Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menyampaikan keterangannya seusai membuka acara BCA Expo Jakarta 2019 yang digelar di International Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Banten, pada Sabtu, 26 Oktober 2019. TEMPO/Francisca Christy Rosana
Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja angkat bicara soal jajaran direksinya yang melepas saham perseroan yang dimilikinya pada awal Juli 2020 lalu.

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama PT Bank Central Asial Tbk. atau BCA Jahja Setiaatmadja angkat bicara soal jajaran direksinya yang melepas saham perseroan yang dimilikinya pada awal Juli 2020 lalu. Menurut Jahja, hal tersebut wajar dilakukan.

"Wajar saja. Ada istilah dalam investasi, kalau orang jangan taruh telur dalam 1 basket. Punya 10 telur jangan ditaruh di 1 basket. kalau goyang, pecah, semua hancur. Kita harus pilah-pilah," ujar Jahja dalam BCA Virtual Editor Meeting, Senin, 13 Juli 2020.

Begitu juga yang terjadi pada saham BCA. "Jadi kalau punya saham BCA, ya ada saatnya kita nikmati. Kalau kita sudah kerja setengah mati, kapan kita mau nikmati?" tutur Jahja.

Jahja lantas mencontohkan bila ada direksi yang memiliki 8 juta lembar saham, bisa jadi tertarik untuk menginvestasikannya dalam bentuk lain. "Punya 8 juta lembar saham, sudah happy, kan enggak juga," katanya.

"Ada saatnya kita investasi di tempat lain. Apalagi SBN menarik," ucap Jahja. "Bukan tidak mungkin saya akan beli lagi SBN. Kemarin ada SBN baru, saya juga beli lagi sekitar 1 miliar," ucap Jahja.

Lebih jauh, Jahja menggarisbawahi aksi jual saham oleh para direksi semata-mata sebagai bentuh pemilahan investasi. "Pemerintah butuh dana, ya kita bantu. Kecil-kecil, tapi kita bantu. Seperti itu," ucapnya.

Ia juga menekankan hal tersebut wajar dilakukan. "Wajar saja mau masuk reksa dana, saham, properti, mau-mau kita invest di mana. Gak ada apa-apa. Kita tau ada target security company saham BCA di harga tertentu, ga nyesel," kata Jahja.

Sebelumnya lewat keterbukaan informasi di situs Bursa Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dilansir pada Ahad pekan lalu, 12 Juli 2020, Corporate Secretary BCA Raymon Yonarto menyampaikan laporan kepemilikan saham sejumlah direksi pada awal Juli 2020. Sejumlah direksi dilaporkan melepas harga saham perseroan di kisaran harga Rp 31.000 per lembar pada 9 Juli 2020 - 10 Juli 2020.

Ramon menyebutkan, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menjual sebanyak 25.000 lembar dengan harga penjualan Rp 31.125 per saham. Transaksi itu dilakukan pada 10 Juli 2020 dengan status kepemilikan saham langsung.

Jahja juga melepas 25.000 saham lagi pada 10 Juli 2020 namun dengan harga yang berbeda yakni Rp 31.100 per lembar. Sehari sebelumnya atau 9 Juli 2020, dia juga telah melepas 50.000 lembar saham emiten bersandi BBCA tersebut. Harga penjualan senilai Rp 31.050 per lembar dengan status kepemilikan langsung.

Langkah serupa juga dilakukan oleh Direktur BCA Erwan Yuris Ang. Ia melepas 50.000 lembar dengan harga Rp 31.150 per saham pada 10 Juli 2020.

Direktur BCA Rudy Susanto juga melepas 54.500 lembar dengan harga Rp 31.025 per saham pada 9 Juli 2020. Selanjutnya, penjualan juga dilakukan periode yang sama untuk 145.500 lembar di level harga Rp 31.000.

Adapun penjualan 100.000 saham BBCA juga dilakukan oleh Direktur BCA Lianawaty Suwono pada 9 Juli 2020. Sebanyak 50.000 lembar di lepas dengan harga Rp 31.050 dan 50.000 lembar dengan harga Rp 31.025.

Berdasarkan data Bloomberg, harga saham Bank Central Asia (BCA) parkir di zona hijau dengan menguat 1,64 persen ke level Rp 31.000 pada Jumat pekan lalu, 10 Juli 2020. Investor asing memborong perbankan milik Grup Djarum itu dengan nilainet buy Rp129,10 miliar di pasar tunai, reguler, dan negosiasi.

Dalam sepekan terakhir, emiten berkode saham BBCA itu tengah bergerak dalam tren positif. Tercatat, laju harga naik 5,62 persen dengan rentang pergerakan support Rp29.250 dan resistance Rp31.325. Harga saham BBCA pada penutupan pekan lalu sudah mulai mendekati harga saham pada awal tahun di level 33.450

Berdasarkan konsensus Bloomberg, 24 dari 34 analis yang mengulas saham BBCA masih merekomendasikan beli saham perseroan. Sisanya, delapan merekomendasikan hold dan dua merekomendasi jual. Sementara target harga konsensus Bloomberg untuk harga saham BBCA dalam 12 bulan berada di level Rp 30.239 per lembar saham.

Langkah jual saham besar-besaran sebelumnya juga dilakukan oleh Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk.Silmy Karim. Ia bahkan melepas seluruh kepemilikan sahamnya di perusahaan yang dipimpinnya. Hal itu dilakukan sebagai bentuk keperluan pribadi.

"Kebetulan di saat Covid ini kan yang paling likuid (mudah dijual) adalah dengan menjualsaham bila dibandingkan dengan menjual aset yang lain," kata Silmy saat dihubungi, Ahad, 21 Juni 2020.

Namun demikian, Silmy memastikan bahwa fundamental di internal Krakatau Steel semakin membaik. "Jadi value perusahaan KS ke depan menurut saya akan semakin baik," ujarnya.

Dia juga mengatakan keputusannya melepas seluruh kepemilikan sahamnya itu tidak berimplikasi langsung pada persepsi investor. Karena yang terpenting, menurut dia, investor melihat fundamental perusahaan. "Manajemen Krakatau Steel sudah berhasil membuat Krakatau Steel jauh lebih efisien dalam 18 bulan terakhir. Ini yang menurut saya menjadi tolak ukur persepsi investor," kata dia.

Dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia pada Ahad, 21 Juni 2020, Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim menyampaikan dirinya menjual saham berkode KRAS sebanyak 5.400.300 saham atau setara dengan 0,028 persen. "Jumlah saham yang dimiliki setelah transaksi menjadi hanya 0," kata Silmy, seperti dikutip dari surat tertanggal 19 Juni 2020 itu.

Harga penjualan per lembar saham KRAS itu berbeda-beda, yakni Rp 278, Rp 280, Rp 282, dan Rp 284. Tanggal transaksi dilakukan pada 11 Juni 2020. Status kepemilikan saham adalah langsung.

Dalam surat bernomor 277/DU-LS/2020 berlogo Krakatau Steel di bagian atas yang ditujukan kepada Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan atauOJK, disampaikan tujuan transaksi adalah keperluan pribadi.

RR ARIYANI | BISNIS

Comment 0