Awan hitam mengumpul di udara, sepertinya sebentar lagi akan hujan lebat. Aku melihat suasana di luar dari balik jendela ruanganku, sembari menyeduh kopi buatan OB. Dan benar, tak berapa lama kemudian, hujan turun ditemani dengan petir yang menyambar-nyambar. Udara terasa dingin, aku pun mematikan AC ruangan. Dan kembali aku menikmati suasana di luar, melihat mobil-mobil yang berjalan merayap atau orang-orang yang berlari mencari tempat berlindung dari guyuran air hujan.

    Aku melirik arloji yang melingkar di pergelangan tanganku. Ternyata sudah sore. Jam sudah menunjukkan pukul lima waktu setempat. Sudah waktunya pulang kantor. Pantas saja di luar terasa sepi, tak terdengar suara karyawan yang lalu lalang.

    Aku masih menikmati kopiku sembari melihat hujan yang turun dengan lebatnya. Tiba-tiba terdengar ponselku berdering. Ada pesan masuk dari Vina, salah satu partner bisnisku.

    Renna, kau benar-benar hebat. Selamat, ya, kau memenangkan tender lagi.

    Aku hanya tersenyum membaca pesan tersebut. Yaiyalah, aku hebat. I’m the best entrepreneur of the year. Batinku bangga.

    Bagiku, sudah hal yang terlalu biasa jika aku memenangkan tender seperti ini. Ya, jujur saja aku bangga dengan diriku sendiri. Bukan hanya karena aku sudah berhasil membangun perusahaan furniture, tapi juga bangga karena aku sudah berhasil menyekolahkan Arief dan Andien, kedua adikku.

Arief, satu-satunya anak lelaki di keluargaku, sudah berhasil menjadi dokter dan Andien adikku yang paling kecil juga sudah berhasil menjadi desainer, bahkan aku juga memberinya modal untuk Andien mendirikan butik sendiri.

   

Ah, pikiranku justru tiba-tiba teringat akan Iqbal, kekasihku yang terakhir. Hmm, aku lupa sudah berapa tahun aku putus darinya, sudah berapa tahun aku tak merasakan indahnya pacaran lantaran terlalu fokus pada karier. Ah, aku tak terlalu fokus pada dunia percintaan yang akhirnya hanya menyisakan lara, aku hanya memikirkan masa depan.

Jujur saja, aku bosan menjadi seorang karyawan. Apalagi background almarhum Papa yang seorang akuntan di sebuah perusahaan swasta, gajinya pas-pasan untuk menghidupi Mama dan aku serta adik-adikku. Setelah Papa meninggal, Mama dan aku harus bekerja karena Papa sama sekali tak meninggalkan warisan.

    Masa-masa itu, masa di mana aku harus sekolah sembari berjualan gorengan dan Mama harus membuka warung gado-gado di rumah. Ya, semua terasa jelas dalam ingatanku. Bagai film yang diputar di bioskop, nyata dan teramat jelas.

    Tapi, semua telah berlalu. Mama dan Papa bisa tenang di sana karena menyaksikan anak-anaknya telah berhasil menjadi manusia-manusia sukses yang bisa diperhitungkan. Ya, walaupun aku harus selalu mengorbankan cintaku, aku tetap bangga menjadi diriku sendiri.

    Seandainya dulu aku menerima lamaran Radit yang menginginkan aku menjadi ibu rumah tangga, pasti aku tak akan sesukses ini. Atau menerima lamaran Farhat yang mengajakku tinggal di luar negeri. Atau kekasihku yang terakhir, Iqbal, yang tetap mengizinkan aku bekerja tapi sayangnya aku harus tinggal bersamanya dan kedua orang tuanya. Lantas, bagaimana nasib Arief dan Andien seandainya waktu itu aku menerima salah satu lamaran mereka?

    Kembali, aku mengingat Iqbal. Apa kabarnya lelaki yang berbadan kokoh itu? Entahlah, mengapa tiba-tiba aku merasa merindukannya.

    Biipp, biipp….

    Terdengar ada panggilan masuk ke ponselku. Aku segera mengangkatnya sebelum aku membaca siapa yang meneleponku, Fatma, temanku kuliah sewaktu aku mendapatkan beasiswa S-2 di Oxford University.

    “Hallo, ada apa Fatma?”

    “Oh, ya, kapan? Selamat, ya? Secepatnya aku akan ke tempatmu,” ucapku ke seberang.

    Aku menutup telepon ketika tak lagi kudengar suara Fatma di seberang sana. Aku menghirup napas berat. Ah, Fatma, wanita yang usianya 3 tahun lebih muda dariku itu kini sudah mempunyai dua anak. Sementara aku? Di usiaku yang sudah menginjak 37 tahun, jangankan anak ataupun suami, kekasih pun tiada.

***

    Aku sengaja duduk di ruang tengah sembari membaca majalah terbitan minggu ini. Membaca berita yang tengah beredar. Mbok Nah datang menghampiriku sembari membawakanku jus apel kesukaanku. Tapi, tak seperti biasanya, Mbok Nah agak lama berdiri di dekatku.

    “Ada apa, Mbok?” tanyaku penasaran.

    “Hmm, anu, Non,” jawab Mbok Nah, agak ragu.

    Aku meletakkan tabloidku. “Mbok, ada apa?” tanyaku dengan nada yang begitu lembut.

    “Simbok mau izin, Non,” ucap Mbok Nah lancar.

    Dahiku berkerut. “Izin?” tanyaku agak kaget, sekaligus penasaran.

    “Iya, Non. Anak Simbok di kampung melahirkan, Simbok harus pulang.”

    Aku tersenyum dan mengangguk. “Ya, besok Simbok boleh pulang. Biar besok diantar Mang Diman ke terminal,” ucapku maklum.

    “Terima kasih, Non. Terima kasih.”

    Aku tersenyum melihat Mbok Nah yang tampak kegirangan.

    Ah, kenapa tiba-tiba aku memikirkan anak? Tiba-tiba aku merasakan kerinduan akan kehadiran anak-anak. Mungkin rumahku yang besar ini akan tampak ramai jika ada anak-anak yang merengek manja dan minta mainan kepadaku. Mungkin hati ini akan terasa nyaman seandainya ada yang memanggilku ‘Mama’. Ah, Fatma saja sudah punya dua anak, sementara Mbok Nah juga sudah mempunyai cucu. Tapi aku….

    Aku merasakan sesuatu yang aneh tengah menjalari perasaanku. Iqbal, anak, semua seakan mengetuk pintu hatiku. Aku menyadari, aku sudah terlalu lama sendiri.

***

  

Semenjak kepulangan Mbok Nah, rumah terasa makin senyap. Hanya ada aku seorang diri dan satpam yang berjaga di luar. Aku benar-benar merasakan kesepian, waktu pun seolah berjalan lamban.

    Aku menatap dapur yang sudah lama tak kusentuh. Aku mendekat. Dalam bayanganku, aku melihat diriku tengah memakai celemek, ada dua anak kecil yang tengah berlari kejar-kejaran dan juga ada Iqbal yang menemani kedua bocah itu. Aku tersenyum menyaksikannya. Tapi kemudian….

    Aku sadar, itu hanyalah angan belaka saja.

    Aku tak mau terlalu jauh dalam lamunan konyol ini. Banyak pekerjaan yang malam ini harus kuselesaikan. Aku harus memenangkan tender ini lagi. Aku pun segera mengambil air putih dan membawanya ke ruang kerjaku. Tapi, ah, pikiran macam apa ini? Kenapa bayang-bayang Iqbal dan kedua bocah itu kembali menari-nari dalam anganku?

    Aku mengambil ponsel. Mencari daftar kontak dan aku menemukan nama Iqbal. Aku ragu, apakah nomor telepon Iqbal masih sama dengan yang dulu? Kami sudah lama berpisah, hmm mungkin sudah sepuluh tahun. Tanpa pikir panjang aku pun menelpon Iqbal.

    “Halo? Siapa ini?” kudengar suara Iqal di seberang sana. Masih sama seperti Iqbal yang dulu.

    Aku hanya terdiam. Tiba-tiba air mataku jatuh menetes. Aku ini wanita terbaik, kenapa aku menangis? Aku pasti bisa mendapatkan Iqbal kembali. Batinku menyeruak.

***

   

Akhir pekan ini biasanya aku menghabiskan waktuku bersantai di rumah. Tapi tidak untuk kali ini. Aku sengaja mendatangi kedai es krim yang 10 tahun lalu menjadi kedai langgananku dengan Iqbal. Tak banyak yang berubah dari kedai ini, warna catnya yang hijau masih tetap sama seperti dulu, mungkin hanya diperbarui saja. Kursi-kursi tuanya juga masih sama dengan yang 10 tahun lalu aku lihat. Ya, kedai es krim ini masih sama seperti yang dulu. Hanya waktu yang telah berbeda.

    Aku menikmati es krim cokelat kesukaanku, hmm kesukaan Iqbal juga. Ya, kami sama-sama menyukai cokelat. Bagi kami, cokelat itu manis dan membuat kami kehilangan kesedihan. Konyol.

    Aku tersenyum getir mengingat semua itu.

    Mataku pun berkeliling melihat orang-orang yang datang silih berganti. Dua bocah yang sepertinya kakak beradik saling berkejaran berebut es krim.

    “Eh, Kakak, itu punya Adik. Jangan diminta, Kakak kan udah punya sendiri,” suara seorang wanita muda, yang sepertinya mama dari kedua bocah tersebut.

    Tapi, sang kakak sepertinya belum puas jika belum menggoda adiknya. Sang mama dibuat kewalahan oleh kedua bocah tersebut. Ya, aku bisa membayangkan bagaimana rumitnya menjaga dua bocah seorang diri. Sulit itu pasti, dan yang jelas harus jauh-jauh dari emosi.

    Semua angan itu hilang seketika saat aku melihat sosok laki-laki yang tak asing bagiku memasuki kedai. Aku ingat betul dengan perawakannya dan cara berjalannya. Lelaki itu pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupku selama 3 tahun.

    “Iqbal,” ucapku pelan.

    Aku sedikit kaget. Aku merasa bahagia bisa bertemu dengannya di tempat favorit kami semasa pacaran. Ya, aku yakin Iqbal tak pernah melupakan tempat ini, sama seperti Iqbal yang pastinya tak pernah melupakanku. Hmm, atau bahkan Iqbal masih sama sepertiku? Melajang dan dia menantiku? Karena aku tahu, tak ada wanita yang seperti aku. Aku tahu itu, karena aku merasakan betapa besarnya cinta Iqbal kepadaku.

    Aku berdiri dan merapikan bajuku. Kakiku berusaha melangkah untuk mendekat ke arah Iqbal. Tapi, langkahku seketika terhenti ketika…

    “Papa…!” salah seorang bocah yang kulihat tadi berlari ke arah Iqbal. Aku pun lemas. (f)

***

Baca Cerita Pendek Menarik Lainnya

Cerita Pendek: Lolipop

Cerita Pendek: Hari Raya Hantu

Cerita Pendek: Sepotong Harapan Dini Hari

Cerita Pendek: Aslan dan Aquila

Comment 0