Dari balik jendela kaca, sepasang mata senja Utari berlari ke halaman. Tampak seekor induk ayam tengah mengais tanah di bawah pohon kersen. Di sekitar, anak-anaknya berkeciap, berlarian tak tentu arah. Perempuan baya itu menghitung, ada empat ekor. Lekat dalam ingatan, sebulan lalu ia menyuruh Sarmi menurunkan kuthuk-kuthuk itu dari tarangan. Berjumlah lima ekor, empat hitam dan satu putih. Lalu ke mana raibnya kuthuk putih itu sekarang?

Beranjak ia menghampiri si babon. Induk ayam itu sibuk menarik cacing dari balik daun busuk. Serentak keempat anaknya memburu, berebut. Refleks, pandangan Utari mengikuti mereka berkejaran. Matanya membola ketika melihat kuthuk yang dicari tengah tergeletak di semak. Semut-semut merah mengerubungi mayat kuthuk malang itu.

“Ada apa, Bu?” Suara berat mengalihkan perhatian. Ia menoleh, lelaki berwajah teduh menghampiri. Dari balik kopiah hitam menyembul helai rambutnya yang berserakan uban.

“Oh, Bapak, sudah datang. Dapat bukunya?”

“Dapat,” jawab Praminto pendek. “Kenapa, Bu, tak lihat dari jauh Ibu, kok, lenger-lenger gitu?”

“Ini, lho, Pak, anaknya si babon meninggal satu.”

“Cuma itu? Tak kira ada apa…..”

 “Iya, Pak. Ibu enggak tega saja melihatnya.”

“Sudahlah, Bu, kubur saja sana! Kalau enggak tega, suruh saja Sarmi!” usul Praminto sembari melangkah ke teras.

 Utari tak langsung mengiyakan, ia masih mematung. Dilihatnya kini si babon tengah beristirahat. Anak-anaknya berlindung aman di balik sepasang sayap yang kokoh. Perlakuan induk ayam itu menerbangkan ingatan, berpuluh tahun silam. Betapa lahap mulut mungil kedua anaknya semasa masih bayi, mengisap ASI dari payudaranya. Beranjak kanak-kanak, ia senantiasa mendongeng ketika mereka berangkat tidur. Kisah Timun Emas, Ande-Ande Lumut, ataupun Kleting Kuning. Perempuan yang kini telah bercucu itu kembali merindukan masa-masa lampau. Masa di mana anak-anaknya masih sepenuhnya dalam rengkuhan….

***

Utari mendekap bingkai foto keluarga. Foto kenangan ketika anggota keluarga masih berkumpul. Kala kedua anaknya masih dalam pengasuhan. Kini ia hanya tinggal berdua di rumah bersama Praminto. Si Sarmi, pembantunya itu, hanya menemani sampai menjelang isya. Setelah pekerjaannya rampung, ia akan pulang mengurus anak dan suaminya sendiri.

    Sepasang anaknya telah merantau dan berkeluarga. Si sulung Praba tinggal di Jakarta, sedangkan adiknya, Bima, bermukim di Bandung. Untuk mengusir sepi, ia rajin berkebun, memelihara beberapa ekor ayam kampung, serta memanfaatkan keahliannya membuat kue. Hasilnya dititipkan ke warung-warung. Bukan uang semata tujuan utama Utari. Dengan dua anak yang telah mentas, uang pensiunan suaminya cukup untuk membiayai keperluan mereka selama satu bulan. Toh, mereka tinggal di kota kecil, Magetan, dengan biaya hidup yang relatif terjangkau. Berinteraksi dengan para pelanggan membuatnya lebih bergairah dan bugar.

    “Bim, kira-kira siapa, ya, kelak yang mau menemani Bapak-Ibu di rumah ini?” tanyanya kepada anak ragil yang baru saja masuk perguruan tinggi kala itu. Delapan tahun silam.

    “Ya, akulah, Bu. Siapa lagi? Kalau Mbak Praba pasti akan ikut dengan suaminya,”

    “Ibumu itu, lho, wong anaknya baru mau jadi mahasiswa, kok, sudah ditanya gitu…,” sergah Praminto.

    “Ya, wajar, dong, Pak. Kita nanti pasti akan tua, jompo. Terus siapa yang akan merawat kita?”

“Sudah, Le. Jangan ditanggapi omongan nggladrah ibumu itu. Yang penting kamu belajar yang rajin, biar cepat jadi sarjana!”

“Jangan khawatir, Bu. Bima pasti kembali ke rumah ini. Menjaga Bapak dan Ibu,” ucap Bima, menghentikan perdebatan orang tuanya. Bibir Utari pun mengembang, menebar kemenangan.

Tapi, angan memang tak selamanya sesuai dengan kenyataan. Setelah Bima lulus kuliah, ia memilih kerja di Bandung. Kota tempatnya meraih gelar sarjana. Dan anak lanang-nya itu pun menikah dengan sesama teman kuliah. Gadis dari seberang pulau. Hampir tiap Idul Fitri, Bima memilih pulang ke Padang. Bersama keluarga besar istrinya. Ia cukup berbesar hati, walau tak dipungkiri perasaan cemburu terkadang menjangkiti. Sudah empat Lebaran anak lanang-nya itu sungkem hanya lewat telepon.

Segendang sepenarian dengan mbakyu-nya, si Praba. Ia terlalu sibuk dengan bisnis musiman. Bisnis parsel Lebaran! Momen menggiurkan ini hanya datang sekali setahun, jadi tak boleh dilewatkan untuk meraup rezeki sebanyak-banyaknya.

“Ngapunten, Bu, Praba sekeluarga, enggak bisa pulang. Nanti parsel dan uang buat Lebaran akan segera dikirim,”

Pertama kali, jujur, ia teramat gembira menerima segala bingkisan itu. Tapi setelahnya, Utari menjadi jengah. Uang ataupun bingkisan bukan segalanya. Ia lebih merindukan kehadiran anak cucunya lengkap di hari kemenangan.

***

“Apa Lebaran tahun ini kita hanya berduaan lagi, ya, Pak?” cetus Utari sembari meletakkan wedang jahe di meja ruang tamu. Praminto sibuk bergelut dengan buku barunya.

“Memang kenapa? Bukannya sudah biasa?”

Utari menghela napas, “Kapan ya, Pak, saat Lebaran kita bisa berkumpul di rumah ini seperti dulu lagi? Setidaknya sebelum aku dipanggil Gusti Allah….”

“Hush, kamu itu ngomong apa, sih, Bu….”

Praminto menghentikan membaca. Dari balik kacamata, matanya melotot.

“Sebagai orang tua kita harus bersyukur. Anak cucu kita sehat, murah rezeki dan tidak neko-neko. Toh, tiap orang tua pasti mengalami seperti kita ini. Kesepian ditinggal anak-anaknya….”

Utari tak menjawab, dalam hati terdalam ia menyesal telah melontarkan kalimat seperti itu. Benar, mestinya ia bersyukur dengan segala karunia-Nya. Sejak kecil sampai berumah tangga seperti sekarang, Praba dan Bima tak pernah berbuat yang memalukan dan menyusahkan orang tua. Hanya kenakalan kecil khas anak-anak seusia, kala masih kanak-kanak ataupun masa remaja.

Telinga Utari menangkap getaran. Seekor kupu-kupu bersayap lebar kecokelatan terbang memasuki rumah. Berputar di langit-langit, mengitari lampu lalu menabrak eternit. Serangga berukuran besar dibandingkan dengan spesiesnya itu biasa disebut rama-rama.

“Wah, bakalan ada tamu jauh datang, Pak….”

“Sampeyan itu, lho, Bu, masih saja percaya pada gugon tuhon lama itu….”

“Bapak ini gimana, sih. Orang Jawa itu kan penuh dengan pasemon atau perlambang,” Utari menyanggah omongan suaminya. Ia adalah tipe perempuan Jawa, yang sampai sekarang masih selalu kukuh menerapkan pitutur dan menjaga wewaler para leluhur.

“Jadi Ibu juga percaya kalau burung prenjak yang tiap pagi berkicau itu pertanda tamu jauh bakal datang? Lha, wong sarangnya saja ada di pohon mangga depan rumah. Jadi wajarlah suaranya kedengaran dari sini…,” sergah Praminto setengah mengejek.

Utari tersudut. Memang, secara logika apa yang diungkapkan suaminya benar adanya. Tapi entah mengapa, ia tak bisa melepas kepercayaan itu. Yang diajarkan nenek moyang berdasarkan tanda dan kejadian alam. Dulu, sewaktu dirinya kecil, pertanda itu sering tepat. Tapi sekarang? Ia sering menjadi bulan-bulanan suaminya karena pendapat kunonya itu.

Telepon rumah yang terletak di meja sudut berdering. Utari bergegas mengangkat gagang telepon.

 “Bu, Insya Allah Praba dan keluarga akan ber-Idul Fitri di kampung.”

“Maksud kamu di sini? Di Magetan?” tanya Utari, separuh tak percaya.

“Iya, Bu, memang di mana lagi?”

“ Apa enggak sayang dengan bisnis parselmu?”

“Ah, Ibu ini, meledek saja. Parsel tetap jalan, Bu. Dikelola sama teman Praba.”

“Alhamdulillah, berarti rumah ini akan ramai nanti saat Lebaran.”

Dari seberang terdengar Praba menghela napas. “Bu, sebenarnya Praba ingin berbicara lebih panjang….”

“Iya, Nduk. Kamu mau ngomong apa?”

“Nan… nanti saja, Bu…,” suara Praba terdengar ragu. “Nanti saja, setelah Praba sampai di rumah. Biar lebih enak….”

“Kenapa enggak sekarang saja, tho, Nduk. Ibu siap mendengarkan, lho….”

“Ini masalah perempuan, Bu. Rahasia! Praba enggak bisa ngomong di telepon.”

“Yo, wis, kalau begitu. Ibu tunggu, ya….”

“Oh, ya, hampir lupa. Bima rasan-rasan juga akan Lebaran di Magetan….”

“Kok, Bima enggak bilang?”

“Mungkin nanti, Bu, kalau sudah pasti. Takutnya ia berubah rencana….”

“Oh, gitu….” Utari yang semula girang, mendadak kecewa. “Artinya, adikmu itu belum tentu Lebaran di sini, ‘kan?”

“Ibu jangan pesimistis begitu, tho. Nanti Praba yang bujuk Bima. Biar kita sekeluarga bisa kumpul….”

“Ya, Nduk. Tolong bujuk Bima, ya,” kata Utari penuh harap.

“Praba usahakan, ya, Bu.”

Beberapa saat berselang ibu dan anak itu mengakhiri percakapan.

Walaupun kepulangan Bima masih teka-teki, hati Utari sudah merasa lega. Setidaknya, Lebaran tahun ini rumahnya akan semarak. Saatnya pembuktian kepada Praminto akan tiba, isyarat alam yang diyakininya masih relevan. Kemunculan seekor rama-rama adalah pertanda kedatangan tamu yang dirindukan. Anak, menantu, serta para cucunya.

*** 

Ramadan telah tiba. Bulan suci bagi umat muslim untuk menunaikan rukun Islam yang keempat. Suasana puasa kali ini dirasakan Utari begitu ringan dan tenteram. Apalagi dengan rencana Praba untuk merayakan Idul Fitri bersamanya. Sampai minggu ketiga, ia tak pernah alpa puasa. Ibadah wajib dan sunah pun mulus ia tegakkan.

“Mi, Sarmi, kemari…!”

“Iya, Bu….” Tergopoh Sarmi menghampiri.

“Kamu lanjutkan mengelap keramik ini, ya! Aku mau rebahan dulu. Pinggangku udah pegal. Awas, lho, jangan sampai pecah!”

Tanpa membantah, Sarmi menuruti apa yang dititahkan. Beberapa hari ini Utari begitu sibuk mengatur rumah. Ia mau tampilan yang baru untuk suasana Lebaran kali ini. Biar anak cucunya nanti pangling. Semua sudut ruangan serta perabot ia bersihkan. Tak terkecuali koleksi keramiknya, tak luput dari sentuhan.

Senyatanya, Sarmi kurang begitu suka dengan pekerjaan membersihkan keramik. Perlu ketelitian dan kehati-hatian tingkat tinggi untuk menghilangkan debu dari benda-benda rawan retak tersebut. Dan ia kurang memiliki kesabaran untuk itu.

Konsentrasi Sarmi mendadak pecah. Ponsel yang terletak di meja tamu dekatnya bergetar. Buru-buru ia raih, setengah berlari ke kamar Utari.

“Bu, ngapunten, ada telepon….”

“Da… dari siapa, Mi?” tanya Utari dengan mata mengatup.

“Sepertinya dari Mbak Praba, Bu….”

Dari Praba? Pasti ia hendak memesan makanan kesayangannya untuk suami dan anak-anaknya saat Lebaran nanti. Spontan Utari memencet keypad.

“Bu… Ibu….” Perasaan perempuan baya itu seketika mencelos. Suara Praba tersendat di sela tangis. “Ma… maafkan segala kesalahan, Praba….”

“Lho, lho, Nduk, ada apa ini? Tiba-tiba, kok, nangis dan minta maaf?” tanya Utari bingung.

“Pra… Praba dua hari lagi mau operasi, Bu. Doakan semoga lancar….”

“Nduk, kamu jangan bercanda. Mau operasi apa?!”

“Pa… payudara, Bu. Payudara kanan Praba harus diangkat. Jaringan kanker telah menyebar.”

Bagai disambar geledek Utari mendengarnya. Jadi ini rahasia perempuan yang hendak Praba ceritakan tempo hari itu? Beberapa jeda ia tak mampu bersuara. Butiran air mata perlahan turun di kedua pipinya yang lisut. Membanjir, menjelma sedan tertahan.

***

Tiga hari berselang….   

 “Maaf, ya, Bu. Praba dan anak-anak enggak jadi pulang kampung. Malah Ibu yang ke Jakarta nungguin Praba sakit….”

Senyum Utari mengembang. Ia mendekat, duduk di kursi samping ranjang pasien.

“Kamu itu ngomong apa tho, Nduk. Jangan berpikir macam-macam. Yang paling penting sekarang adalah kondisimu. Istirahat yang cukup dan rajin minum obat.”

Praba kembali terdiam. Sorot matanya redup menatap tetesan cairan infus yang perlahan masuk ke dalam tubuh. Sedikit nyeri terasa di ketiak sebelah kanan bila ia bergerak. Utari membetulkan selimut yang menutup tubuh mungilnya.

“Nduk, dengarkan Ibu. Kamu enggak usah sedih. Kita semua akan merayakan Lebaran bersama di sini. Bima sebelum pulang ke Bandung kemarin bilang, ia bersama anak dan istrinya akan Lebaran di Jakarta.”

“Benar, Bu, Bima punya rencana begitu?” 

Utari mengangguk, sembari menggenggam jemari Praba. “Iya, Nduk. Lebaran ini pasti akan meriah.”

Rona kesumba sontak menjalar di paras Praba yang pasi. Utari gembira, semangat hidup Praba perlahan terpantik. Ramadan kali ini, semua anggota keluarganya bakal berkumpul. Dalam suasana lain, dengan rasa jiwa teraduk. Sebagai seorang ibu, ujian yang menimpa Praba membuat hatinya teriris. Di penghujung Ramadan ini pula tersemat janji. Akan didampinginya Praba, selamanya….(f)

Keterangan :

Rama-rama: sejenis kupu-kupu cokelat bersayap lebar

Kuthuk: anak ayam

Tarangan: sarang,

Babon: induk ayam

Lenger-lenger: melamun

Mentas: berhasil

Ragil: bungsu

Nggladrah: tidak jelas

Neko-neko: macam-macam

Gugon tuhon: kepercayaan

Wewaler: pantangan

Rasan-rasan: berencana

Pangling: tak mengenali

Ngapunten: maaf

***

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Lintang Dhian

Cerita Pendek: Cinta Yang Terlambat

Cerita Pendek: Lolipop

Cerita Pendek: Hari Raya Hantu

Comment 0