Entah kenapa, Hana merasa bahwa kondisinya sebagai wanita karier sukses yang ditinggal suami lebih banyak menuai cibiran dan kenyinyiran dibandingkan empati.

Hanna mengalihkan pandangan dari tabletnya ke arah pintu yang terbuka. Sosok Sabia yang berusia 7 tahun menghambur masuk dan berteriak kencang,

“Mama!”

Di belakangnya, Siti berusaha mengejar, tapi berhenti di pintu kamar. Ia mengerti, sampai di situlah batas pribadi milik nyonya rumah. Hanna tak menjawab panggilan Sabia, tapi terlebih dulu melemparkan pandangan menegur ke Siti, yang kemudian buru-buru menjelaskan,

“Sudah saya bilang kalau Ibu sedang enggak enak badan, tapi Non Sabia maunya ketemu sama Ibu. Sudah saya bujuk, Bu….”

         

Hanna menghela napas panjang, mengerti sekali bagaimana Sabia yang merupakan jiplakan dirinya kalau sudah berkeras mengenai sesuatu.

“Maaaa….”

         

Sabia mulai merengek sambil menarik tangan Hanna. Tablet di tangannya hampir jatuh, dan Hanna menjerit kecil.

“Aduh! Ya, ampun Sabia, hati-hati, Sayang!” ujar Hanna.

Sabia terdiam sejenak, memperhatikan ibunya yang dengan khawatir mengambil tabletnya dan menggenggamnya dengan lebih hati-hati.

“Ada apa? Jam segini, kok, belum tidur siang?” tanya Hanna.  

“Sabia mau tidur siang ditemani Mama….”

Hanna mengernyit

“Kok, harus ditemani Mama, sih?”

“Ya, kan Mama lagi di rumah.”

Hanna menggeleng, sambil menunjuk ke tablet di tangannya.

“Mama pulang cepat hari ini karena Mama tidak enak badan, banyak pekerjaan yang harus Mama selesaikan dari rumah….”

“Mama tidur dengan Sabia aja, nanti Sabia pijitin,” rengek Sabia.

Hanna menggeleng makin tegas, sudah mulai tak sabar.

“Sudahlah, Sabia tidur ditemani Mbak Siti, ya?!”

Wajah Sabia cemberut, dan dia kemudian berdiri sambil mengentakkan kakinya.

“Yah… Mama!”

         

Hanna mau melanjutkan ucapannya, tetapi dia tertegun melihat gerakan tangan Sabia yang menggaruk-garuk kulit kepalanya dengan cepat, dan agak lama.

“Kenapa garuk-garuk terus, sih, Bia?”

Sabia terus menggaruk, dan wajahnya ikut mengernyit

“Enggak tau, nih kenapa, Ma. Gatel banget.”

       

Hanna meletakkan tabletnya, lalu memegang tangan Sabia dan menariknya untuk mendekat dengan wajah curiga. Sabia memandang Hanna dengan heran, tapi jelas terlihat dia tidak keberatan. Hanna memegang kepala Sabia, dan mengurai rambut Sabia di bagian yang dia garuk tadi. Satu titik mengilat yang menempel di ujung pangkal batang rambut Sabia membuat Hanna berteriak ngeri.

“Aaaaarghhh!”

Sabia memandang Hanna dengan wajah polos.

“Kenapa, Ma?”

Hanna menoleh ke arah pintu, ke arah Siti yang sabar menunggu nona kecilnya.

“Siti! Kenapa rambut Sabia bisa kutuan?!”

Dan Siti hanya bisa ternganga.

Hanna memandangi wajah mungil di pangkuannya yang tertidur lelap. Matahari sore makin beranjak dan membuat matanya tidak sanggup lagi mencari sosok superkecil di batang rambut Sabia yang halus. Hanna menghela napas panjang, sedikit jengkel. Entah dari mana Sabia bisa tertular kutu. Sebelumnya Hanna mencurigai Siti, dia sudah memeriksa rambut Siti dan ternyata bersih.

          “Menambah urusan saja…”

Hanna menggumam sambil mengoleskan salep yang diresepkan dr. Mia, sang dokter keluarga, ke seluruh kulit kepala Sabia dengan hati-hati. Besok pagi tinggal dicuci, dan seharusnya semua kutu di kepala Sabia akan lenyap. Sungguh memalukan kalau Sabia ketahuan berkutu. Membayangkan si cantik yang sungguh mirip dengan Youri, mantan suaminya, ini menggaruk-garuk kepalanya dan ditatap oleh teman-temannya dengan tatapan mencemooh, membuat ngilu hati Hanna. Ngilu membayangkan malunya.

Sudah cukup Sabia berbeda dari anak kebanyakan karena hanya mempunyai seorang mama dan ditinggal ayahnya untuk menikah dengan cinta lamanya. Jangan sampai ditambah dengan label anak yang tidak diurus oleh mamanya.

Kondisi berkutu ini akan membuat mulut semua orang makin berkomentar bahwa pantas saja dirinya ditinggal oleh suaminya. Apa enaknya hidup dengan wanita karier yang ambisius dan tidak bisa mengurus keluarga? Lihat saja, anaknya sampai kutuan. Hanna bisa membayangkan kalimat itu akan ditambahkan dalam gunjingan lain mengenai dirinya.

Entah kenapa, Hana merasa bahwa kondisinya sebagai wanita karier sukses yang ditinggal suami lebih banyak menuai cibiran dan kenyinyiran dibandingkan empati. Jadi, Hanna tidak akan membiarkan Sabia juga kena getahnya. Sabia tumbuh cantik dan selalu berhasil juara kelas. Dia adalah ibu yang berhasil, meski dia melakukannya sendirian. Tentu saja dibantu Siti, Mbok Nah, dan juga Pak Asep, sopir mereka, untuk mendukung pekerjaannya.

 

Dia tidak akan membiarkan insiden kutu ini menjadi masalah serius yang bisa mempertaruhkan namanya di hadapan para orang tua teman-teman Sabia, di antara teman-temannya sendiri, dan di antara teman-teman Sabia juga.

Sabia mengerang perlahan, sepertinya posisinya sudah tidak enak. Hanna mengumpulkan kekuatannya dan berusaha membopong Sabia ke arah tempat tidurnya. Perlahan dia letakkan Sabia di atas tempat tidur, dan menyelimutinya. Hanna mengambil remote AC, dan memastikan suhu ruangan sudah cukup sejuk. Ia membungkuk untuk sekali lagi mencium kening Sabia, dan mungkin perasaannya saja, tapi sudut bibir Sabia sedikit naik memberikan kesan senyuman di wajah cantiknya. Membuatnya tercekat, betapa 7 tahun berjalan tanpa terasa dan bayi kecilnya sudah bertumbuh saat ini.

Hanna tersenyum memandang layar tabletnya. Baru saja dia mendapat e-mail dari sekretaris kantor, mengenai itinerary perjalanan ke Eropa bulan depan. Dua minggu ke 4 negara, layak untuk ditunggu. Yang menjadi masalah karena dia harus menjadwal ulang rencana berlibur ke Bali bersama Sabia. Hanna membuka kalender di tablet, dan baru saja mau memikirkan apakah ke Bali lebih baik diundur atau dimajukan, tapi kegiatannya terpotong teriakan Sabia.

“Maaaaa….”

         Hanna menoleh, dan Sabia menghampirinya sambil garuk-garuk kepala. Wajah Hanna langsung berubah horor. Dia letakkan tabletnya, langsung berdiri dan memegangi kepala Sabia

“Oh, no, Sabia… Apa ada kutu lagi? Hah? Iya?”

Wajah Sabia terlihat memelas.

“Enggak tau, Maaa… tapi gatel banget, nih.”

       

Kali ini Hanna benar-benar geram. Ini sudah yang keempat kalinya dalam dua minggu ini dia mencari kutu di rambut Sabia. Sewaktu dia menelepon dr. Mia kemarin dan mengeluhkan kemunculan kutu di rambut Sabia berulang kali, dr. Mia meminta Hanna bertanya saja ke guru Sabia, siapa teman dekat Sabia sekarang. Mungkin dia yang menulari kutu ke Sabia.

Tapi, Hanna merasa tindakan itu punya risiko, itu sama saja dengan mengadukan kalau anaknya kutuan. Apalagi ada beberapa guru sekolah Sabia yang punya blog dan suka menulis mengenai kejadian di kelasnya. Bisa jadi kejadian Sabia dengan kutunya menjadi topik yang baru di blog mereka. Tidak. Itu bukan pilihan.

Maka Hanna harus menelan segala kekesalannya, dan menyelesaikan masalah ini sendiri. Seperti biasa. Hanna menggandeng Sabia ke sofa di dekat jendela, dan Sabia dengan spontan meletakkan kepalanya di pangkuan Hanna.

Pencarian kutu dimulai, diiringi celoteh Sabia yang bercerita ujian mendadak di sekolahnya hari Jumat kemarin, les renangnya Sabtu kemarin, dan rencana dia bermain sepeda di Minggu sore ini.

“Kamu main sepedanya nanti saja, setelah Mama selesai cari semua kutumu,”

“Oke, Ma!” jawab Sabia dengan ceria, tidak membantah sama sekali.

        Dan Sabia kembali berceloteh panjang lebar. Sementara Hanna menggumam menanggapinya, serius menyisir seluruh rambut Sabia dengan tatapan tajamnya.

Hanna memandang Siti dengan wajah tidak sabar.

“Di sekolah, siapa di antara temannya yang mencurigakan? Yang juga garuk-garuk kepala seperti dia? Antara si Ina, Shanty, Mona, dan Ita?” selidik Hanna.

Siti menggeleng lemah.

“Enggak ada, Bu….”

Hanna makin kesal.

“Jadi dari mana kutu di kepala Sabia? Tiap saya bersihkan kepalanya, saya yakin tidak ada satu pun kutu lagi yang menempel di situ! Tapi, beberapa hari kemudian, kepalanya sudah gatal lagi.”

Siti menunduk. Dengan jengkel Hanna berdiri, ingin berjalan ke kamarnya.

“Ya, sudah! Pokoknya pastikan kamu juga jangan sampai berkutu! Namanya wabah kalau sudah begitu!” bentak Hanna.  

Siti mengangguk, sedikit gentar.

Hanna masuk ke kamar Sabia, dan memandangi putrinya yang sudah terlelap. Tadi dia sudah meminta pengertian Sabia, pergi ke Bali-nya akan ditunda sampai kepulangan Hanna dari Eropa. Sabia minta ikut dan sedikit ngambek karena Hanna akan pergi dua minggu. Hanna bilang dua minggu tidak terlalu lama.

        

 “Nanti juga enggak terasa, tiba-tiba Mama sudah pulang, dan minggu depannya lagi kita tinggal pergi ke Bali!”

Sabia masih tetap cemberut mendengar bujukan Hanna. Hanna tidak terlalu khawatir, seperti biasa Sabia pasti akan mengerti. Tangan Hanna bergerak merapikan selimut Sabia. Dia mengernyit melihat satu kotak plastik kecil sekali di dekat bantal Sabia. Hanna mengambilnya, agak penasaran tempat apa, sih, kotak plastik kecil itu. Ringan, seperti tidak ada isinya. Hanna membukanya, dan dia tertegun sebelum berteriak kencang, “Aaaaaarghh!!” Ia menutup lagi kotak itu dengan susah payah karena panik. Bulu kuduknya merinding, dan Sabia yang lelap tidak terganggu dengan teriakan Hanna, hanya sedikit bergerak. Tapi pintu kamar terbuka, dan Siti memandang Hanna dengan heran.

“Ada apa, Bu?”

        

Hanna langsung mendekati Siti dan menyerahkan kotak kecil di genggamannya dengan wajah jijik dan panik.

“Kamu tahu ini? Apa-apaan ini?!” bentak Hanna.

Siti kelihatan salah tingkah, dan Hanna langsung tahu kalau Siti tahu soal ini.

“Siti, jawab saya! Ini… apa-apaan ini?!”

Siti menunduk dengan mata berkaca-kaca.

“Itu… itu rahasia Non Sabia, Bu….”

“Rahasia bagaimana? Buat apa dia menyimpan kutu di situ?!”

Suara Hanna sudah meninggi bercampur panik dan frustrasi.

“Non Sabia bilang… dia mau kutuan saja. Soalnya, sejak ketahuan kutuan, katanya Ibu jadi sering pegang kepala Non Sabia… dan mendengarkan Non Sabia cerita lama. Ibu jadi tidak pegang handphone terus. Dan sudah beberapa kali Non Sabia sengaja minta saya untuk mengambil kutu ini dari anak tukang pecel di pasar, Bu,” ungkap Siti.

Penjelasan Siti sudah makin samar didengar oleh Hanna. Telinganya terasa kebal dan matanya makin buram. Terasa ngilu hatinya. Bukan karena malu membayangkan anaknya berkutu dan dicemooh orang banyak, tapi ngilu karena membayangkan anaknya yang baru 7 tahun melakukan apa saja untuk mencari perhatiannya.

Merinding bulu kuduknya, bukan karena kejijikannya melihat kutu yang di kotak tadi. Tapi merinding membayangkan, jika usaha untuk mencari perhatian ini dilakukan di saat Sabia dewasa. Apa yang akan dia lakukan untuk mencari perhatiannya? Ibunya lebih suka memegang tablet daripada memegang anaknya? Apa Sabia akan memakai pakaian supermini untuk memancing perhatian lewat amarahnya? Atau memacari para lelaki yang bukan idaman para orang tua, untuk mencari perhatian dirinya?

Tablet di tangan Hanna terjatuh. Dan kali ini, dia tersedu. Menyesali apa yang tidak dilakukannya bertahun-tahun terhadap Sabia, sekaligus bersyukur dia ditegur hanya melalui makhluk menjijikkan pengisap darah bernama kutu. Dia masih punya kesempatan. Hanna menyerahkan kotak kecil kepada Siti yang masih takut padanya. Lalu Hanna pun menyerahkan tablet di tangannya.

“Malam ini saya tidur di sini…. Saya mau menemani Sabia,” ujar Hanna, lirih.  

        

Siti memandang Hanna dengan bingung, tapi dia mengambil kotak kecil dan tablet dari tangan Hanna. Memandangi majikannya yang berjalan cepat dan berbaring di sisi anaknya sambil mengusap rambutnya dari belakang. Seperti mengabaikan keberadaan kutu yang kali ini memang disengaja.

Tapi sungguh, Hanna tidak menyesali kutu yang pertama kali hadir tak sengaja di kepala Sabia dulu. Yang muncul entah dari mana, dan pastinya bukan dari kepala si anak tukang pecel. Bisa saja Tuhan yang menaruhnya dengan cara entah bagaimana, untuk mengingatkan Hanna akan titipan-Nya yang paling berharga.

***

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Rama-rama

Cerita Pendek: Lintang Dhian

Cerita Pendek: Cinta Yang Terlambat

Cerita Pendek: Lolipop

Comment 0