Malam merangkak larut, semestinya aku melakukan rutinitas sebelum menjemput mimpi: menyikat gigi, membasuh muka, dan mengenakan piama. Selanjutnya, menyenggol Meysha yang mengambil lapak tidurku. Tapi kini, aku masih bergumul di dapur, disorot sebuah bola lampu hemat energi, ditemani selembar apron usang dan sebuah sarung tangan.

    Sepasang mata layuku senantiasa mengawasi termometer di dalam periuk berisi adonan lolipop. Asap membubung dan melodi letupan-letupan kecil tertangkap oleh indra pendengaranku. Termometer menunjukkan angka 295 derajat Celsius, mataku membeliak lagi.

   

Seusai gelembung-gelembung itu lenyap, aku memisahkannya beberapa bagian untuk berbagai warna dan rasa. Tentu kugunakan pewarna alami. Sedangkan perisanya, berasal dari sirop ekstrak buah-buahan. Sama sekali tak pernah kusentuh pemanis buatan sebagaimana yang dikatakan oleh seorang lelaki cerewet.

    “Kau tahu, sakarin, sorbitol, aspartam dan siklamat dapat membahayakan kesehatan. Jika dimakan anak-anak bisa berpotensi obesitas, diabetes, sakit kepala dan gangguan lainnya,” urai Encik Arkanu yang bertandang pagi-pagi buta.

          Sejujurnya, perasaan tak nyaman menggerayangiku saat ia berada di gerai Yum, Yummy, Candy and Chocolate. Akan tetapi, aku tak pernah menghalaunya atau sekadar mengabaikannya. Aku merespons tiap perbincangannya dengan santun.

    “Tapi Encik, saya melumurkan sirop kental dengan rasa alami. Kemudian saya menambahkan sedikit gula. Jika tak yakin, Encik boleh coba setangkai. Seandainya saya menggunakan pemanis buatan, pasti akan terasa pahit.”

    Ia bergeming agak lama. Lantas memperhatikanku yang mengulurkan setangkai lolipop kepada seorang bocah yang menangis akibat diomeli ibunya di depan gerai. Bocah itu mengutarakan rasa terima kasih seraya berlalu dengan senyum lebar. Ia memamerkan sederet gigi kecokelatan yang sebagiannya ompong.

    “Oh, maaf! Aku tidak mau gigiku yang cemerlang jadi seperti bocah itu.”

    “Dan, Cik Norlina akan membatalkan acara pernikahannya….” Paras manisnya serta-merta bertukar menjadi masam. Buru-buru aku menyadari hal itu dan memohon maaf atas kelancanganku. Sehingga akhirnya bibir tipis itu menggurat senyum.

    Di saat teman serumah (sekaligus senegara) mendengkur dan mendengus yang ke-1000 kalinya, aku tersenyum lega. Dua belas lusin lolipop dan 10 lusin cokelat bertangkai berhasil kuselesaikan. Pagi esok, akan kutambatkan pita cantik beraneka warna pada lolipop yang berbentuk lingkaran, hati, karakter kartun, dan panjang. Begitu pula pada permen cokelat dengan ragam bentuk yang lucu.

    SEUSAI membuka kios, ia melangkah pelan. Hatiku tak perlu menerka-nerka ke mana langkahnya terpaku. Jika kebetulan tak mengajar (di sebuah universitas sekitar sini), ia akan menyambangiku, melempar selusin pertanyaan yang terkadang membuatku jenuh. Selama hidup di sini, baru kali ini aku berjumpa dengan lelaki yang teramat bawel.

    “Halo Najwa! Berapa lolipop yang akan kau bagikan hari ini?” tanyanya dengan nada sarkastis.

    “Seperti biasa, maksimal dua tangkai. Jika berkenan, saya menghadiahkan setangkai untuk Encik.” Tanganku sigap menyusun dua lusin lolipop dan cokelat bertangkai di atas rak berlubang-lubang dan dapat berputar.

    “Wow, tawaran yang kemarin masih berlaku rupanya!”

    “Tentu, silakan dipilih! Semua baru saya buat semalam.” Ia bungkam beberapa saat, lantas menatap kedua bola mataku. Detik selanjutnya, ia tersenyum dan berlalu begitu saja.

   

Pada tengah hari, kios makanan dan minuman di sepanjang plaza (pada bagian lantai dasar Masjid Tuanku Mirzan Zainal Abidin) dijejali oleh pembeli. Sebagian besarnya adalah wisatawan domestik dan mancanegara, selebihnya pegawai kantor pemerintah negara yang berpusat di Putrajaya, Malaysia. Makin ramai pengunjung yang singgah ke masjid berkubah merah jambu, makin banyak rezeki yang dikais oleh pedagang seperti Encik Arkanu.

    Ia pernah berujar bahwa keputusannya berdagang lantaran gajinya sebagai pekerja paruh waktu sekadar cukup. Ditambah lagi ia harus menopang kehidupan ibunya yang janda, kedua adiknya yang bersekolah dan mahar serta seserahan besar untuk pujaan hatinya. Sebab itulah, aku sangat mengaguminya. Ia pekerja keras dan sangat menghargai orang-orang yang dicintainya.

    Seorang bocah lelaki memukul-mukul lengan ayahnya. Ia memekik histeris. Sang ayah kelabakan menenangkan anaknya. Selekas kilat kuraih setangkai lolipop berbentuk Mickey Mouse dan mengulurkan kepadanya.

    “Adik manis, warna putih akan membuat perasaanmu damai, warna jingga melambangkan persahabatan dan warna kuning menjadikan hidupmu indah dengan kegembiraan dan persahabatan. Ambillah, jangan menangis lagi!” Bocah menggemaskan itu mengangguk-angguk. Entah karena paham atau sebaliknya. Aku menyeka air matanya dan mengelus-elus kepalanya.

    “Ups, tapi ingat… jangan lupa menyikat gigi!” Sang bocah melontar seulas senyum.

    Aku menduga lolipop berbentuk lucu itu akan melenyapkan rasa sakit hatinya. Lantas ia merasakan keindahan hidup. Seterusnya, ia akan menjadi anak yang manis dan penurut.

    Sebelum meninggalkan gerai, ayahnya bertanya berapa harga yang harus dibayar. “Tidak mengapa, Tuan. Saya berikan cuma-cuma.” Ia tersenyum, mengucapkan terima kasih dan memunggungiku.

    Dari jarak 20 meter, Encik Arkanu melayangkan senyuman. Aku membalasnya dan segera masuk ke dalam. Tak lama lagi, sewaktu kiosnya sepi pembeli, ia pasti akan bertandang ke sini. Bercakap-cakap perihal remeh-temeh. Sesekali menyindirku.

    Sejak sebulan yang lalu, berulang kali aku memergokinya sedang memperhatikanku. Dan sejak saat itu, ia senantiasa mengomentari kemurahan hatiku yang menghadiahkan setangkai lolipop kepada anak-anak yang menurutku pantas mendapatkannya.

    “Engkau terlampau baik, Najwa! Tak pernahkah kau terlintas beberapa di antara mereka hanya pura-pura menangis?” protesnya suatu petang.

    “Saya hendak menyenangkan mereka dan amat bahagia saat melihat mereka tersenyum dan tertawa. Salahkah saya?” kataku ketus.

    “Najwa, Najwa… kau terlalu memikirkan perasaan orang lain. Semestinya kau fokus mengumpulkan ringgit. Lalu kau mengirimkannya ke kampung halaman. Biaya hidup di sini pun tidak murah.”    

    Parasku bagai disimbah air panas. Ia sudah membakar emosiku. Jika tidak karena seorang ibu yang singgah untuk mengambil pesanan sepuluh lusin lolipop, aku sudah meradang padanya.

    Demikian begitu, tak dipungkirinya, lantaran sifat kepedulianku, lolipop menyibak gerbang rezeki. Bukan sekali dua kali istri pejabat kantor Putrajaya memesannya dengan partai besar. Lolipop menyemarakkan pesta ulang tahun anak-anak mereka. Dari setangkai lolipop, aku membuat berpuluh lusin tangkai lainnya.

    “Ehm… apa kau sudah mengingatkan bocah tadi menyikat gigi?”

          Seharusnya aku tak perlu terperanjat mendengarnya berujar lantaran eksistensinya macam jelangkung. Tiba-tiba saja muncul. Namun, entah kenapa kali ini aku dikerubungi perasaan gugup.

    “Su… sudah,” sahutku, sembari mengangguk.

    “Kau sudah makan?” Aku menggeleng.

    “Jom (ayo) kita makan! Aku yang belanja….”

          Sebagai perantau, tentu itu suatu tawaran yang menggoda.

    “Tapi aku belum salat Zuhur.”

    “Oo, begitu. Baiklah, kau pergi salat, aku menunggu di sini. Kemudian kita makan.”

           Tak perlu dia berkata dua kali, aku terus melenggang dan mengabaikan eskalator membawaku ke atas.

    Masjid berkubah merah jambu tak pernah sepi pengunjung. Bahkan pada malam hari pun masih dikunjungi wisatawan. Seperti kata Meysha, suasana akan berubah dramatis dan romantis jika menyaksikannya seketika sang surya terbenam. Ditambah lagi dengan pencahayaan di sepanjang jalan, di Jembatan Putra dan di tiap gedung dengan desain futuristis dan unik. Maka, tak salah ramai wisatawan mengagumi masjid yang tampak bagai terapung di atas danau buatan seluas 650 hektare.

    Setiba di gerai, Encik Arkanu memintaku mengambil makanan dan minuman yang aku inginkan di kiosnya. Ia memilih meja tak jauh dari geraiku supaya aku dapat memonitor pelanggan yang keluar-masuk. Selama waktu makan berlangsung, kami berbincang-bincang topik sederhana dan ringan. Ia menghindari percakapan seputar setangkai lolipop yang acap kali membuat wajahku berganti kusut. Dan, untuk pertama kalinya, aku begitu terkesima mendengarnya berceloteh.

    GENAP dua pekan aku tak melihatnya atau bahkan tak mendengar cerocosnya perihal setangkai lolipop. Hatiku diselimuti kecemasan, kekhawatiran dan sebuah perasaan bernama rindu. Sering kali kita merindukan seseorang yang semula kita anggap makhluk cerewet dan menjengkelkan. Padahal, bisa jadi itu pertanda bahwa ia amat perhatian. Aku sungkan bertanya pada karyawannya. Yang kulakukan menungguinya dan menyambangiku di sini. Betapa aku rindu kecerewetannya.

    Masih tertekankah ia dengan perasaannya yang dilukai oleh Norlina? Semestinya perempuan itu bersyukur banyak karena dicintai lelaki seperti Encik Arkanu. Seorang lelaki baik, perhatian, penyayang, meski nyinyir. Betapa kejam Norlina yang menduakannya dengan seorang lelaki dewasa nan kaya. Dari semula menyimak riwayat anak seorang datuk negeri Selangor itu, hatiku menaruh prasangka terhadap ketulusan cintanya.

    Sewaktu melihatnya (dari koridor plaza yang dibatasi dinding kaca) di tepi danau, aku mendekatinya. Tak ada yang bisa kulakukan untuk mengobati kesedihannya selain mengulurkan selembar tisu dan setangkai lolipop berwarna putih, biru, kuning, dan hijau. Dengan begitu, semoga lukanya pulih dan empat warna lolipop mengembalikan semangat hidupnya.

    “Aku hendak membeli ini, Nona!” desisnya membuatku terperanjat. Ia berdiri di hadapanku dengan bibir mengembang.

    “Buat Encik gratis!”

           Ia menggeleng dan terus menyodorkan uang sejumlah lima ringgit. Setelah didesaknya, aku menerima dan menyerahkan kembaliannya. Ia menepis dan menyodorkan untukku.

    “Agaknya, perasaan Encik sudah lebih baik dan mulai menggemari lolipop. Tidak takutkah gigi Encik bolong dan ompong?”

           Ia tergelak hingga tubuhnya terguncang-guncang. Tampaknya ia berubah menjadi humoris.

    “Ini untukmu.”

           Aku terkesima menatap lolipop berbentuk hati dengan warna merah jambu berkombinasi putih.

            “Ambillah!” Ia mengulurkannya untukku.

            Betapa aku tak percaya dengan sikap manisnya kali ini. Dengan rona merah menyebar dari kedua pipi, aku menerimanya.

    Bagaimanapun, aku tak berani dan amat tidak pantas menafsirkan filosofi warna dan bentuk lolipop itu. Biar waktu yang akan menunjukkannya.(f)

***

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Hari Raya Hantu

Cerita Pendek: Sepotong Harapan Dini Hari

Cerita Pendek: Aslan dan Aquila

Cerita Pendek: Peria

Comment 0