya Bu, Juna mau meminang Laras sebelum dia dikhitbah laki-laki lain. Setidaknya Juna mau memastikan apakah lamaran Juna juga ditolak di hadapan orang tuanya."

Ibu memandang Juna. Menatap matanya, lalu berdiri sembari memeluknya. Ibu Arjuna lalu melepas cincin emas dari jari manisnya.

"Cincin ini warisan dari nenek ibu. Turun ke nenekmu, sebelum melingkar di jari manis ibu. Wasiatnya, cincin ini diturunkan ke anak perempuan. Tapi karena ibu tak punya anak perempuan, ibu wariskan ke menantu ibu dan tolong wariskan kembali jika kamu nanti punya anak perempuan. Ibu restui kamu. Malam ini, ibu pilihkan jilbab terbaik dari toko ibu sebagai buah tangan untuk kita bawa ke rumah Laras."

Konsep Rejeki

Rabu pukul 08.00, selepas shalat Dhuha, Arjuna mengendarai Vioz Limo tahun 2005 yang dibeli dalam kondisi bekas dua tahun lalu. Arjuna mencicil mobil itu selama dua tahun tanpa proses kredit leasing, tetapi langsung dari seorang pelanggannya yang memiliki showroom. Pikirannya sederhana, membeli mobil agar bisa mengantar ibunya yang sudah memasuki usia renta, berpergian. Satu tahun sebelumnya, Arjuna sudah memiliki mobil bak yang juga dibelinya bekas untuk mengangkut masakannya dari rumah ke warung pecel lelenya.

Sejak berjualan pecel lele dan punya banyak pelanggan, perekonomian Arjuna dan ibunya berangsur membaik. Toko ibunya juga perlahan-lahan membesar. Meski begitu, mereka tetap menjalani hidup sederhana. Berkecukupan.

Ibu Arjuna selalu berpesan konsep harta itu bukan dicari lantas ditumpuk, tetapi dicari lalu dibagi. "Simpan hartamu di langit, agar bisa bisa kembali kamu ambil ketika kamu kembali ke langit. Pakai secukupnya saja ketika kita masih hidup di bumi," pesan ibu kepada Arjuna saat pertama kali membuka warung pecel lele.

Mobil Arjuna berhenti di depan rumah sebuah komplek perumahan. Ba'da Subuh tadi Arjuna sudah menelepon Laras untuk memberi tahu mau datang ke rumahnya. Laras tak memberi jawaban. Sebelum telepon ditutup, Laras hanya berkata, "Aku mau siap-siap melanjutkan ibadah."

Di balik setir mobil, Arjuna kembali menelepon Laras. Arjuna mau memastikan Laras tak menolak kedatangannya. Setidaknya Arjuna sudah siap jika memang ditolak.

Pagi itu rumah Laras yang dindingnya dominan warna putih dan bergaya amerika klasik terlihat sepi. Tak ada tenda, tak ada karangan bunga. Tak ada tanda-tanda atau kesibukan akan ada peristiwa penting hari ini. Tak ada kesibukan akan penerimaan tamu di pagi hari Rabu.

Seseorang berpakaian safari tiba-tiba mengetuk kaca mobil Arjuna. Karyawan keluarga Laras. Arjuna diminta mengikutinya masuk ke dalam rumah.

"Maaf apa betul ini Mas Juna? Mas Juna diminta Non Laras masuk ke dalam rumah. Kasihan ibunya Mas Juna, kata Non Laras. Silakan parkir mobilnya di dalam saja."

Setelah mengikuti pria tersebut dan memarkirkan mobil di garasi. Arjuna lalu menggandeng ibunya masuk ke dalam rumah Laras. Arjuna dan ibunya membawa buah tangan tak biasa, parcel berisi jilbab.

Dari rumah, Arjuna sudah gelisah sebenarnya. Tapi saat itu Arjuna mampu menyembunyikannya. Melamar remaja yang lahir dari keluarga berlimpah harta, bukan perkara main-main. Apalagi mengingat latar belakang keluarga Arjuna yang berbanding terbalik dengan perempuan yang akan dipinangnya. Apakah orang tua Laras bakal merelakan putrinya hidup sederhana bersama pedagang pecel lele?

Karena alasan itu, ragu sempat mampir ke kalbu. Namun tak ringannya perjuangan hidup, membuat Arjuna jauh lebih dewasa dalam bersikap. Arjuna punya keyakinan dan percaya diri menjulang tinggi. Ini bukan nekat, tapi mengambil peluang, batin Arjuna.

Arjuna masuk ke dalam rumah Laras dan berjalan dengan bahasa tubuh percaya diri sebelum duduk di sofa kulit warna cokelat muda. Lantai ruang tamu berukuran lapangan bulu tangkis itu dihampari permadani merah menyala, dan lampu kristal berkilauan tergantung tiga meter di atas kepala Arjuna.

Laras keluar dari dalam ruang tengah. Laras pagi itu mengenakan gaun lengan panjang berwarna jingga. Seperti biasa ia tersenyum. Matanya memancarkan aura menawan, nayanika. Di mata Arjuna saat itu, Laras seperti swastamita, pemandangan indah saat matahari hendak tenggelam.

Kamu itu terbuat dari gulali, taburan cokelat meses, serta sebongkah gula batu. Dan senja adalah penawarnya, Arjuna membatin melihat kecantikan Laras pagi itu.

Laras membawa sendiri nampan berisi air teh ke ruang tamu, tempat Juna dan ibunya menunggu. "Ibu, perkenalkan, saya Laras, teman sekelas Juna." Laras mencium tangan ibu Arjuna sebelum duduk. Takzim.

Arjuna memberikan parcel berisi jilbab kepada Laras yang kemudian menyimpannya di meja kecil samping sofa. Sembilan puluh detik kemudian, datang seorang perempuan bergamis putih. Jilbabnya panjang dan wajahnya nyaris terlihat tanpa riasan. Anggun.

Perempuan itu bersalaman dengan ibu, lalu tersenyum kepada Arjuna sebelum duduk dan memperkenalkan diri. Arjuna sempat diam, karena Arjuna mengenal perempuan tersebut. Arjuna terkejut sesaat, namun segera menguasai keadaan.

Tanpa banyak basa-basi, Arjuna lalu mengutarakan niatnya meminta Laras menjadi istrinya. Penuh keyakinan, dengan kalimat yang tertata sopan dan mengesankan.

"Silakan tanya sendiri ke Laras. Saya sebagai ibu akan memberi restu jika Laras setuju."

Mata Arjuna dan ibu Laras kini tertuju kepada perempuan belia yang wajahnya kini memiliki semburat merah. "Insha Allah, aku menerima kamu. Aku sudah mendengar kisah perjuanganmu dari ibu. Ibu aku yakin juga percaya, kamu laki-laki dengan jiwa penyabar dan bakal menjadi suami yang baik."

Arjuna hampir melonjak kegirangan. Arjuna benar-benar mendapatkan hujan di tengah kemarau. Seperti menemukan oase di tengah gurun pasir. Namun Arjuna juga ingin mendapatkan jawaban dari surat yang diberikan Laras untuknya di sekolah.

"Surat itu kalimat perintah, bukan pengumuman," Laras buka suara menjawab rasa penasaran Arjuna.

Perempuan bergamis putih itu juga mengucapkan hamdalah. Lalu mengusap kepala putrinya, Laras. Perempuan itu, ibu Laras adalah Nyai Sagopi, pengusaha travel umroh sekaligus pelanggan pecel lele Arjuna.

Nyai Sagopi tersenyum, Arjuna sumringah, dan Laras menunduk malu. Namun, ibu Arjuna sedari masuk rumah Laras berubah sikap. Ibu Arjuna terlihat terganggu dengan sebuah foto lukisan keluarga berukuran sekitar 90 cm x 150 cm yang tergantung di dinding ruang tamu. Di foto berbingkai warna emas itu terpajang foto Nyai Sagopi, Laras, dan seorang pria berkumis tipis dengan tubuh terlihat tegap.

"Ibu, sebelumnya maaf. Bolehkah saya bertanya? Pria di foto bersama ibu dan Laras di sana siapa?" Ibu Arjuna bertanya sembari menunjuk dengan ibu jari tangan kanannya ke arah foto berbingkai warna emas. Setelah itu 10 jemari tangan kanan dan kiri Ibu Arjuna ditautkan.

Nyai Sagopi tersenyum. Lagi-lagi tersenyum. Cantik terlihat. Waktu seolah tak mampu merampas kecantikan dari wajah Nyai Sagopi. Laras mewarisi keanggunannya.

"Itu almarhum suami saya. Beliau meninggal saat Laras masih SMP," jawaban Nyai Sagopi membuat tubuh Ibu Arjuna gemetar. Raut wajahnya berubah. Matanya di balik bingkai kaca silinder kini berkilauan.

Ibu Arjuna menarik nafas. Ada aura berbeda yang Arjuna rasakan dari ibunya.

"Juna jika sudah selesai, mari kita pulang, Nak."

"Laras, Ibu Sagopi, maaf sebelumnya, saya dan Juna pamit. Insha Allah, pembicaraan soal lamaran ini nanti kita lanjutkan di lain waktu."

Nyai Sagopi dan Laras heran. Tapi mereka tak bisa menahan Arjuna dan ibunya pamit pulang. Juna ditempatkan di situasi serba salah. Ada apa dengan ibunya. Mengapa tiba-tiba berubah sikap. Tapi dari kecil Arjuna tak pernah membantah permintaan ibunya. Nyai Sagopi dan Laras mengantarkan Arjuna dan ibunya sampai ke pintu depan rumah.

Di dalam mobil, ibu Arjuna tak bisa membendung kesedihan. Bedak di pipinya meluntur. Ibunya memalingkan wajah keluar jendela mobil selama perjalanan pulang. Semua pertanyaan dari Arjuna tak dijawab. Ibu hanya berkata singkat ketika mobil sampai di garasi rumah mereka.

"Kamu dan Laras tak boleh menikah, Nak. Tak Boleh!"

Ibunya turun dari mobil. Berjalan cepat membuka pintu rumah, lalu masuk dengan tergesa. Arjuna masih di balik setir mobil. Arjuna heran. Arjuna mencoba menerka. Arjuna mencari tahu penyebab kesedihan ibunya.

Arjuna memeras ingatan dan pikirannya melompat ke kenangan sekitar 14 tahun lalu. Wajah pria di foto lukisan berbingkai bersama Nyai Sagopi dan Laras samar-samar pernah dilihatnya. Entah di mana. Arjuna masih mencoba mengingatnya.

***

 

Comment 0