Presiden Direktur PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) Naoya Nakamura memperkenalkan mobil Mitsubishi Eclipse Cross di Jakarta, Selasa 9 Juli 2019. Mitsubishi Eclipse Cross yang dibuat dengan desain yang lebih dinamis dan progresif, yang dilengkapi dengan fitur canggih berhasil mendapat penghargaan sebagai mobil tebaik 2019 di Jepang. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Mitsubishi memiliki rencana perubahan beberapa produk tetapi masih dalam studi karena situasi pasar yang tidak pasti akibat pandemi corona.

TEMPO.CO, Jakarta - Mitsubishi Motors Corporation mengumumkan rencana rencana restrukturisasi baru pada 27 Juli 2020. Satu rencana besar di antaranya adalah fokus mengembangkan bisnis di ASEAN, termasuk Indonesia.

Indonesia merupakan salah satu pasar terpenting Mitsubishi dan menjadi basis produksi untuk kawasan ASEAN. Sejak 2017, produsen mobil Jepang ini melahirkan Mitsubishi Xpander yang menjadi produksi global dan telah diekspor ke sejumlah negara seperti ASEAN, Afrika, Timur Tengah, hingga Amerika Selatan. Presiden Direktur PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), Naoya Nakamura, mengatakan bahwa MMC memiliki sejumlah rencana bisnis yang menarik untuk wilayah ASEAN, termasuk Indonesia. “Kami memiliki rencana untuk perubahan beberapa produk tetapi realisasinya masih dalam studi karena situasi pasar yang tidak pasti akibat pandemi corona dan saat ini kami juga terus melakukan persiapan-persiapan untuk menghadapi perubahan kondisi pasar di kemudian hari,” kata Nakamura kepada Tempo, Sabtu, 1 Agustus 2020.
Terkait rencana restrukturisasi yang diumumkan MMC, Nakamura menyampaikan bahwa Mitsubishi Indonesia saat ini masih menunggu arahan lebih lanjut dari MMC terkait rencana restrukturisasi di Asia Tenggara. “Kami akan sesuaikan arahan tersebut dengan bisnis di Indonesia. Kami akan terus update perkembangannya,” ujar dia. Terkait dengan penurunan permintaan kendaraan Mitsubsihi dan penutupan pabrik yang dipicu oleh pandemi virus corona, MMC memperkirakan kerugian operasional pada tahun fiskal 2020-2021 (hingga 31 Maret 2021) sebesar 140 miliar yen (setara Rp 19,2 triliun. Angka ini disebut sebagai rekor kerugian terbesar dalam 18 tahun terakhir. MMC memutuskan untuk menerapkan sejumlah langkah seperti mengurangi biaya operasi sebesar 20 persen atau lebih dibanding dengan tahun fiskal 2019, dan memusatkan investasi pada wilayah inti. Nakamura mengatakan bahwa perusahaan akan mengikuti langkah mid-term business plandari MMC yakni akan memusatkan sumber daya manajemen di wilayah ASEAN dan meningkatkan pangsa pasarnya menjadi lebih dari 11 persen. “Rencana tersebut tentunya akan mempengaruhi rencana investasi maupun pengembangan produk di ASEAN di mana Indonesia termasuk didalamnya,” ujar dia.

Langkah lain yang juga tak kalah penting disampaikan MMC adalah efisiensi. Satu di antaranya adalah evaluasi terhadap dealer yang tidak produktif. Mengenai hal ini, Nakamura menyatakan bahwa sebelum adanya restrukturisasi dan bahkan sebelum pandemi, MMKSI selalu melakukan evaluasi untuk dealer-dealer di Indonesia. Hal tersebut dilakukan untuk tetap menjaga performa dan kualitas dealer. Menurut dia, proses seleksi dalam pemangkasannya pun memerlukan tahapan dan evaluasi yang mendalam, perusahaan harus meninjau performance dealer baik dari sisi fasilitas dan operasional dealer, penjualan, purna jual, serta kepuasan pelanggan. “Pada dasarnya, kami berusaha semaksimal mungkin untuk terus memberikan saran dan dukungan kepada dealer Mitsubishi sehingga dealer dapat terus memperbaiki performanya,” katanya.

Comment 0