The Last of Us Part 2
Ellie dari seri The Last of Us Part 2. (Doc: Techspot)

Liputan6.com, Jakarta - Tidak berlebihan jika menyebut The Last of Us sebagai salah satu judul gim terbaik sepanjang masa. Bahkan, gim yang dirilis kurang lebih tujuh tahun ini disebut sebagai salah satu ‘perjalanan spiritual’ yang wajib dilakukan pemain.

Perjalanan spiritual di sini dimaksudkan sebagai pengalaman bermain yang sempurna: menyentuh perasaan, merengkuh memori, serta memercikkan kekaguman dengan perkembangan teknologi grafis di penghujung era konsol PlayStation 3 (PS3) kala itu. Semua kesan-kesan tersebut, tak akan pernah lekang oleh waktu.

The Last of Us mengambil formula yang pas dalam menghadirkan perjalanan spiritual tersebut. Bagaimana tidak, kita disuguhkan permainan berdurasi hampir 15 jam dengan kemasan cerita post-apocalyptic layaknya film Hollywood.

Tak sampai di situ, ikatan hubungan antar dua karakter protagonis, Joel dan Ellie, juga menjadi alasan telak gim ini begitu dicintai banyak orang.

Ending dari The Last of Us juga bisa dikatakan sebagai salah satu kisah akhir terbaik di sejarah industri gim. Banyak yang mengupas diskusi terkait apakah ending tersebut bermakna ganda, membuka peluang kedua karakter utama menyambung cerita pertama.

Nyatanya, Naughty Dog, sang pengembang The Last of Us, tak sekadar menghisap jempol belaka. Tepat pada 19 Juni 2020, The Last of Us Part 2 resmi melenggang.

The Last of Us Part 2 meluncur di tengah ricuhnya persepsi pemain yang terbagi dalam dua kubu: pecinta franchise The Last of Us garis keras, dan pembenci yang kadung melihat banyak bocoran berkeliaran di media sosial.

Meski demikian, nyatanya gim ini tetap mencetak performa yang gemilang. Tercatat, dua minggu setelah rilis, gim tersebut laris terjual lebih dari 4 juta kopi.

Terlepas dari banyaknya ujaran benci yang dilempar ke The Last of Us Part 2, setidaknya ada beberapa hal menarik secara sisi gameplay yang menjadikannya lebih seru dari seri pertama.

Bagi kamu yang sudah bermain, pasti paham betul apa saja yang akan dijabarkan. Berikut Liputan6.com ulas 5 alasan mengapa gameplay The Last of Us Part 2 lebih baik dari The Last of Us.

Peringatan: artikel ini mengandung spoiler halus, sehingga sangat dianjurkan bagi kamu yang belum atau tengah bermain The Last of Us Part 2 untuk mempertimbangkan lanjut membaca bagian berikut.

Skill Tree yang Bervariasi

Skill menjadi salah satu instrumen penting bagi para pemain untuk mengasah kemampuan karakter di The Last of Us. Pada seri kedua kali ini, baik Ellie maupun Abby, keduanya memiliki skill tree masing-masing dengan kemampuan khusus.

Ada beberapa hal yang membedakan upgrade skill karakter pada The Last of Us pertama dan The Last of Us Part 2.

Seri pertama hanya memiliki enam skill upgrade: Maximum Health, Listen Mode Distance, Crafting Speed, Healing Speed, dan Weapon Sway, dengan beberapa upgrade bar untuk masing-masing skill.

Adapun pada seri kedua, upgrade skill dikemas lebih menarik, dan terbagi dalam beberapa bagian lewat konsep “skill tree”. Ellie akan mendapatkan skill branch Crafting, Stealth, Precision, Explosive, sedangkan Abby mendapatkan skill branch Covert Ops, Close Quarters, Firearms, dan Ordinance.

Untuk meng-unlock skill tree baru, pemain harus mendapatkan training manual yang tersebar di berbagai lokasi di sepanjang permainan.

 

Lokasi yang Lebih Masif

The Last of Us Part 2 memiliki durasi permainan hingga 25 jam. Sudah jelas dengan panjangnya durasi tersebut, lokasi yang ada di gim ini akan lebih besar ketimbang lokasi di seri pertama.

Ya, gim akan mengambil lokasi yang kebanyakan bertempat di Seattle, Washington, Amerika Serikat, dan timeline permainan akan terbagi dalam tiga hari serta dua babak dari perspektif Ellie dan Abby.

Seattle Day 1 menjadi salah satu lokasi yang terbilang memakan porsi sangat besar. Meski bukan mengambil konsep open world, bisa dirasa gim ini memiliki nuansa semi open world.

Saat Ellie dan Dina pertama kali berkuda memasuki downtown Seattle, pemain bisa dengan leluasa mengontrol mereka untuk berkeliling kompleks gedung-gedung pencakar langit, memasuki satu demi satu lokasi sekadar untuk mengambil supplies atau key item agar dapat lanjut ke lokasi berikutnya.

Konsep ini sebetulnya sudah pernah diimplementasikan di Uncharted Lost Legacy, di mana Chloe dan Nadine berpetualang di daratan India menyambangi satu reruntuhan ke reruntuhan lain.

Mekanisme Puzzle yang Lebih Tricky

Kangen dengan bagaimana Joel mengangkut Ellie di atas papan dan membawanya dari satu sisi ke sisi seberang, atau bagaimana kamu bisa menghabiskan waktu setengah jam membawa sebuah tangga untuk mencari jalan keluar? Jika ya, The Last of Us Part 2 menawarkan puzzle dengan mekanisme lokasi yang lebih tricky ketimbang seri pertama.

Kebanyakan, puzzle di seri kedua akan fokus pada mekanisme membawa plang/tangga, serta mendorong troli. Namun ada beberapa jenis puzzle baru yang cukup membingungkan pemain, seperti mekanisme lempar tali serta locked doors. Untuk melakukan ini, pemain harus cukup jeli melihat lokasi dari perspektif yang lebih jauh.

Pastikan tempat yang tepat untuk melempar tali sehingga bisa dinaiki dengan aman, dan cari celah jendela yang bisa dipecah sebagai akses masuk ke ruangan tempat pintu tersebut dikunci. Hal ini menjadi elemen yang cukup mewarnai mekanisme puzzle di The Last of Us Part 2 menjadi lebih menarik.

Di sepanjang permainan, pemain juga akan disuguhkan dengan puzzle klasik dengan metode number solving lewat sejumlah brankas. Namun, metode memecahkan puzzle ini cukup mudah karena pemain hanya perlu menemukan clue di lokasi terdekat brankas tersebut, entah itu lewat dokumen yang didapatkan atau tulisan di dinding lokasi.

 

Gerakan Karakter yang Lebih Lincah

The Last of Us Part 2 menawarkan kontrol baru yang membuat pergerakan karakter menjadi lebih agresif. Jika di seri pertama pemain hanya bisa melakukan crouch (menunduk), di seri kedua, pemain akan bisa melakukan prone (tiarap) untuk menghindari musuh. Kehadiran elemen seperti rerumputan dan ilalang di sini juga mendukung pergerakan prone karakter agar tidak terlihat.

Karakter juga bisa melakukan loncat dengan menekan tombol ‘X’. Namun, loncatan di sini tidak berfungsi sebagai loncat pada konsep platformer yang diusung franchise Uncharted. Pemain bisa membuat karakter meloncat hanya jika karakter menemukan gap yang tidak terlalu jauh.

 

Fitur Aksesibilitas

Salah satu peningkatan yang hadir di The Last of Us Part 2 dibanding seri pertamanya adalah adanya fitur aksesibilitas. Dengan kehadiran lebih dari 60 fitur aksesibilitas, The Last of Us 2 mampu menghadirkan pengalaman bermain yang bisa diperluas ke cakupan pemain dengan disabilitas.

Dengan demikian, pengalaman bermain gim bisa dikatakan lebih inklusif dan dapat dirasakan oleh seluruh kalangan pemain.

Adapun beberapa fitur yang hadir di aksesibilitas seperti kehadiran fitur narasi ketika gamer akan melakukan aksi, sistem save/load, isyarat audio saat bermain, serta sistem auto-aim di dalam gim yang memudahkan pemain tunanetra.

Comment 0